Blue

Blue

Kamis, 27 Agustus 2015

Aku dan Aku Sebagai Musuh Terbesarku

Hampir setahun lalu saat pertama kali aku mengetahui nama dosen pembimbing skripsiku. Beliau seorang Prof. dan sudah lama aku mengaguminya. Tapi saat aku mengetahui bahwa aku menjadi mahasiswa yang akan dibimbing oleh beliau, air mataku menetes dan kekhawatiran mendera semua sudut pikiranku.

"Kenapa harus aku? Kenapa, kenapa dan kenapa?" aku melontarkan pertanyaan itu berkali-kali.

"Bagaimana jika begini?"

"Bagaimana jika begitu?" Aku benar-benar menjadi sigusar hati.

Lalu aku mulai mempelajari semua kondisi yang muncul dihadapanku, hari lepas hari selama aku menerima bimbingan dari beliau. Semua hal terasa luar biasa, dan aku semakin mengagumi pola berpikir beliau. Kreatif dan inovatif. 
***

Jatuh dan bangun berkali-kali, itu yang kumiliki selama proses pengerjaan skripsi demi gelar sarjanaku. Berkali-kali aku jatuh dalam ketakutan-ketakutan dari dalam diriku, dan dengan segenap kesadaran akalku, permohonan kekuatan daripada-Nya kunaikkan tanpa henti.

Saat aku berhasil melawan ketakutan-ketakutanku, tiba-tiba saja aku jatuh dalam mental seorang yang gagal. Seorang yang merasa gagal. Bagaimana tidak? Teman-temanku sudah sidang. Sudah meraih gelar Sarjananya, sementara aku? Aku belum juga melaksanakan penelitianku dikarenakan libur sekolah dilanjut dengan libur puasa dan lebaran hingga sekitar 6 minggu. Setiap menit kugunakan untuk merepleksi diri, dan berjuang keluar dari penjara pikiranku tentang kegagalanku. 

"Kita bisa mengejar sidang detik-detik terakhir."

Itulah kesepakatan yang akhirnya kupegang bersama diriku sendiri, untuk aku bisa bangkit lagi. Kemudian tahun ajaran baru dimulai. Selama 2 minggu penuh aku mengerjakan penelitianku. Setiap hari tanpa henti, berpindah dari satu sekolah kesekolah yang lain lalu mengakhiri perjalan hari itu kekampus sebelum kemudian kembali ke kost dan mulai menyentuh data-data penelitianku. Hari-hari yang panjang. Hari-hari yang sibuk mengingat populasi penelitianku adalah siswa kelas IX di SMP Negri se-Kota Medan. Hari-hari yang membuatku lupa bahwa kesehatanku mulai terabaikan. Aku lupa kesehatan sebagai hal penting, aku berfokus pada keinginan untuk mengejar deadline sidang. Aku lupa bahwa mengerjakan dengan benar jauh lebih baik daripada mengerjakannya secara membabi buta.

Minggu berikutnya demam menemani hari-hariku. Seminggu penuh tidak dapat melakukan apa-apa. Seminggu untuk kembali berdamai dengan pikiran dan hatiku. Menata ulang program pribadiku. Lalu aku mulai menyadari bahwa pentingnya gelar sarjana tidak sepenting kesehatanku. Katakanlah sebuah nama dengan gelar yang luar biasa tapi nama itu tinggallah nama saat pemiliknya sudah tiada. Bahkan jika pemilik nama itu sudah tidak produktif lagi untuk mendonasikan gagasan dan kemampuannya bukankah nam dan gelar mulai tidak berarti apa-apa?

Lalu aku memilih kesehatanku dan mengerjakan tugas akhir sesuai dengan standar kemampuanku sambil terus menggunakan seluruh inderaku untuk memperhatikan sekitarku, siapa tau aku dibutuhkan untuk membantu seseorang dan menjadi berkat.

Akhirnya inderaku menangkap beberapa sinyal permintaan bantuan, alih-alih membantu aku yang menjadi musuh bagi diriku sendiri malah tanpa sadar sudah menjebak orang yang kubantu dengan memberikan dua pilihan kepadanya. Katakanlah kamu dengan seorang teman akan menyebarangi sebuah sungai yang tingginya hanya selutut. Disana ada jembatan, hanya saja jembatan itu terlihat baik digunakan namun sebenarnya  mulai goyang dan ditumbuhi semak berduri. Akankah kamu membawa temanmu menyebrangi sungai lewat jembatan tersebut? Sementara pilihan berikutnya kamu dengan temanmu dapat menyebrangi sungai dengan masuk kedalamnya. Sekalipun kalian akan ditekan arus sedikit demi sedikit, dan temanmu belum tahu bagaimana kondisi sungai itu bukankah sedikit banyaknya kamu bisa mencari tahu? Dari pada membiarkannya memilih sendiri hingga akhirnya dia lebih memilih jembatan yang terlihat baik hanya karena ketakutannya terhadap arus sungai yang tidak pasti. 

Itulah yang kulakukan, aku membiarkan temanku memilih jembatan itu. Berada di zona nyamannya. Hingga akhirnya sekarang dia berdiri ditengah jembatan, dan aku tersadar seperti terbangun dalam mimpiku. Menyadari betapa jahatnya aku sebagai seorang teman. Alih-alih menjadi berkat aku malah nyaris jadi batu sandungan. Akhirnya aku memutuskan untuk menjemput temanku dari tengah jembatan, membawanya menyebrangi sungai dan membantunya hingga tiba diseberang. Meskipun bukan aku melainkan dialah yang telah memilih jembatan namun aku tetap diposisi yang layak dipersalahkan, karena aku tidak memperjelas kepada temanku mana bahaya yang sesungguhnya. Bukankah jika kami memilih menyebrangi sungai setinggi lutut itu masih banyak cara baik yang dapat ditempuh tanpa harus menggunakan jembatana goyah bersemak duri yang terlihat baik namun menyimpan ancaman bahaya disetiap incinya? Toh kami masih bisa membuat rakit bersama-sama jika kami masih takut akan bahaya dari dalam air sungai itu.

***
Betapa aku benar-benar adalah musuh terbesarku. Sekuat apapun keinginanku untuk menghindari hal-hal yang tidak benar aku masih bisa terjebak di dalamnya. Namun hal yang luar biasa adalah Penciptaku yang senantiasa membangunkanku dari kesalahan-kesalahanku yang terasa nyaman, dan menuntun aku keluar dari sana.

Akhirnya semua tentang pengerjaan skripsi ini memberikan banyak pelajaran berharga padaku. Tentang menjadi diri-sendiri, berdiri diatas kakiku sendiri, dan menjunjung tinggi kejujuran di dalamnya. Walau tidak secepat proses orang lain.