Kesiangan, kuliah, kampus, terburu-buru, telat. Yap... perfect... Mungkin kebiasaan bangun kesiangan benar-benar akan menjadi salah satu masalah besar dalam hidupku. Aku melirik jam digital di layar telepon genggamku. 10.00. oooh.. Astaga. Seharusnya hari ini perkuliahan dimulai pukul 09.40 dan pada kenyataan yang terjadi aku masih di sini. Melangkah setapak demi setapak di bawah kehijauan pepohonan yang tertata rapi di tepi trotoar jalan kampus. Lalu aku mengubah haluan ke kanan, dan sedikit lagi aku akan tiba di ruangan perkuliahan tepatnya 12.01.07.
Setibanya di ambang pintu aku tersenyum lebar.
"Huuuuft..." Lega rasanya. aku sudah terlambat hampir 30 menit sementara Sang dosen masih lebih terlambat dibanding dengan keterlambatanku. Suatu peristiwa yang kebetulan menyelamatkanku dari kejadian memalukan hari ini. Seketika aku melangkah masuk kedalam ruangan dan mencari tempat duduk paling nyaman, lebih tepatnya di barisan paling belakang yang diisi oleh manusia dan harus dekat dengan kaca jendela. Posisi ini akan memudahkanku untuk menjelajahi dunia imajinasiku, yang pastinya jauh lebih menyenangkan daripada harus mendengarkan penjelasan dari teman-temanku yang akan mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka hari ini.
lalu seperti yang kau tahu sepanjang kelas akupun duduk melamun di sana.
begitulah hidupku 5 tahun lalu, ketika kupikir patah hati terbesarku sedang terjadi.
***
panggil saja aku Lala. kurasa akan lebih baik jika tidak kudefenisikan karakterku. sekarang sudah tahun 2019. dan aku masih saja gadis yang suka terlambat sekian menit. padahal sejak tahun 2015 kebiasaan itu mulai terkikis. namun semenjak aku terdampar di tempat ini penyakit lamaku kambuh lagi. bahkan lebih parah. pernah beberapa kali aku terlambat hingga 90 menit. lalu dimana aku sekarang?
masih tetap jadi mahasiswa. namun dengan tingkat yang berbeda. di sebuah kota yang tidak akan kalian temui di Indonesia.
tempat baru.
ya..
budaya baru. teman. tantangan. semua baru. termasuk pola tidurku.
seminggu di sini aku mengalami shock culture. sampai hampir setengah tahun. durasi home sick dan shock culture yang kualami lumayan panjang.
keluar dari zona nyaman sungguh menjadi tantangan hidup yang tidak mudah.
memilih study di tingkatan yang lebih tinggi telah memberikan banyak didikan bagiku secara pribadi.
dimulai dari tantangan bahasa disusul dengan basic ilmu yang kuperoleh di tempat terdahulu sampai pada tantangan untuk menjaga lingkungan sosialku.
namun satu hal yang aku syukuri. sejatinya hasil, tidak akan pernah menghianati proses.
ada masa-masa sangat rindu pulang ke kampung halaman.
juga malam-malam penuh air mata karena kesulitan-kesulitan dalam belajar.
eksperimen yang gagal sepanjang semester.
nilai ujian yang tidak sesuai harapan sampai kepada tantangan untuk berdamai dengan diri sendiri.
harapan yang sama selalu kututurkan pada diri sendiri. bahwa besok ketika aku terbangun hidup akan lebih baik.
Dan sekarang aku masih di sini, jalan setapak menuju ruangan kelas. Kuburu langkah kakiku, dan akhirnya aku tiba di lab, terlambat 45 menit dari office hour laboratorium.
"Good morning guys." aku menyapa teman-temanku.
"Morning." sahut lelaki yang duduk disudut ruangan. Panggil saja dia Ken. Lelaki dengan tinggi 170 cm, kulit putih dan mata sipit yang dibingkai kaca mata minus.
"Hmmm... Kau selalu terlambat. Dasar malas." ledek lelaki lain, yang posisi mejanya tepat bersebelahan denganku. Namanya King.
"Aku masih sangat mengantuk." jawabku singkat.
"Dasar gadis pemalas." ledeknya lagi, sambil berlalu meninggalkan kursinya dan kembali ke meja praktikum.
"apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanyaku sambil berlari kecil mengikutinya.
"Tentu saja belajar." jawabnya acuh. Berhasil membuatku kembali kemejaku dengan perasaan sedih.
Sebagai pendatang, dengan modal bahasa yang berantakan dan basic pengetahuan yang jauh ketinggalan aku benar-benar kewalahan mengejar kemampuan belajar mereka.
"Ken, bisa ajari aku hari ini?" ucapku seraya melangkah ke meja yang lain.
"Call. Just follow me." jawabnya santai.
akhirnya kami mulai belajar. Memurnikan protein.
Waktu menunjukkan pukul 16.00 dan aku sudah merasa pusing dengan pelajaran yang hari ini dibagikan oleh Ken. Dengan wajah lelah aku membaca jurnal sambil bersantai di meja kerjaku.
"La, ikut aku." ajak King sambil mmemegang kepalaku. Kebiasaan yang selalu dilakukan oleh para lelaki diruangan ini adalah memegang kepalaku.
"Hmmm..." sahutku singkat seraya berdiri dan mengekor langkahnya.
Lalu kami tiba di sini, ruang culture. Dia mulai bekerja membersihkan air flow, dan memasukkan satu persatu alat yang dia perlukan ke dalam air flow. Dan aku mencoba membantunya.
"lala, kalau mau belajar dengan Ken, silahkan. Tapi setelah itu jangan belajar denganku." ucapnya dingin.
"What?" tanyaku ragu.
"Kamu pilih dia atau aku?" tanya nya kemudian.
"Aku mau belajar sama kamu aja." jawabku
"Artinya mulai besok jangan pergi belajar sama anak yang lainnya." tuntutnya.
"Okay."
Begitulah akhirnya sampai kini di semester terakhirku, aku masih menempel pada King. Mengikuti dia kemanapun. Dan dia juga standby menjagaku. Saat aku sakit dia yang akan membawaku kedokter. Memastikan ku mengkonsumsi semua obat. Menghukum ku jika nilai ujian ku rendah. Memarahiku jika aku tidak dapat menjawab pertanyaan dosen, tapi melindungi ku ketika dosen marah. Berkali-kali aku berpikir, andai aku tidak bertemu King, bagaimana aku bertahan ditempat ini? King adalah arah berlari ku dalam keadaan tersulit sekalipun. Tapi sampai hari ini kami hanya teman.
***
Kita lagi makan siang, beramai-ramai. Semua personil Lab. Lengkap 13 orang.
"Aku mau ngajarin kamu sebuah lagu." ucap King kemudian.
"Apa?"
Seketika dia menulis beberapa kata yang asing bagiku, tentu saja dalam bahasa nasional negaranya. Lalu dia menyanyikannya. Lalu menyuruhku mengikuti dia.
"Can you tell me, what is the meaning of this lyric?" tanyaku akhirnya.
"Jika aku jadi pelangi, aku akan menghiasi harimu dengan warna yang indah. Aku ingin jadi pelangi untukmu karena aku begitu mencintaimu. Aku hanya ingin kau tahu." sebait kalimat yang dia tuliskan di kertas. Aku membacanya tanpa sedikitpun rasa curiga.
Hari berikutnya, King menggenggam tanganku dan bertanya, "dimasa depan, maukah kau tetap menjadi masalahku? Sekalipun kau kembali kenegaramu, bolehkah aku tetap menjagamu? Seperti saat kau disini. Aku akan sangat merindukanmu la."
"No. kamu gak bakalan rindu padaku. Hidupmu, masa depanmu, kebahagian mu semua ada di sini. Ini rumahmu." ucapku lirih, menyadari ada bagian yang pedih dalam hatiku.
"La, katamu Tuhan itu baik?"
"Ya."
"Kenapa Tuhan pertemukan kita untuk akhirnya memisahkan kita la?"
"Hmmmm..."
"Waktu yang kulalui bersamamu membuatku percaya akan keberadaan Tuhan. Masih ingatkan La, bagaimana aku gak percaya sama Tuhan?"
"Yes."
"Aku akan sangat merindukanmu." katanya lagi.
"Aku yang akan sangat merindukanmu. Lebih dari kamu merindukanku." jawabku sedih.
"Tahan aku King, jangan biarkan aku pergi." ucapku dalam hati.
"Pulanglah, lakukan hal yang kamu senangi, dan hiduplah dengan bahagia." ucapnya sambil memelukku.
"But, i wanna stay." jawabku.
"Pulanglah, kau harus bahagia. Jangan membuatku khawatir. Setelah kita lulus nanti, aku harus fokus mencari pekerjaan. aku belum punya kekuatan untuk melindungi mu di sini." ucapnya lembut.
Aku memilih diam sambil melempar pandanganku menjauh.
"King, selama aku disini kau sudah menjadi rumahku. Bagaimana aku bisa pulang ke arah lain? Sementara rumah bagiku adalah kamu." ucapku dalam bisu.
King tidak mendengar, ucapan dalam kebisuan ku. Dan aku Tuli akan perasaanku selama ini. Andai kudengar hatiku, akan kupilih menetap di sini, tanah yang sama dengan King.
***
-King, aku rindu. Kupastikan untuk pulang, menemuimu.-
Dan sekarang aku masih di sini, jalan setapak menuju ruangan kelas. Kuburu langkah kakiku, dan akhirnya aku tiba di lab, terlambat 45 menit dari office hour laboratorium.
"Good morning guys." aku menyapa teman-temanku.
"Morning." sahut lelaki yang duduk disudut ruangan. Panggil saja dia Ken. Lelaki dengan tinggi 170 cm, kulit putih dan mata sipit yang dibingkai kaca mata minus.
"Hmmm... Kau selalu terlambat. Dasar malas." ledek lelaki lain, yang posisi mejanya tepat bersebelahan denganku. Namanya King.
"Aku masih sangat mengantuk." jawabku singkat.
"Dasar gadis pemalas." ledeknya lagi, sambil berlalu meninggalkan kursinya dan kembali ke meja praktikum.
"apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanyaku sambil berlari kecil mengikutinya.
"Tentu saja belajar." jawabnya acuh. Berhasil membuatku kembali kemejaku dengan perasaan sedih.
Sebagai pendatang, dengan modal bahasa yang berantakan dan basic pengetahuan yang jauh ketinggalan aku benar-benar kewalahan mengejar kemampuan belajar mereka.
"Ken, bisa ajari aku hari ini?" ucapku seraya melangkah ke meja yang lain.
"Call. Just follow me." jawabnya santai.
akhirnya kami mulai belajar. Memurnikan protein.
Waktu menunjukkan pukul 16.00 dan aku sudah merasa pusing dengan pelajaran yang hari ini dibagikan oleh Ken. Dengan wajah lelah aku membaca jurnal sambil bersantai di meja kerjaku.
"La, ikut aku." ajak King sambil mmemegang kepalaku. Kebiasaan yang selalu dilakukan oleh para lelaki diruangan ini adalah memegang kepalaku.
"Hmmm..." sahutku singkat seraya berdiri dan mengekor langkahnya.
Lalu kami tiba di sini, ruang culture. Dia mulai bekerja membersihkan air flow, dan memasukkan satu persatu alat yang dia perlukan ke dalam air flow. Dan aku mencoba membantunya.
"lala, kalau mau belajar dengan Ken, silahkan. Tapi setelah itu jangan belajar denganku." ucapnya dingin.
"What?" tanyaku ragu.
"Kamu pilih dia atau aku?" tanya nya kemudian.
"Aku mau belajar sama kamu aja." jawabku
"Artinya mulai besok jangan pergi belajar sama anak yang lainnya." tuntutnya.
"Okay."
Begitulah akhirnya sampai kini di semester terakhirku, aku masih menempel pada King. Mengikuti dia kemanapun. Dan dia juga standby menjagaku. Saat aku sakit dia yang akan membawaku kedokter. Memastikan ku mengkonsumsi semua obat. Menghukum ku jika nilai ujian ku rendah. Memarahiku jika aku tidak dapat menjawab pertanyaan dosen, tapi melindungi ku ketika dosen marah. Berkali-kali aku berpikir, andai aku tidak bertemu King, bagaimana aku bertahan ditempat ini? King adalah arah berlari ku dalam keadaan tersulit sekalipun. Tapi sampai hari ini kami hanya teman.
***
Kita lagi makan siang, beramai-ramai. Semua personil Lab. Lengkap 13 orang.
"Aku mau ngajarin kamu sebuah lagu." ucap King kemudian.
"Apa?"
Seketika dia menulis beberapa kata yang asing bagiku, tentu saja dalam bahasa nasional negaranya. Lalu dia menyanyikannya. Lalu menyuruhku mengikuti dia.
"Can you tell me, what is the meaning of this lyric?" tanyaku akhirnya.
"Jika aku jadi pelangi, aku akan menghiasi harimu dengan warna yang indah. Aku ingin jadi pelangi untukmu karena aku begitu mencintaimu. Aku hanya ingin kau tahu." sebait kalimat yang dia tuliskan di kertas. Aku membacanya tanpa sedikitpun rasa curiga.
Hari berikutnya, King menggenggam tanganku dan bertanya, "dimasa depan, maukah kau tetap menjadi masalahku? Sekalipun kau kembali kenegaramu, bolehkah aku tetap menjagamu? Seperti saat kau disini. Aku akan sangat merindukanmu la."
"No. kamu gak bakalan rindu padaku. Hidupmu, masa depanmu, kebahagian mu semua ada di sini. Ini rumahmu." ucapku lirih, menyadari ada bagian yang pedih dalam hatiku.
"La, katamu Tuhan itu baik?"
"Ya."
"Kenapa Tuhan pertemukan kita untuk akhirnya memisahkan kita la?"
"Hmmmm..."
"Waktu yang kulalui bersamamu membuatku percaya akan keberadaan Tuhan. Masih ingatkan La, bagaimana aku gak percaya sama Tuhan?"
"Yes."
"Aku akan sangat merindukanmu." katanya lagi.
"Aku yang akan sangat merindukanmu. Lebih dari kamu merindukanku." jawabku sedih.
"Tahan aku King, jangan biarkan aku pergi." ucapku dalam hati.
"Pulanglah, lakukan hal yang kamu senangi, dan hiduplah dengan bahagia." ucapnya sambil memelukku.
"But, i wanna stay." jawabku.
"Pulanglah, kau harus bahagia. Jangan membuatku khawatir. Setelah kita lulus nanti, aku harus fokus mencari pekerjaan. aku belum punya kekuatan untuk melindungi mu di sini." ucapnya lembut.
Aku memilih diam sambil melempar pandanganku menjauh.
"King, selama aku disini kau sudah menjadi rumahku. Bagaimana aku bisa pulang ke arah lain? Sementara rumah bagiku adalah kamu." ucapku dalam bisu.
King tidak mendengar, ucapan dalam kebisuan ku. Dan aku Tuli akan perasaanku selama ini. Andai kudengar hatiku, akan kupilih menetap di sini, tanah yang sama dengan King.
***
-King, aku rindu. Kupastikan untuk pulang, menemuimu.-