Blue

Blue

Kamis, 31 Juli 2014

Untuknya



“Tasya kamu tidak perlu menari lagi”

“Tasya kamu tidak perlu menari lagi”

“Tasya kamu tidak perlu menari lagi”
Kalimat itu terus berputar di kepalaku. Sejak kecil aku tergabung dalam sebuah sanggar tari di kota tempat tinggalku, dan sekarang aku kuliah di jurusan seni tari dan tergabung dalam sebuah grup penari yang selalu mengadakan live show. Hanya saja kejadian dua hari lalu benar-benar tidak menguntungkan bagiku.

Peristiwa itu berputar lagi di kepalaku. Tepat saat kami mengadakan gladi bersih. Reihan kekasihku meraih tangan kananku. Menuntunku menari di atas panggung , kami menari dan menari di iringi alunan biola dan piano dan di temani cahaya lampu sorot. Selama dalam satu tim dan selama kami menjadi pasangan kekasih ini adalah pertama kalinya aku menari di atas panggung yang sama dengannya. Ini kesempatan duet kami yang pertama kalinya.

Kaki ku berada dalam posisi point, dan kedua tangan Reihan memutar pingganggku, 24 putaran sempurna, lalu Reihan menganggkat tubuhku, namun tiba-tiba keseimbangan kami hilang. Dan aku terjatuh dalam posisi point. Rasa sakit menusuk di kaki kananku. Aku menangis. Sementara Reyhan terjatuh dengan posisi kepala terbentur, dia tidak sadarkan diri.
***
“Tasya kamu tidak perlu menari lagi” kata-kata mama membawaku kembali dari lamunanku.

“ma.. gimana keadaan Reyhan?” tanyaku akhirnya.

“Kita semua tidak tahu sayang, Reyhan sudah di transfer kerumah sakit lain di Kanada oleh keluarganya.”

Apa? Reyhan pergi? Reyhan ke Kanada?
“Ma, aku harus menari lagi ma. Aku berjanji akan lebih hati-hati. Aku akan istirahat sampai kondisiku pulih Ma. Aku harus menari lagi.” Ucapku pirih.

Aku tidak ingin terlambat. Aku harus terus menari sampai tarian ini membawaku melihat Reyhan lagi. Aku harus menari dan bertemu Reyhan. Aku harus bertemu Reyhan dan memastikan keadaannya. Aku tidak ingin menangis di sini, aku harus berdiri, sebab aku harus menari lagi.

Rasa



Rasa
Ribka berlari menusuri setapak jalan di taman kampus, tanpa menoleh kebelakang lagi. Hatinya remuk. Hatinya hancur. Lebih-lebih lagi hatinya sangat malu. Bagaimana mungkin lelaki itu bisa membaca buku hariannya?  Ribka terus berlari kini benar-benar tidak menghiraukan sesak dalam dadanya bahkan membiarkan setiap tetes air mata mengalir membasahi pipinya.
***
                Rangga terpaku membisu menyaksikan pemandangan di hadapannya.  Gadis berponi selamat datang dengan lesung pipi yang selalu saja menghias senyumnya. Gadis dengan mata berbinar dalam setiap tawanya. Gadis yang baru saja berdiri di sisinya, tiba-tiba berlalu begitu saja. Pergi dalam buaian air mata. Rangga di bakar amarah. Dia terdiam memandang sekali lagi pemandangan dihadapannya. Gadis itu masih juga berlari. Rangga di bakar amarah. Rangga berlari mengejar bayangan gadis itu.
“Ternyata Aku jatuh cinta kepadanya. Kepada Rangga.”  
Rangga membaca tulisan yang tertera di atas buku harian itu sekali lagi.
                Rangga berhasil meraihnya. Meraih tangan gadis itu kembali.
“Gadis bodoh!” ucapnya kemudian.
Ribka hanya terdiam dan menunduk malu.
“Untuk apa semua tulisan dalam buku harian itu?”
Ribka tetap membisu.
“Untuk apa kamu menuliskan perasaanmu di atas kertas-kertas itu Ribka?”
Ribka semakin menunduk, dia benar-benar malu.
“Kamu berniat mempermainakan aku ya?”
“...” hening dalam buayan angin.
“Ribka, apa maksud ucapan kamu tadi?”
“Maaf”
“Maaf, iya Ribka, Maafkan aku yang lancang membaca buku harianmu.”
“Aku hanya merasa sangat malu”
“Ribka, kamu tidak harus malu karena memiliki perasaan.”
“Maafin aku Rangga”
“Hari ini kamu harus tahu, Aku sayang,dan selalu menyayangi kamu. Jangan pergi berlari lagi, terimakasih karena menuliskan perasaanmu di dalam buku ini.” Ucapnya.
Ribka masih tertunduk malu, namun kini dia mulai tersenyum lagi.

Minggu, 13 Juli 2014

Siluet Rasa




 

Bagaimana jika bola bukan hanya sekedar bola yang dipakai dalam permainan?

Seandainya bola itu adalah rasa...

Saat bola datang kehadapnmu jangan mengoper atau melemparnya...

Tahan saja dalam dekapanmu...

“Gooooollll...!!!”

Tiba-tiba cahaya tertangkap oleh retina mataku. Aku terbangun. Yah, tepat sekali. Aku terbangun dari tidurku karena suara teriakan itu. Aku menoleh ke arah kiri.

“huuuh... masih pukul 03.00” aku mendengus kesal. Lalu aku sibuk mencoba untuk memejamkan mataku kembali. Angin masih juga sibuk menggangguku. Menghantarkan getaran-getaran bunyi yang sayup-sayup tapi pasti. Pasti membuatku jengkel. Pasti membuatku tidak bisa tertidur lagi. Sumber kegaduhan itu hanya berjarak beberapa meter dari tempat tinggalku.  Di sana mereka semua berkumpul. Ya... mereka. Para pecinta olah raga sepak bola yang sedang menyaksikan “World Cup” babak final tentunya.

“Benar-benar terasa ramai “ batinku sambil kembali membuka kedua mataku.

“sssssh...bahkan kalian mengorbankan jam tidur kalian” ucapku lebih kepada diriku sendiri  dengan penuh kekesalan.

Sebenarnya, aku benar-benar tidak pernah tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan bola. Bahkan aku tidak merasa malu saat guru olahraga di SMA tempat aku menuntut ilmu pernah memarahiku karena bola. Yah... memang benar, aku sendiri tidak punya alasan mengapa aku harus takut saat berolahraga dengan bola. Aku selalu takut setiap bola bergerak kearahku. Aku selalu berlari dan berteriak seperti orang bodoh dan menjauh dari bola.

Entah apa alasannya aku tidak pernah tahu. Yang aku tahu aku tidak tertarik. Terserah bola apapun itu mau itu bola kasti, bola ping-pong, bola volly, bola basket, atau bola apa pun julukannya bagiku tetap saja sama. Aku tetap saja berlari saat melihat bola menuju kearahku.

***

            Aku benar-benar gagal untuk mencoba tertidur lagi. Akhirnya kuputuskan untuk menyalakan laptopku dan mulai sibuk dengan internet. Namun akhirnya mataku terasa lelah untuk membaca artikel-artikel di hadapanku. Aku menghempaskan tubuhku keatas tempat tidur dan kemudian meraih boneka kura-kura yang tergelak di tempat  tidurku. Lalu kupejamkan mataku. Entah sejak kapan dimulai, namun aku sedang melayang di sana diantara potongan-potongan ingatanku.

***

            Ku kan setia menjagamu, bersama dirimu...
            Dirimu...
            Sampai nanti.. akan s’lalu bersama dirimu...
            Saat bersamamu kasih ku merasa bahagia...

Lagu yang kami nyanyikan berakhir dengan diakhirinya petikan gitar dari salah seorang temanku. Lalu aku tersenyum memandangi mereka satu persatu. Karin yang tomboi dan selalu ceria, Putri yang benar-benar lembut dan pendiam, Conieth yang dewasa dan keibuan, Arka si cowok usil dan Nathan cowok sok cool dan selalu merasa dirinya pendiam  namun pada faktanya adalah ember tumpah. Aku tersenyum sekali lagi memastikan betapa bahagianya aku sekarang duduk disini bersama mereka. Yah disini...  Di atas rumput yang hijau ini. Kemudian aku meletakkan tangan kiriku menyentuh rumput yang benar-benar terlihat sangat indah dan aku mengedarkan pandanganku ke tengah lapangan. Tepat dimana sedang berlangsung pertandingan bola Volly antara dua tim putra. ya... mereka bermain dilapangan berumput ini. Dan tentu saja aku tidak mengenal mereka. Aku bisa duduk di sini hari ini berkat usaha dan kerja keras teman-temanku untuk membujukku.

Tiba-tiba bola terlempar keluar dari lapangan permainan dan menuju ke arahku. Dalam hitungan sekian detik bola jatuh tepat sekian sentimeter di depan wajahku.

“aaaaaaaaaawwww...” teman-temanku berteriak karena terkejut.

Sementar aku hanya mematung. Terdiam, terkejut, dan tidak sempat untuk lari dan berteriak. Aku masih terpaku membisu. Seketika sekelebat cahaya berputar di hadapanku, awalnya terang dan menyilaukan namun perlahan berubah menjadi warna-warni yang indah. Dalam sekian detik waktu terasa berhenti sangat lama. Hanya sekian detik namun aku bisa menyaksikan banyak warna-warni indah.

“Sifa...” Arka yang duduk tepat di sebelah kanakuku mengguncang bahuku.

“Iya...?” aku menoleh kearah Arka, dan tiba2 saja warna-warni itu menghilang diganti oleh wajah sahabatku itu.

“Bolanya Fa...” ucapnya sambil menunjuk kearah ku.

“Iya.. bolanya. Untung bolanya gak mendarat di kepala atau wajah gue” ucapku lega.

“Sifa.... kamu kembalikan bolanya” Ucap Conieth mulai tidak sabar.

“Ha...?” Aku memandang ke arah Conieth yang duduk di sebelah kanan Arka.

“itu...” Conieth menunjuk ke arahku. Sedangkan yang lain memandangi ku dengan ekspresi yang tidak kalah herannya.

Aku menunduk dan benar-benar terkejut menyaksikan kedua tanganku mendekap sebuah bola. Seketika itu juga aku melihat sepasang kaki tepat di hadapanku. Perlahan aku mengangkat wajahku. Lalu semua warna-warni itu terasa kembali nyata. Dan aku melihat sebuah lengkungan indah. Sebuah senyuman. Atau sepasang mata yang bersinar. Saat itu waktu masih berhenti di duniaku namun berputar di dunia yang lainnya.

“Sifa...tolong berikan bolanya” ucap sosok di depanku.

Seketika semua warna kembali menjadi satu. Hijau.. ya hijau. Dan spontan aku melemparkan bola dalam genggamanku ke  arah lapangan. Dan sepasang kaki itu berlalu mengejarnya.
***
            Surya. Yah nama lelaki pemilik sepasang kaki itu Surya. Sepasang kaki yang menghantar banyak warna namun meninggalkan satu warna. Sejak insiden hari itu kami mulai memiliki beberapa kesempatan untuk bertemu lagi. Sekali, dua kali, tiga, empat, dan berkali-kali. Semakin dekat. Dan semakin hari aku merasa benar-benar terpesona olehnya.

            Sudah setengah tahun kami bersahabat. Aku dan Surya. Namun tiba-tiba suatu hari dia datang dengan sebuah cerita lain. Taman di depan rumah kediaman orang tuaku. Hijau dan legang.
Hanya ada aku dan dia. Duduk berdua saling berhadapan di antara warna-warni bunga yang mulai bermekaran.

“Fa... gue ada kabar buat lo” ucapnya dengan senyum merekah.

“kabar apa?”

“Lo tau nggak Fa? Tadi malam... tadi malam gue balikan ama Nitha.” Kata-katanya lepas begitu saja penuh semangat.

Tiba-tiba aku terdiam.

“Gue senang banget Fa.. dan gue yakin lo pasti senang ngeliat kakak lo yang satu ini bisa mendapatkan cinta gue kembali.”

Aku tersenyum. Senyuman yang tidak sampai kehatiku. Kenyataan bahwa dia balikan dengan mantanya membuat hatiku terasa kosong, ditambah dengan pengakuan sebagai seorang kakak. Tiba-tiba ada kilatan dan gelegar petir dalam pikiran atau di dalam hatiku. Entah dimana aku tidak tahu. Namun aku hanya memilih terdiam.

“Ayolah Sifa.... kok Lo diam aja? Jangan bilang Lo patah hati denger kabar ini?”

“Apa? Patah hati? Ogah!!” ucapku membohongi apa yang kurasakan.

“Trus? Ngapain Lo diam az? Kasih ucapan selamat kek”

“oke.. oke... Selamat yah Kakak ku tersayang karena sudah menemukan calon kakak ipar untukku.” Ucapku akhirnya.

“Makasih Sifa...” ucapnya dengan senyuman. Kemudian membuang tatapannya menghujam bumi. Menyembunyika perasaannya. “ternyata benar Fa... loe cuman nganggap gue sebagai sodara Lo.” Ucapnya kepada dirinya sendiri. Lalu dia mengambil ponsel dari dalam tas yang tergeletak di sebelahnya. Dan mulai mengetik sebuah pesan singkat.

Oke... Nitha... Setelah mempertimbangkan kembali gue rasa gue akan menerima permintaan loe untuk balikan sama gue. Dengan syarat gue berharap lo benar-benar berubah dan nurutin semua janji-janji lo.
Lalu dia mengirim SMS itu kepada Nitha. Dan tersenyum miris.

Sejak hari itu aku dan Surya berakhir. Berakhir sebagai kakak dan adik yang menyibukkan diri masing-masing. Mencari kesibukan agar tidak bertemu. Mencari alasan agar tidak saling menghubungi satu sama lain.
***
            Hujan hari ini benar-benar menjebakku di sini. Di mall sendirian. Andai aku tidak keras kepala dan sedikit bersabar menunggu sampai besok aku pasti tidak akan terjebak dalam situasi ini. Setidaknya besok Bunda dapat menemaniku untuk membeli kado ulang tahun Daddy. Tapi tetap saja keras kepala ku sudah membawaku kesini.

“Hei...” seseorang menyapaku.
Aku membalas sapaannya dengan senyuman.

“Suka bola juga ya?” tanyanya kemudian.

“Nggak” jawabku acuh.

“Tapi kayaknya tadi kita juga ketemu dan kamu lagi milih-milih baju bola” ucapnya lagi.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Rasanya tidak begitu penting. Aku tidak mengenalnya dan aku tidak tertarik dengan bola. Tidak sama sekali.

“Buat apa dong beli baju pemain bole?” tanyanya lagi.

“kado buat bokap gue” jawabku dengan penuh kekesalan.

“Gue.. Rangga” ucapnya lagi sambil mengulurkan tangan.

“Trus?”

“Nama Lo?”

“Sifa..” aku menjabat tangannya dengan malas-malasan.

“Gue suka banget sama bola. Mulai dari nonton sampai bermain”

“Maaf ya... gue buru-buru”

“loh? Kan masih hujan?”

“Jadi?”

“Kalo boleh jujur, sebenarnya gue udah tahu kok nama Lo sifa karena sebenarnya gue satu kampus dan satu jurusan sama Lo. Tapi kayaknya lo nggak kenal sama gue.”

“....”aku tidak menanggapi ucapannya.

“Pantas aja  mereka pada bilang lo sombong” ucapnya lagi.

“Kalo memang ia apa itu masalah buat lo?”

Dia hanya tersenyum.

“Gak penting juga kan buang-buang waktu gue sama lo?” ucapku akhirnya.

“Tapi bagiku penting” kata-katanya mengalir begitu tenang.

            Aku benar-benar kesal dengan lelaki ini. Namun sejak hari itu pertemuan kami akhirnya semakin intens.  Rangga  mulai menyapaku dan bergabung dengan teman-temanku. Setiap hari selalu datang dan tersenyum padaku. Hingga akhirnya aku tidak tahu sejak kapan memikirkannya. Aku menikmati kehadirannya.  Dan kami terikat dalam satu ikatan rasa. Aku dan Rangga. Iya... aku dan Rangga.
***

“Fa..”

“Iya..?”

“I love you” ucapnya.

“...” aku terdiam. Menundukkan kepalaku menyembunyikan wajahku yang tersipu malu.

“Kamu mau jalan-jalan?”

“Aku sangat ingin, tapi kamu tahu kan? Aku tidak boleh terlalu lelah.”

“hmmmm... kalau begitu kita bisa menghabiskan waktu dengan duduk di sini”

Aku menggangguk, lalu tersenyum kepadanya.

            Aku bukan seseorang yang sedang sekarat karena menderita penyakit tertentu. Hanya saja setiap kali aku kelelahan aku akan jatuh sakit. Bagiku rasa lelah itu lebih dari sekedar lelah yang dialami kebanyakan orang. Rasa lelah adalah hal yang benar-benar menyiksa bagi tubuhku. Rangga yang sudah 5 bulan menjadi kekasihku sudah tahu tentang hal ini. Dia tahu sejak hari itu. Dua minggu lalu.

“Nanti sore pukul 6 sore temani aku jalan-jalan” itu bunyi pesan yang kukirim ke ponsel Rangga.

Sebelum pukul 6 sore Rangga sudah berada di rumahku, bersama sepeda motornya. Namun hari itu aku ngotot untuk tidak memakai kendaraan. Dengan alasan aku hanya ingin jalan-jalan di taman yang terletak di daerah kompleks tempat tinggalku. Rangga mengalah dan menuruti kemauanku. Hari itu benar-benar indah bersamanya. Namun tiba-tiba gerimis turun membasahi bumi.

“Fa... Gerimis, kita pulang kerumah kamu sekarang?” tanya Rangga.

“Jangan dong. Baru juga jalan 15 menit di taman ini. Hari ini aku pengen menjelajahi taman ini.”

“Tapi Fa, ini sudah mulai hujan.”

“Rangga.. Pliss.. sekali ini aja” ucapku.

            Rangga mengalah. Dan kami berjalan di dalam hujan. Setengah berlari dan menjadi basah kuyub. Namun aku mulai merasa kedinginan. Sangat dingin. Aku sadar. Aku ingat. Aku tidak boleh lelah. Aku tidak boleh di dalam hujan. Aku tahu itu. Namun Rangga tidak tahu semua itu. Lalu aku memutuskan untuk menyerah dan memintanya membawaku pulang.

“Rangga..”

“Iya..?”

“Kita pulang.”

 Rangga menggenggam tanganku. Dan tiba-tiba dia terkejut mendapati tanganku yang terasa panas.

“Fa..? kamu kenapa?” Dia benar-benar menjadi khawatir sekarang.

“hanya kedinginan.” Jawabku.

Seketika Rangga menarikku kedalam pelukannya dan aku tersenyum kepada hujan. Lalu tiba-tiba tubuhku terasa ringan, aku melayang di udara, dalam sekejap semua menjadi gelap.

            Hari itu Rangga benar-benar khawatir. Hari itu dia tahu bahwa tubuhku lemah. Namun bahkan sekalipun dia mendorongku untuk melakukan medical chek up sejak hari itu, aku masih menolak. Bahkan sampai hari ini. Ah... Rangga.

            Rangga yang menyebalkan di saat hujan, Rangga yang begitu hangat di antara dinginnya hujan. Rangga yang memahami aku. Rangga yang belajar mencintai hal-hal yang kucintai. Rangga yang benar-benar hobby dengan permainan bola. Hidupku berada dalam lingkaran Rangga. Dan Rangga membuatku melakukan hal yang sama. Rangga berhasil membuatku belajar mencintai hal-hal yang dia cintai.
***

            Rangga menjadi warna dalam hari-hariku. Taman yang ditumbuhi warna-warni yang indah ini selalu terasa semakin indah dan berwarna setiap kali aku menghabiskan waktu denganya untuk sekedar duduk berdua di sini.

“Fa... kamu ingat Qeizya?”

“Yang mantan kamu itu?”

“Ia..”

“Aku ingat. Ada apa dengan dia?”

“Boleh nggak aku rindu sama dia Fa?”

“Rindu sebagai apa Rangga?” tanyaku kemudian.

“Hmmm.. teman. Kamu tahu kan dulu kami berteman tapi sekarang selain menyandang status sebagai mantan kami juga sudah tinggal berjauhan. Jadi aku merasa merindukannya sebagai seorang teman.”

“Kamu boleh kok rindu sama Dia. Kamu boleh merindukan siapapun. Itu hak kamu Rangga”. Aku berusaha menekan rasa perih dihaiku.

“ooh.. gitu ya Fa?”

“Tapi kalau memang kamu rindu sama dia kenapa kamu nggak tanya lagi ke hati kamu sendiri, siapa tahu kamu masih sayang sama dia. Kalau kamu masih sayang sama dia kenapa kamu nggak balikan aja lagi?” Walau sakit mengucapkannya, namun aku harus. Aku tidak ingin menghalangi kebahagiaan Rangga jika itu yang dia mau. Aku akan melepaskannya. Hanya itu yang ada dalam pikiranku.

“Ngomong apa sih Fa? Kamu mau aku ninggalin kamu dan balikan sama dia? Ya sudah kalau itu maunya kamu.”

“Loh? Kamu kok jadi marah ya sama aku?”

“Aku nggak marah. Kita pulang sekarang.”


            Kemudian dia mengantarku kembali kerumah. Hari ini adalah hari aku mulai tidak memahaminya. Hari ini aku merasa Ranggaku mulai berubah.  Namun karena perasaanku kepadanya aku mencoba mengabaikan perubahan Rangga. Dia mulai marah-marah. Semakin jauh. Semakin hari Rangga bahkan mencoba melarangku untuk menghubungi dia. Rasanya berat. Rasanya sakit. Namun Rangga mencoba meyakinkanku dengan kata-kata lembutnya. Dan aku menyerah. Walau aku menangis aku menyerah untuk menurut pada keinginannya.

***

            Dua minggu berlalu. Dua minggu berjalan dalam kebekuan hubungan kami. Dia tidak hadir. Dia tidak bertanya padaku bagaimana kabarku hari ini. Dia tidak seperti biasanya. Dalam dua minggu tidak lebih dari 2 kali dia mau berkomunikasi denganku. Rangga, aku benar-benar tidak memahami semua ini. Akhirnya hari ini dia datang padaku.

“Sifa.. aku benar-benar merindukanmu.”

“..”aku terdiam.

“kamu lihatkan? Tidak ada yang perlu dikhawatikan Sifa. Sekalipun kita tidak saling mengabari setiap hari status kita masih sama. Kita masih dalam hubungan itu.”

Aku tidak berkomentar. Aku hanya terdiam. Aku sibuk memikirkan kata demi kata yang diucapkan Rangga. Tanpa komunikasi, tidak ada yang berubah. Semua tetap sama. Status kita tetap sama. Apakah? Apakah semua ini sekarang hanya status? Tahukah dia bahwa perasaan ku berbeda? Aku sakit merindukannya. Aku merasa sakit. Apakah aku sedang merasakan sakit hati? Ataukah patah hati? Apakah perasaan Rangga masih sama?

            Kami masih duduk bersisian. Namun tanpa bicara. Kami sama-sama menikmati kebisuan satu sama lain. Aku sibuk dengan pikiranku. Dengan perasaanku. Lalu tiba-tiba saja Rangga meletakkan ponselnya di meja yang terletak di hadapan kami. Dan di ponsel itu aku melihat wajah. Ya.. tepat. Walpaper di handphone rangga foto wajah seorang perempuan. Siapakah???

Aku masih diam dan tidak mempertanyakan apa-apa. “Mungkin hanya foto yang diunduh dari internet” ucapku pada diri sendiri.
***

            Malam ini hujan bukan hanya membasahi bumi. Malam ini hujan membasahi hatiku. Rangga, lelaki itu. Setelah 1 bulan memaksaku agar tidak terlalu sering berkomunikasi satu sama lain, akhirnya Rangga tiba pada keputusan itu. Keputusan untuk pergi dari hidupku. Tanpa alasan untuk di jelaskan kepadaku. Aku hanya bisa menangis. Warna-warni itu tiba-tiba saja menghilang. Menyisakan satu warna. Warna yang menyiratkan kekosongan hatiku.
***     

            Aku memulai. Memulai hari-hariku tanpa Rangga. Memulai hariku dengan pertanyaan kenapa Rangga pergi? Aku terus memulai setiap detik. Memulai untuk mampu tanpa Rangga. Dalam kesibukanku memulai lagi aku terjebah entah sejak kapan. Aku terjebak dalam realita penyalahan diri. Aku mulai menyalahkan diriku atas keputusan Rangga. Aku mulai menilai betapa egoisnya aku. Betapa bersalah aku dalam hubungan kami. Betapa aku adalah pihak yang jahat. Aku pasti sudah menyakiti Rangga. Aku rasa aku harus minta maaf padanya.

            Aku mencoba untuk meminta maaf padanya. Aku meratapi diriku seolah-olah akulah yang palin bersalah. Aku terus menangisi dan terus menyesali. Aku masih saja di titik memulai. Memulai tanpa Rangga. Lalu aku sakit. Bukan hanya di hati, tapi juga fisikku semakin berontak.
***

            Setengah tahun kemudian.

Bau rumah sakit benar-benar selalu membuatku gusar. Tapi hari ini aku tetap terbaring di sini. Aku ingin pergi namun tidak bisa. Setelah mendengar penjelasan dokter dan mama semua sudah terjawab. Pertanyaan kenapa aku sering kelelahan diakibatkan oleh penyakit anemia yang sudah bersarang di dalam tubuhku. Namun saat dokter menyarankanku melakukan medical chek up yang lengkap, aku menolaknya. Anemia. Aku tahu penyakit ini bukan penyakit biasa. Aku tidak ingin tahu lebih banyak tentang tubuhku selain anemia. Aku tahu biasanya anemia bisa jadi hanya merupakan  salah satu gejala. Gejala dari penyakit kronis yang benar-benar berbahaya. Aku tidak ingin pemikiran itu aku tidak ingin mengetahui lebih dari itu. Biarlah aku membohongi diriku sendiri sekali saja. Beranggapan bahwa aku hanya menderita penyakit anemia atau kurang darah biasa. Hanya itu. Tidak lebih. Aku tidak ingin mengetahui yang lebih daripada itu.

***


Aku masih tetap memulai tanpa Rangga. Sudah 1 tahun. Pagi  benar-benar sangat cerah dan hangat. Aku berjalan di koridor kampus sambil memandangi langit. Memasuki kelasku dan memandang langit biru yang terpampang di balik jendela. Tiba-tiba saja..

“aaaaawww...” aku setengah terpekik.

Kakiku tersandung dan aku terhuyung. belum sempat terhempas menubruk ubin tiba-tiba langanku merasakan sebuh genggaman. Genggaman itu menarikku kembali berdiri. Lalu aku berdiri dan memutar tubuhku menghadap ke arahnya.

“Sorry..” seseorang berujar dengan mata penuh penyesalan sambil melepas genggamannya.

“Sorry..” aku mengatakan hal yang sama.

Lalu aku memutar tubuhku memunggunginya dan tersenyum. Dan aku memulai hari ini tanpa Rangga.

***

Aku pernah memiliki rasa. Namun aku membiarkannya pergi. Aku melempar dan mengoper rasa itu walau aku merasa sakit akhirnya. Hari ini aku tersandung dan hampir  jatuh di atas kata cinta. Hanya saja belum dapat kupastikan apakah aku benar-benar mendapatkan bola yang berisi rasa. Jika nanti sudah kupastikan bahwa rasa ini ada aku hanya akan menggenggamnya dengan hatiku.
Akankah aku melakukannya? Sudah siapkah aku terluka lagi? 

***

Dulu aku selalu berlari dan berteriak setiap kali bola datang kearahku. Tapi kemampuanku untuk mearsa terpesona suatu hari malah membuatku terdiam saat bola jatuh hampir mengenai wajahku. Saat rasa itu hadir mataku bahkan menangkap bias warna-warni yang indah, namun saat rasa itu pergi, yang dapat kulihat hanya satu warna. Akhirnya sekarang aku tidak hanya berlari menjauh dari bola, namun juga berlari menjauhi fakta bahwa aku jatuh cinta. Aku menjadi pecundang  Tiba-tiba aku membuka kedua mataku. Dan pandanganku tepat mengarah ke jendela. Sisi langit timur benar-benar selalu indah setiap hari. Aku tersenyum.