Blue

Blue

Rabu, 22 Januari 2020

Irama Yang Menjadi Utaian Melody yang Di Dengar Si Tuli Rasa

Kesiangan, kuliah, kampus, terburu-buru, telat. Yap... perfect... Mungkin kebiasaan bangun kesiangan benar-benar akan menjadi salah satu masalah besar dalam hidupku. Aku melirik jam digital di layar telepon genggamku. 10.00. oooh.. Astaga. Seharusnya hari ini perkuliahan dimulai pukul 09.40 dan pada kenyataan yang terjadi aku masih di sini. Melangkah setapak demi setapak di bawah kehijauan pepohonan yang tertata rapi di tepi trotoar jalan kampus. Lalu aku mengubah haluan ke kanan, dan sedikit lagi aku akan tiba di ruangan perkuliahan tepatnya 12.01.07. 
Setibanya di ambang pintu aku tersenyum lebar.
"Huuuuft..." Lega rasanya. aku sudah terlambat hampir 30 menit sementara Sang dosen masih lebih terlambat dibanding dengan keterlambatanku. Suatu peristiwa yang kebetulan menyelamatkanku dari kejadian memalukan hari ini. Seketika aku melangkah masuk kedalam ruangan dan mencari tempat duduk paling nyaman, lebih tepatnya di barisan paling belakang yang diisi oleh manusia dan harus dekat dengan kaca jendela. Posisi ini akan memudahkanku untuk  menjelajahi dunia imajinasiku, yang pastinya jauh lebih menyenangkan daripada harus mendengarkan penjelasan dari teman-temanku yang akan mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka hari ini.
lalu seperti yang kau tahu sepanjang kelas akupun duduk melamun di sana.

begitulah hidupku 5 tahun lalu, ketika kupikir patah hati terbesarku sedang terjadi.

***
panggil saja aku Lala. kurasa akan lebih baik jika tidak kudefenisikan karakterku. sekarang sudah tahun 2019. dan aku masih saja gadis yang suka terlambat sekian menit. padahal sejak tahun 2015 kebiasaan itu mulai terkikis. namun semenjak aku terdampar di tempat ini penyakit lamaku kambuh lagi. bahkan lebih parah. pernah beberapa kali aku terlambat hingga 90 menit. lalu dimana aku sekarang?


masih tetap jadi mahasiswa. namun dengan tingkat yang berbeda. di sebuah kota yang tidak akan kalian temui di Indonesia. 

tempat baru. 

ya..

budaya baru. teman. tantangan. semua baru. termasuk pola tidurku.

seminggu di sini aku mengalami shock culture. sampai hampir setengah tahun. durasi home sick dan shock culture yang kualami lumayan panjang.

keluar dari zona nyaman sungguh menjadi tantangan hidup yang tidak mudah.

memilih study di tingkatan yang lebih tinggi telah memberikan banyak didikan bagiku secara pribadi.

dimulai dari tantangan bahasa disusul dengan basic ilmu yang kuperoleh di tempat terdahulu sampai pada tantangan untuk menjaga lingkungan sosialku.


namun satu hal yang aku syukuri. sejatinya hasil, tidak akan pernah menghianati proses. 

ada masa-masa sangat rindu pulang ke kampung halaman.

juga malam-malam penuh air mata karena kesulitan-kesulitan dalam belajar.

eksperimen yang gagal sepanjang semester.

nilai ujian yang tidak sesuai harapan sampai kepada tantangan untuk berdamai dengan diri sendiri.

harapan yang sama selalu kututurkan pada diri sendiri. bahwa besok ketika aku terbangun hidup akan lebih baik.

Dan sekarang aku masih di sini, jalan setapak menuju ruangan kelas. Kuburu langkah kakiku, dan akhirnya aku tiba di lab, terlambat 45 menit dari office hour laboratorium.

"Good morning guys." aku menyapa teman-temanku.

"Morning." sahut lelaki yang duduk disudut ruangan. Panggil saja dia Ken. Lelaki dengan tinggi 170 cm, kulit putih dan mata sipit yang dibingkai kaca mata minus.

"Hmmm... Kau selalu terlambat. Dasar malas." ledek lelaki lain, yang posisi mejanya tepat bersebelahan denganku. Namanya King.

"Aku masih sangat mengantuk." jawabku singkat.

"Dasar gadis pemalas." ledeknya lagi, sambil berlalu meninggalkan kursinya dan kembali ke meja praktikum.

"apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanyaku sambil berlari kecil mengikutinya.

"Tentu saja belajar." jawabnya acuh. Berhasil membuatku kembali kemejaku dengan perasaan sedih.

Sebagai pendatang, dengan modal bahasa yang berantakan dan basic pengetahuan yang jauh ketinggalan aku benar-benar kewalahan mengejar kemampuan belajar mereka.


"Ken, bisa ajari aku hari ini?" ucapku seraya melangkah ke meja yang lain.

"Call. Just follow me." jawabnya santai.

akhirnya kami mulai belajar. Memurnikan protein.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 dan aku sudah merasa pusing dengan pelajaran yang hari ini dibagikan oleh Ken. Dengan wajah lelah aku membaca jurnal sambil bersantai di meja kerjaku.

"La, ikut aku." ajak King sambil mmemegang kepalaku. Kebiasaan yang selalu dilakukan oleh para lelaki diruangan ini adalah memegang kepalaku.

"Hmmm..." sahutku singkat seraya berdiri dan mengekor langkahnya.

Lalu kami tiba di sini, ruang culture. Dia mulai bekerja membersihkan air flow, dan memasukkan satu persatu alat yang dia perlukan ke dalam air flow. Dan aku mencoba membantunya.

"lala, kalau mau belajar dengan Ken, silahkan. Tapi setelah itu jangan belajar denganku." ucapnya dingin.

"What?" tanyaku ragu.

"Kamu pilih dia atau aku?" tanya nya kemudian.

"Aku mau belajar sama kamu aja." jawabku

"Artinya mulai besok jangan pergi belajar sama anak yang lainnya." tuntutnya.

"Okay."

Begitulah akhirnya sampai kini di semester terakhirku, aku masih menempel pada King. Mengikuti dia kemanapun. Dan dia juga standby menjagaku. Saat aku sakit dia yang akan membawaku kedokter. Memastikan ku mengkonsumsi semua obat. Menghukum ku jika nilai ujian ku rendah. Memarahiku jika aku tidak dapat menjawab pertanyaan dosen, tapi melindungi ku ketika dosen marah. Berkali-kali aku berpikir, andai aku tidak bertemu King, bagaimana aku bertahan ditempat ini? King adalah arah berlari ku dalam keadaan tersulit sekalipun. Tapi sampai hari ini kami hanya teman.

***

Kita lagi makan siang, beramai-ramai. Semua personil Lab. Lengkap 13 orang.

"Aku mau ngajarin kamu sebuah lagu." ucap King kemudian.

"Apa?"

Seketika dia menulis beberapa kata yang asing bagiku, tentu saja dalam bahasa nasional negaranya. Lalu dia menyanyikannya. Lalu menyuruhku mengikuti dia.


"Can you tell me, what is the meaning of this lyric?" tanyaku akhirnya.


"Jika aku jadi pelangi, aku akan menghiasi harimu dengan warna yang indah. Aku ingin jadi pelangi untukmu karena aku begitu mencintaimu. Aku hanya ingin kau tahu." sebait kalimat yang dia tuliskan di kertas. Aku membacanya tanpa sedikitpun rasa curiga.

Hari berikutnya, King menggenggam tanganku dan bertanya, "dimasa depan, maukah kau tetap menjadi masalahku? Sekalipun kau kembali kenegaramu, bolehkah aku tetap menjagamu? Seperti saat kau disini. Aku akan sangat merindukanmu la."

"No. kamu gak bakalan rindu padaku. Hidupmu, masa depanmu, kebahagian mu semua ada di sini. Ini rumahmu." ucapku lirih, menyadari ada bagian yang pedih dalam hatiku.

"La, katamu Tuhan itu baik?"

"Ya."

"Kenapa Tuhan pertemukan kita untuk akhirnya memisahkan kita la?"

"Hmmmm..."

"Waktu yang kulalui bersamamu membuatku percaya akan keberadaan Tuhan. Masih ingatkan La, bagaimana aku gak percaya sama Tuhan?"

"Yes."

"Aku akan sangat merindukanmu." katanya lagi.

"Aku yang akan sangat merindukanmu. Lebih dari kamu merindukanku." jawabku sedih.

"Tahan aku King, jangan biarkan aku pergi." ucapku dalam hati.

"Pulanglah, lakukan hal yang kamu senangi, dan hiduplah dengan bahagia." ucapnya sambil memelukku.

"But, i wanna stay." jawabku.

"Pulanglah, kau harus bahagia. Jangan membuatku khawatir. Setelah kita lulus nanti, aku harus fokus mencari pekerjaan. aku belum punya kekuatan untuk melindungi mu di sini." ucapnya lembut.

Aku memilih diam sambil melempar pandanganku menjauh.


"King, selama aku disini kau sudah menjadi rumahku. Bagaimana aku bisa pulang ke arah lain? Sementara rumah bagiku adalah kamu." ucapku dalam bisu.

King tidak mendengar, ucapan dalam kebisuan ku. Dan aku Tuli akan perasaanku selama ini. Andai kudengar hatiku, akan kupilih menetap di sini, tanah yang sama dengan King.

***

-King, aku rindu. Kupastikan untuk pulang, menemuimu.-



  

Rabu, 20 Juli 2016

Aku-pun Rindu

Memecah rindu di ujung ragu
Berharap sosok tempat mengadu
Memang hening dalam suara namum tidak dalam kata.

Kau tahu?
Bahkan amukan badai ditengah laut tidaklah lebih besar dari senandung rindu.
Bukan alay, tapi kenyataan.
Tanyakan saja pada mereka yang merindu, pasti mereka tahu.
Bahwa rindu bisa begitu merdu, juga begitu tabu.
Bahkan nyanyiannya bisa memecah telingamu.

Mengapa kau tersenyum begitu?
Apakah kau dustai hatimu?
Berkata di sana tidak ada rindu.
Ahhh... yang benar saja tidak ada rindu.
Lalu, apa yang kau tata itu?
Ketika fajar meninggalkan gelap. dan malam melepas senja,
kau masih saja sibuk.

Ada rindu bertahta di hatimu, maka kau terus begitu.
Setidaknya kau merindukan besok.
bahwa besok akan menepis hari berganti.
hari menjadi lebih baik lagi.
walau dihari itu belum tentu ada aku.
Tapi tetap saja kau rindukan hari itu.


Jika memang tidak ada rindu,
maka untuk apa semua lelahmu?
Masihkah kau ingkari kata-kataku?

Mengakulah saja pada hatimu,
bahwa engkau adalah manusia yang sangat merindu akan masa depanmu..
Kuberitahu kenyataan ini padamu, karena aku-pun begitu rindu..
Merindu akan masa depanku..
Mimpi-mimpi yang selalu kukisahkan kepada Sang Penciptaku sepanjang waktu.

Minggu, 03 Juli 2016

Dipelihara

Minggu, 03 Juli 2016
12.00

Aku pulang ibadah diantar oleh seorang teman dengan mengendarai sepeda motor. Setibanya di kos aku melihat pintu depan kosku digembok dari luar. Aku mencoba menghubungi ibu kos. Mengirim pesan berkali-kali. Namun tidak ada respon, sampai akhirnya kuputuskan merogoh isi tasku. Uang yang kubawa tersisa Rp.8000,00.

Karena segan merepotkan, akhirnya kuputuskan untuk menyarankan temanku pulang. Lalu aku mulai menghubungi seorang teman dekatku yang tinggal di jl. Tuamang.
"gue kekos k Jeje aja deh, ntar gue recokin dapurnya terus makan siang di sana." batinku.

Lalu aku menghubungi nomornya, berkali-kali dan tidak ada respon. Aku mulai kebingungan, karena lelah berdiri akhirnya kuputuskan untuk duduk diatas meja. Tiba-tiba aku ingat seseorang yang sering kami repotkan.

Ada seorang abang-abang, tetangga disekitar kosku. Sebut saja namanya abang X. aku pergi kerumah abang x, dan sambil memasang wajah bingung nan polos aku mulai bercerita.

"bang... aku terkunci diluar."
"kenapa dek?"
"panjang ceritanya bang, aku pengen pergi kerumah teman sih bang, tapi aku gak tenang ninggalin kos-kosan."
"kenapa dek?"
"takut kalau dari lantai 4 nggak semua pintu terkunci, sementara aku lupa nyimpan leptopku tadi bang."
"ia kan dek, pernah juga kejadian maling masuk dari lantai 4 kekos kalian kan?"
"ia makanya itu bang."
"ia udah kita disini aja dek."

Akhirnya kami nongrong di depan rumah abang itu, sekalian memantau kos ku, kali aja ada yang bongkar, atau bahkan tiba-tiba ada badman atau spiderman yang manjat dari lantai empat. 

Jadi ujung-ujungnya cerita ini aku masih nongkrong di depan rumah abang X hingga sekarang sudah 18.20.. Bersama beberapa abang-abang lain. Yahhh, hari ini beginilah Tuhan memelihara hidupku. Mengirimkan beberapa teman-teman untuk menemaniku memantau kos-kosan yang sedang kosong. Berteman itu hukumnya mudah "mengasihi dan dikasihi".

Aku memang hanya punya 2 saudara perempuan, tapi dibanyak kejadian Tuhan mengijinkan aku merasakan bagaimana memiliki saudara laki-laki. Berhubung abang X samaan marganya denganku.

Jumat, 01 Juli 2016

Kekuatanku

Aku memandangi dedaunan yang menari dipermainkan angin, sedang deru mesin dan kicau burung menjadi alunan yang menemani sepiku. Banyak hal yang sudah berlalu. Satu dua tiga bahkan lebih tantangan yang hadir sebagai pergumulan berkali-kali membawa lututku berdamai dengan lantai. Berdoa, ya berdoa lagi dan lagi. Tidak ada hal lain yang dapat kulakukan selain berdoa, berserah diri dan percaya.

Lalu aku keluar sejenak dari pikiranku, menikmati hamparan rumput hijau bak permadani yang tengah kududuki. Sedang langit diatas sana bercahaya terang dan aku selalu gagal melukiskan kekagumanku kepada Sang Pencipta. Tidak ada kata yang mampu melukiskan SosokNya. Dia teramat sangat dahsyat. Aku menemukan setiap ATP energiku di dalam-Nya bukan semata-mata dari apa yang dicerna tubuhku lalu mengalami proses metabolisme di dalam kumpulan sel-sel hidup.

Lebih dari itu, lebih dari sekedar sekumpulan sel yang bermetabolisme. Aku adalah sekumpulan sel hidup yang memperoleh kekuatan dari-Nya. Bukan hanya aku, setiap orang, setiap manusia Dia jadikan istimewa. Diberi anugrah memiliki lebih dari sekedar hidup. Dipercayakan kesempatan belajar dan berkarya. Menjadi maksimal sesuai dengan rancangan-Nya.

Dia adalah kekuatanku. Satu-satunya yang kupercaya dan kuandalkan. :) :)

Lalu aku mendengar lagu ini mengalun,
"Kekuatan di hidupku.. 
  ku dapat dalam Yesus..
  Dia tak pernah tinggalkanku..
  Setia menopangku..."


***
Namaku Tiwy, aku suka berdiam dengan pikiranku, mengagumi sekitarku dan Penciptanya. Kapanpun aku ingin aku mampu mendengar musik di dalam pikiranku bahkan ketika tidak ada yang benar-benar memutar musik.

Sabtu, 25 Juni 2016

Waktu

Hampir setahun gak nulis, untung kemarin ditelpon sama Bu Guru cantik...
Frau Dewi guru bhs. Jermanku waktu SMA..
Trus, ditanyain "apa kabar puisi-puisimu wy?"
Akhirnya aku pengen nulis lagi :)

***

Jika  itu tentang waktu, 
Kita selalu belajar untuk menggunakannnya.
Ketika itu juga berbicara waktu
Masih selalu ada yang gagal untuk menepatinya
Karena itu tentang waktu, jika berlalu maka tidak akan kembali.
Seperti bunga yang layu lalu mengering tidak akan segar kembali.

***
Seorang dosen yang mengajar di kelasku pernah berkata, "hidupmu adalah apa yang ada dihadapnmu saat ini, selain daripada itu hanya imajinasi."
Kisah fiksi ini munkgin terinsfirasi dari kalimat itu :)

***
Awal

 
 Studio ballet terlihat legang, hanya saja ada seorang gadis yang masih asik menari disana. Melompat, berjinjit, berputar, memadukan beberapa gerakan yang indah. Akhirnya setelah Poruette, dia melakukan perpaduan Arabeschques.

"Key... kurasa itu Arabeschques terindah yang pernah kulihat." Seorang gadis berambut ikat menjerit kegirangan membelakangi di pintu masuk studio.

"Kay selalu memberi komentar seperti itu setiap melihat Key latihan." Ujar gadis lainnya. Mereka benar-benar mirip, wajar saja mereka saudari kembar.

"Kali ini Key mendapatkan peran Gissele itu kan?"

"Iya Kay, kamu juga mendapatkan peran sebagai pengiring musiknya kan?"

"Yes, dan ada seseorang yang kurasa bermain piano dengan sangat bagus juga."

"oh, Ya? aku jadi penasaran sebagus apa dia." 

"Key akan segera tahu, dia juga menjadi pengiring latihan kalian, banyak kabar angin beredar bahwa dia itu anak Madam Chatrine, namun sangat tidak menyukai Ballet."

Lalu kedua kakak beradik itu berkemas, dan meninggalkan studio. Berakhirlah sudah latihan untuk hari ini.

***


Ruangan itu cukup temaram, wajar saja, sudah hampir pukul 10 malam, sementara listrik padam hanya sebatang lilin kecil diatas meja di pojokan berteman nyala api yang menari-narilah sumber penerang disana. Calvin, ya pria yang duduk di sudut ruangan itu, tepat di bawah meja singgasana sang lilin, melempar jauh pandangan kosongnya, menatap malam yang temaram di hadapannya. Sedang, telepon genggamnya mengalunkan Gissele gugahan Lovenskjold sang komposer Clasiccal Ballet. Tatapannya kian dingin. 

"Aku hanya tidak ingin melakukan itu." Gumanya, kemudian menghentikan alunan musik dari hanphone digenggamannya.

"Aku tidak ingin selamanya menjadi pianis pengiring sebuah pementasan ballet, aku ingin kembali ke panggung. Seorang pianis tanpa panggung bukan pianis." ujarnya meyakinkan dirinya sendiri.

Lalu dia berdiri, dan seketika ruangan itu menjadi gelap, sebab pria itu telah meniup nyala api yang memahkotai sang lilin. Kini yang tersisa hanyalah gelap dan hening yang menyelimuti ruangan berukuran 5x4 meter itu.

***

"Tap..tap..tap..tap" ketukan manual terdengar begitu nyaring dikumandangkan pelatih, Key dan rekan bergerak kian kemari. Ini plot "Pase de Deux" dari tarian mereka. Sementara waktu latihan sudah berlalu selama 30 menit, hanya saja mereka tidak menggunakan musik pengiring. Calvin, ya pria itu, entah angin apa yang membuatnya bisa terlambat hadir hari ini. Sementara ini latihan Pra Gladi dan besok mereka sudah harus tampil. 

"Kita break sebentar." Ujar Madam Chatrina.

Lalu wanita paruh baya itu mengeluarkan telepon genggamnya dan berusaha menghubungi Calvin. Nada di Telepon genggam menunjukkan bahwa ada sambungan namun tidak ada jawaban. Sekali lagi wanita itu mencoba menghubungi.

"Hallo..." Seseorang menjawab dari seberang.

"Calvin, kamu dimana?"

"Ma, berapa kali sih harus Calvin jelasin? Calvin nggak mau jadi pengiring pementasan ballet. Calvin mau Mama buat konser tunggal untuk Calvin."

"Calvin, ini perintah, segera kemari atau kamu saya pecat."

"Ya sudah Pecat saja Ma, masih ada siapa itu? Kay atau Key lah namanya. Dia saja yang bermain."

"Klik.." Lalu telepon dimatikan dari seberang.

"Calvin... Calvin..."

"Madam Chatrina, its everything right now?" Kay mendekatinya.

"Kita tidak mungkin melakukan pementasan ini tanpa Calvin... sekalipun kamu punya kenalan lain yang bisa menggantikan posisinya,, tidak propesional mengganti pengiring musik disaat pementasan sudah dalam hitungan jam sayang."

Mereka sama-sama terdiam.

***
Sementara itu dibalik pintu teater Calvin berdiri merenung, masih merenung seperti tadi, sebelum dia menerima telepon dari Madam Chatrine. 

"Untuk apa Mama, membiarkanku les piano sejak kecil jika akhirnya aku hanya jadi seorang pengiring ballet? kenapa tidak sekalian diajarin menari saja?"

Hening sejenak. Akhirnya dia memilih bersandar ke daun pintu.

"Sampai kapan Mama berniat menjadikanku bonekanya?" 

"AUGH..." Calvin menjerit setengah terkejut karena tiba-tiba saja pintu terbuka dan tubuhnya jatuh kebelakang.

"Calvin? Maaf..." Ujar wanita dibalik pintu.

"Madam Cathrine, Calvin disini."

"Kay... berisik lu, bisa diam gak sih."

"Kalau Madam tahu elo disini, dia gak bakal cemas lagi Calvin."

"Lo masuk aja yok." Kay menarik tangan Calvin, hingga ke panggung teater.

"Madam, He's here now..." Kay berteriak.

Seketika kegiatan dipanggung terhenti.

"Calvin, kamu ini apa-apan. Seenaknya saja datang terlambat, dari mana kamu?" 

"Ma, sampai kapan  Mama lebih peduli dengan pementasan Mama dibanding aku Ma?"

Semua pemeran jadi salah tingkah, saling memandang satu sama lain dan merasa canggung berada ditengah pertikaian Ibu-Anak itu.

"Mama, hanya peduli dengan murid-murid mama, gerakan mama, pementasan mama. Aku benci semua yang bernuansa Ballet Ma. Aku benci, karena Mama lebih mencintai Ballet daripada aku."

"Jadi itu alasan kamu benci bergabung di tim ini?" celetuk Kay. Seketika itu juga mata Key bereda melotot pada adiknya Kay. Hanya saja yang dipelototi tidak sadar

"Lo tau gak Vin, Madam menari buat orang-orang yang dia cintai, termasuk lo. Kalau Madam gak peduli sama Lo, bisa aja Madam ninggalin lo dari dulu. Elunya aja kali Vin, yang terlalu ambisi pengen manggung sendiri, makanya lo ngerasa rendah kan kalau menjadi pengiring?"

"Kay...!!" bentak Key akhirnya.

"Tenang aja Vin, jangan stres gitu dong. Hadapi aja apa yang bisa Lo hadapin hari ini, ntar juga ada waktunya kok buat lo ngejar mimpi-mimpimu itu."

"Apaan sih lo? siapa juga nyuruh lo nasihatin gue?"

"Vin, maaf" Akhirnya madam Chatrine angkat bicara.

"Maaf kalau Mama membuatmu merasa tertekan dan kecewa, mama tidak berniat seperti itu. Hanya saja sejauh ini hanya ini yang bisa mama lakukan untukmu. Kedepan mama akan berjuang lebih lagi."

"Ia tuh Vin... Maaf juga ye, gue cerewet kayak bebek dari tadi. Cuman kan gue juga gak setuju kalau lo marah-marah sama madam, apalagi sampai nyimpan dendam, famali Vin."

"Iya nak, Kay benar. Kamu tidak perlu terlalu khawatir memikirkan kariermu besok atau lusa. Kamu juga tidak perlu terlalu menyesali masa-masa yang telah berlalu, dan merasa gagal untuk itu. Hadapi saja hari ini dengan maksimal. Berkarya saja hari ini." Lalu madam Chatrine memeluk putra semata wayangnya.

Akhir
***
Pementasannnya sukses. Calvin dan Kay memang pemusik yang handal, dan kini mereka bergabung di sebuah tim orkestra pengiring Ballet. Calvin tidak lagi membenci musik Ballet, tidak lagi mengejar-ngejar hari esok dalam pikirannya, tidak lagi mendendami masa lalu dalam hatinya. Dia hanya belajar hidup dengan baik, dalam setiap waktu yang dia miliki.

***

Lagi
Seorang dosen yang mengajar di kelasku pernah berkata, "hidupmu adalah apa yang ada dihadapanmu saat ini, selain daripada itu hanya imajinasi."
Aku sering menggunakan kalimat itu untuk mengatur pikiranku. Kamu tahu teman? kita manusia sering menjadi aneh, sibuk mengenang masa lalu dan menghawatirkan masa depan sementara kita lupa mengerjakan apa yang harus kita hadapi saat ini. Mungkin begitulah akhirnya, kita banyak membuang waktu untuk memikirkan hal yang belum tentu penting.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Sepucuk Surat Untuk Tokoh Pemeran Utama dalam Kenangan Tokoh Yang Memiliki Karakter Sangat Egois

 Teruntuk kamu orang yang memiliki kisah bersama seseorang yang dalam penilaianmu bersifat sangat egois.

Dimanapun kamu berada aku (sebagai penulis) dan dia si egois itu berharap kamu sempat membaca tulisan ini, kapanpun itu. Jika kamu membaca tulisan ini, tolong jangan berhenti sampai tiba dikalimat terakhir. Tolong jangan mengumpat maupun mencaci.

Si egois yang belum dewasa itu juga seorang manusia yang punya perasaan.
Dia bisa terluka sama hal seperti dia bisa jatuh hati.

Si egois yang belum dewasa itu akhirnya jatuh cinta, dan karena perasaannya sangat dalam di mata orang yang belum memahaminya dia terlihat semakin egois.

Padahal dia hanya sangat menyayangi orang yang akhirnya membuatnya jatuh cinta, sayangnya sikap tidak dewasa diantara keduanya membuat mereka gagal untuk saling memahami.

Sosok yang telah membuat si egois jatuh hati memilih untuk menyerah. Entah dia sadar bahwa keputusan yang dia pilih tidak hanya sekedar membuat si egois hancur hatinya dan terluka, tapi juga kehilangan banyak hal dari dirinya.
Dimulai dari kehilangan kepercaaan diri yang membuatnya semakin menutup diri hingga orang menilainya sombong.
Lalu kehilangan konsentrasi, dan kehilangan keberanian untuk jatuh hati lagi.

Entah dia yang masih terlalu naif, atau cinta yang tengah mempermainkannya. Tapi pada kenyataan kehilangan orang yang dicintainya membuat hari-hari siegois hanya berteman air mata.

Sudah pernah ada titik dimana si egois juga sadar, bahwa dia butuh hidup untuk dirinya sendiri, hingga suatu hari dia menemukan suatu kegiatan yang bisa membuatnya konsentrasi lagi. Kegiatan itu tidak lain adalah menari.

Si egois yang sudah memiliki usia hampir kepala 2 itu pun memulai melibatkan dirinya dengan tarian. Dia menari, menari dan menari. Karena menari benar-benar membuatnya tidak dapat membagi konsentrasinya untuk memikirkan cinta.

Semakin sering dia habiskan waktu untuk menari, membuat waktu yang terbagi untuk memikirkan sosok yang membuatnya patah hati semakin berkurang.

Mengapresiasikan banyak emosi dalam gerakan tarian membuat si egois dapat merasakan banyak emosi lagi. Bukan hanya rasa tersakiti, namun dalam tarian ditemukannya juga raca cinta. Rasa cinta yang mengalir tanpa henti dari Sang Penciptanya.

Perlahan-lahan rasa cinta itu membuatnya kembali hidup, mengubah caranya dalam menilai segala sesuatu hanya saja belum sepenuhnya mengubah kenyataan bahwa sebagian besar kepercayaan dirinya sudah hilang. Mungkin hanya butuh waktu untuk mengembalikannya.

Walau dia kehilangan kepercayaan dirinya, entah bagaimana si egois masih dapat berdiri tegak dihadapan orang banyak, menari di hadapan banyak mata yang melihatnya, dan terus tersenyum hingga menurut orang yang mengetahuinya namun tidak mengenalnya dia sangat bahagia, dan menurut orang yang mengetahuinya hanya sekedar saja dia terlihat begitu sombong dan angkuh.

Di lain pihak ada teman yang sangat mengenalnya, teman yang tahu betapa egoisnya dia, betapa kerasnya dia berusaha untuk terus bediri sambil berbenah diri, bahkan tahu betapa rapuh dan terlukanya dia. Dia memang egois, dia memang angkuh, bicaranya terkadang songong, dia juga menebar banyak canda tawa di tempat-tempat tertentu, tapi dia masih terluka.

Lukanya kali ini tidak hanya sekedar berbekas, namun juga belum sembuh bahkan hingga lebih seribu hari. Bukan berarti dia tidak berusaha mengobatinya. Berkali-kali dia mencoba membuka hati, namun saat dia membuka hati, apa yang dia dapati hanyalah kenangan dari masa lalu yang terus mengusiknya.

Berkali-kali dia membuka hati, dan mengabaikan perasaannya yang sesungguhnya. Menutup mata saat berpapasan dengan pemeran utama dalam ingatanya, dan menulikan telinga setiap mendengarnya berbicara. Hingga dia berhasil mengabaikan sosok itu, namun tidak juga berhasil menghapus perasaannya.

Namun ternyata ada titik dimana perasaannya berontak terhadap semua usahanya. Ada titik dimana perasaannya ingin meledak keluar. Setelah lebih seribu hari akhirna dia mengakui lagi, betapa dia merindukan sang pemeran utama kenangannya. Dia mengaku, bahwa dia masih gagal untuk berhenti menunggu.

Dan kini si egois berada pada puncak kebingungannya. Mengakui bahwa dia masih sangat mencintai sosok yang telah membuatnya jatuh hati malah memicu seluruh sarafnya untuk sadar betapa dia sudah kehilangan.

Kesadarannya tentang kehilangan membuatnya seperti kejang saraf. Pikirannya kembali tidak fokus, air mata satu persatu berlomba keluar. Berulang kali dia memaki diri sendiri mengatakan, "betapa bodohnya kamu, menunggu orang yang sudah mengatakan dengan pasti pada semua orang bahwa mustahil baginya untuk kembali. Memang pernyataan mustahil dia kembali tidak disampaikannya padamu, tapi pada sahabat-sahabatmu dan sahabat-sahabatnya."

Terus membodoh-bodohkan dirinya juga tidak mengubah kenyataan bahwa si egois itu masih tetap mecintai sang pemeran utama.

Kali ini yang ingin dilakukan oleh si egois itu hanya satu hal. Dia sangat ingin menghilang. Andai dia hilang mungkin ingatan tentang perasaannya juga akan hilang.

Andai sang pemeran utama tahu, bahwa luka yang banyak itu belum berhasil membuatnya berhenti jatuh cinta.

Pemeran utama, jika memang mustahil bagimu untuk kembali maka beritahulah padanya. Karena hanya itu satu-satunya cara untuk membuatnya benar-benar terluka lebih dalam. Mungkin dengan terluka lagi dia akan mendapatkan kesadarannya. Itu saja.

Bagaimana menurutmu pemeran utama? Apakah sisi yang kamu kenal darinya hanya keegosian dan ketidakdewasaannya selama ini? Toh bukankah kalian sama-sama tidak dewasa?

Apakah tulisan ini membuatmu sedikit lebih mengenalnya? Hal terpenting untuk kamu ingat, bahwa rasa sayangnya padamu lebih besar dari sikap egoisnya. Dia mencoba memahamimu, bahkan mencoba memahami alasanmu untuk melukainya. Hanya saja kamu terlalu naif dalam menilai dan meragukan perasaannya. Memang dia juga terlalu naif dengan cintanya, tapi cinta manakah yang tidak naif?

Sudahlah, terlalu banyak yang ingin kusampaikan padamu tentang si egois itu, tapi aku sadar tidak ada gunanya bagiku menceritakan semuanya di sini jika kamu sendiri tidak tertarik untuk memahami apapun tentang dia.

Mungkin kita biarkan saja hati si egois itu terus terluka hingga waktu yang memilih untuk tidak mempertemukanmu dan dia. Sama seperti kalimat yang selalu diucapkannya "andai saat ini salah satu dari kami dikirim ke timur, dan satunya lagi dikirim kebarat, mungkin jarak yang sangat jauh akan membuatku putus asa untuk mencintainya."

Hanya itu solusi yang terlintas dibenaknya, walau aku tahu bahwa dia pun ragu apakah dia sanggup untuk benar-benar tidak melihatmu lagi.

Sudahlah, lebih baik kuakhiri saja tulisan ini sampai di sini. Aku berharap tulisan ini dapat membantu.
Salam dariku,

Sang penulis surat

Selasa, 08 September 2015

Selamat Tinggal Kasih

Bilakah kau kembali kasih?

Mengusik kenanganku yang tidak kunjung usai tentangmu.

Bahkan jika kutunggu hingga akhir hayatku akankah engkau kembali?

Sedang akupun meragu akan kembalinya dirimu

Lalu, apalagi alasanku untuk masih menunggumu?

Aku hanyalah masalalu yang telah kau buang.

Sementara kamu adalah kenangan yang tertata rapi dalam ingatan.

Ingin aku berhenti menunggumu.

Ribuan kali telah kuucap selamat tinggal, namun belum pernah cukup untuk membawaku pergi.

Selamat tinggal lagi kasih.

Bilakah aku berhasil pergi dari rasa ini?

Meski tidak pernah lagi kutulis sajak perindu untukmu.

Tetap saja rinduku bersenandung untukmu.

Masih saja mimpiku dipenuhi bayangmu.