Bagaimana
jika bola bukan hanya sekedar bola yang dipakai dalam permainan?
Seandainya
bola itu adalah rasa...
Saat
bola datang kehadapnmu jangan mengoper atau melemparnya...
Tahan
saja dalam dekapanmu...
“Gooooollll...!!!”
Tiba-tiba
cahaya tertangkap oleh retina mataku. Aku terbangun. Yah, tepat sekali. Aku
terbangun dari tidurku karena suara teriakan itu. Aku menoleh ke arah kiri.
“huuuh...
masih pukul 03.00” aku mendengus kesal. Lalu aku sibuk mencoba untuk memejamkan
mataku kembali. Angin masih juga sibuk menggangguku. Menghantarkan
getaran-getaran bunyi yang sayup-sayup tapi pasti. Pasti membuatku jengkel.
Pasti membuatku tidak bisa tertidur lagi. Sumber kegaduhan itu hanya berjarak
beberapa meter dari tempat tinggalku. Di
sana mereka semua berkumpul. Ya... mereka. Para pecinta olah raga sepak bola
yang sedang menyaksikan “World Cup” babak final tentunya.
“Benar-benar
terasa ramai “ batinku sambil kembali membuka kedua mataku.
“sssssh...bahkan
kalian mengorbankan jam tidur kalian” ucapku lebih kepada diriku sendiri dengan penuh kekesalan.
Sebenarnya,
aku benar-benar tidak pernah tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan
dengan bola. Bahkan aku tidak merasa malu saat guru olahraga di SMA tempat aku
menuntut ilmu pernah memarahiku karena bola. Yah... memang benar, aku sendiri
tidak punya alasan mengapa aku harus takut saat berolahraga dengan bola. Aku
selalu takut setiap bola bergerak kearahku. Aku selalu berlari dan berteriak
seperti orang bodoh dan menjauh dari bola.
Entah
apa alasannya aku tidak pernah tahu. Yang aku tahu aku tidak tertarik. Terserah
bola apapun itu mau itu bola kasti, bola ping-pong, bola volly, bola basket,
atau bola apa pun julukannya bagiku tetap saja sama. Aku tetap saja berlari
saat melihat bola menuju kearahku.
***
Aku benar-benar gagal untuk mencoba
tertidur lagi. Akhirnya kuputuskan untuk menyalakan laptopku dan mulai sibuk
dengan internet. Namun akhirnya mataku terasa lelah untuk membaca
artikel-artikel di hadapanku. Aku menghempaskan tubuhku keatas tempat tidur dan
kemudian meraih boneka kura-kura yang tergelak di tempat tidurku. Lalu kupejamkan mataku. Entah sejak
kapan dimulai, namun aku sedang melayang di sana diantara potongan-potongan
ingatanku.
***
Ku
kan setia menjagamu, bersama dirimu...
Dirimu...
Sampai
nanti.. akan s’lalu bersama dirimu...
Saat
bersamamu kasih ku merasa bahagia...
Lagu
yang kami nyanyikan berakhir dengan diakhirinya petikan gitar dari salah
seorang temanku. Lalu aku tersenyum memandangi mereka satu persatu. Karin yang
tomboi dan selalu ceria, Putri yang benar-benar lembut dan pendiam, Conieth
yang dewasa dan keibuan, Arka si cowok usil dan Nathan cowok sok cool dan
selalu merasa dirinya pendiam namun pada
faktanya adalah ember tumpah. Aku tersenyum sekali lagi memastikan betapa
bahagianya aku sekarang duduk disini bersama mereka. Yah disini... Di atas rumput yang hijau ini. Kemudian aku
meletakkan tangan kiriku menyentuh rumput yang benar-benar terlihat sangat
indah dan aku mengedarkan pandanganku ke tengah lapangan. Tepat dimana sedang
berlangsung pertandingan bola Volly antara dua tim putra. ya... mereka bermain dilapangan berumput ini. Dan tentu saja aku
tidak mengenal mereka. Aku bisa duduk di sini hari ini berkat usaha dan kerja
keras teman-temanku untuk membujukku.
Tiba-tiba
bola terlempar keluar dari lapangan permainan dan menuju ke arahku. Dalam
hitungan sekian detik bola jatuh tepat sekian sentimeter di depan wajahku.
“aaaaaaaaaawwww...”
teman-temanku berteriak karena terkejut.
Sementar
aku hanya mematung. Terdiam, terkejut, dan tidak sempat untuk lari dan berteriak.
Aku masih terpaku membisu. Seketika sekelebat cahaya berputar di hadapanku,
awalnya terang dan menyilaukan namun perlahan berubah menjadi warna-warni yang
indah. Dalam sekian detik waktu terasa berhenti sangat lama. Hanya sekian detik
namun aku bisa menyaksikan banyak warna-warni indah.
“Sifa...”
Arka yang duduk tepat di sebelah kanakuku mengguncang bahuku.
“Iya...?”
aku menoleh kearah Arka, dan tiba2 saja warna-warni itu menghilang diganti oleh
wajah sahabatku itu.
“Bolanya
Fa...” ucapnya sambil menunjuk kearah ku.
“Iya..
bolanya. Untung bolanya gak mendarat di kepala atau wajah gue” ucapku lega.
“Sifa....
kamu kembalikan bolanya” Ucap Conieth mulai tidak sabar.
“Ha...?”
Aku memandang ke arah Conieth yang duduk di sebelah kanan Arka.
“itu...”
Conieth menunjuk ke arahku. Sedangkan yang lain memandangi ku dengan ekspresi
yang tidak kalah herannya.
Aku
menunduk dan benar-benar terkejut menyaksikan kedua tanganku mendekap sebuah
bola. Seketika itu juga aku melihat sepasang kaki tepat di hadapanku. Perlahan aku
mengangkat wajahku. Lalu semua warna-warni itu terasa kembali nyata. Dan aku
melihat sebuah lengkungan indah. Sebuah senyuman. Atau sepasang mata yang
bersinar. Saat itu waktu masih berhenti di duniaku namun berputar di dunia yang
lainnya.
“Sifa...tolong
berikan bolanya” ucap sosok di depanku.
Seketika
semua warna kembali menjadi satu. Hijau.. ya hijau. Dan spontan aku melemparkan
bola dalam genggamanku ke arah lapangan.
Dan sepasang kaki itu berlalu mengejarnya.
***
Surya. Yah nama lelaki pemilik sepasang
kaki itu Surya. Sepasang kaki yang menghantar banyak warna namun meninggalkan
satu warna. Sejak insiden hari itu kami mulai memiliki beberapa kesempatan
untuk bertemu lagi. Sekali, dua kali, tiga, empat, dan berkali-kali. Semakin
dekat. Dan semakin hari aku merasa benar-benar terpesona olehnya.
Sudah setengah tahun kami
bersahabat. Aku dan Surya. Namun tiba-tiba suatu hari dia datang dengan sebuah
cerita lain. Taman di depan rumah kediaman orang tuaku. Hijau dan legang.
Hanya
ada aku dan dia. Duduk berdua saling berhadapan di antara warna-warni bunga
yang mulai bermekaran.
“Fa...
gue ada kabar buat lo” ucapnya dengan senyum merekah.
“kabar
apa?”
“Lo
tau nggak Fa? Tadi malam... tadi malam gue balikan ama Nitha.” Kata-katanya
lepas begitu saja penuh semangat.
Tiba-tiba
aku terdiam.
“Gue
senang banget Fa.. dan gue yakin lo pasti senang ngeliat kakak lo yang satu ini
bisa mendapatkan cinta gue kembali.”
Aku
tersenyum. Senyuman yang tidak sampai kehatiku. Kenyataan bahwa dia balikan
dengan mantanya membuat hatiku terasa kosong, ditambah dengan pengakuan sebagai
seorang kakak. Tiba-tiba ada kilatan dan gelegar petir dalam pikiran atau di
dalam hatiku. Entah dimana aku tidak tahu. Namun aku hanya memilih terdiam.
“Ayolah
Sifa.... kok Lo diam aja? Jangan bilang Lo patah hati denger kabar ini?”
“Apa?
Patah hati? Ogah!!” ucapku membohongi apa yang kurasakan.
“Trus?
Ngapain Lo diam az? Kasih ucapan selamat kek”
“oke..
oke... Selamat yah Kakak ku tersayang karena sudah menemukan calon kakak ipar
untukku.” Ucapku akhirnya.
“Makasih
Sifa...” ucapnya dengan senyuman. Kemudian membuang tatapannya menghujam bumi.
Menyembunyika perasaannya. “ternyata benar Fa... loe cuman nganggap gue sebagai
sodara Lo.” Ucapnya kepada dirinya sendiri. Lalu dia mengambil ponsel dari
dalam tas yang tergeletak di sebelahnya. Dan mulai mengetik sebuah pesan
singkat.
Oke...
Nitha... Setelah mempertimbangkan kembali gue rasa gue akan menerima permintaan
loe untuk balikan sama gue. Dengan syarat gue berharap lo benar-benar berubah
dan nurutin semua janji-janji lo.
Lalu
dia mengirim SMS itu kepada Nitha. Dan tersenyum miris.
Sejak
hari itu aku dan Surya berakhir. Berakhir sebagai kakak dan adik yang
menyibukkan diri masing-masing. Mencari kesibukan agar tidak bertemu. Mencari
alasan agar tidak saling menghubungi satu sama lain.
***
Hujan hari ini benar-benar
menjebakku di sini. Di mall sendirian. Andai aku tidak keras kepala dan sedikit
bersabar menunggu sampai besok aku pasti tidak akan terjebak dalam situasi ini.
Setidaknya besok Bunda dapat menemaniku untuk membeli kado ulang tahun Daddy.
Tapi tetap saja keras kepala ku sudah membawaku kesini.
“Hei...”
seseorang menyapaku.
Aku
membalas sapaannya dengan senyuman.
“Suka
bola juga ya?” tanyanya kemudian.
“Nggak”
jawabku acuh.
“Tapi
kayaknya tadi kita juga ketemu dan kamu lagi milih-milih baju bola” ucapnya
lagi.
Aku
tidak menjawab pertanyaannya. Rasanya tidak begitu penting. Aku tidak
mengenalnya dan aku tidak tertarik dengan bola. Tidak sama sekali.
“Buat
apa dong beli baju pemain bole?” tanyanya lagi.
“kado
buat bokap gue” jawabku dengan penuh kekesalan.
“Gue..
Rangga” ucapnya lagi sambil mengulurkan tangan.
“Trus?”
“Nama
Lo?”
“Sifa..”
aku menjabat tangannya dengan malas-malasan.
“Gue
suka banget sama bola. Mulai dari nonton sampai bermain”
“Maaf
ya... gue buru-buru”
“loh?
Kan masih hujan?”
“Jadi?”
“Kalo
boleh jujur, sebenarnya gue udah tahu kok nama Lo sifa karena sebenarnya gue
satu kampus dan satu jurusan sama Lo. Tapi kayaknya lo nggak kenal sama gue.”
“....”aku
tidak menanggapi ucapannya.
“Pantas aja
mereka pada bilang lo sombong” ucapnya lagi.
“Kalo
memang ia apa itu masalah buat lo?”
Dia
hanya tersenyum.
“Gak
penting juga kan buang-buang waktu gue sama lo?” ucapku akhirnya.
“Tapi
bagiku penting” kata-katanya mengalir begitu tenang.
Aku benar-benar kesal dengan lelaki
ini. Namun sejak hari itu pertemuan kami akhirnya semakin intens. Rangga
mulai menyapaku dan bergabung dengan teman-temanku. Setiap hari selalu
datang dan tersenyum padaku. Hingga akhirnya aku tidak tahu sejak kapan
memikirkannya. Aku menikmati kehadirannya.
Dan kami terikat dalam satu ikatan rasa. Aku dan Rangga. Iya... aku dan
Rangga.
***
“Fa..”
“Iya..?”
“I
love you” ucapnya.
“...”
aku terdiam. Menundukkan kepalaku menyembunyikan wajahku yang tersipu malu.
“Kamu
mau jalan-jalan?”
“Aku
sangat ingin, tapi kamu tahu kan? Aku tidak boleh terlalu lelah.”
“hmmmm...
kalau begitu kita bisa menghabiskan waktu dengan duduk di sini”
Aku
menggangguk, lalu tersenyum kepadanya.
Aku bukan seseorang yang sedang
sekarat karena menderita penyakit tertentu. Hanya saja setiap kali aku
kelelahan aku akan jatuh sakit. Bagiku rasa lelah itu lebih dari sekedar lelah
yang dialami kebanyakan orang. Rasa lelah adalah hal yang benar-benar menyiksa
bagi tubuhku. Rangga yang sudah 5 bulan menjadi kekasihku sudah tahu tentang hal
ini. Dia tahu sejak hari itu. Dua minggu lalu.
“Nanti
sore pukul 6 sore temani aku jalan-jalan” itu bunyi pesan yang kukirim ke
ponsel Rangga.
Sebelum
pukul 6 sore Rangga sudah berada di rumahku, bersama sepeda motornya. Namun
hari itu aku ngotot untuk tidak memakai kendaraan. Dengan alasan aku hanya
ingin jalan-jalan di taman yang terletak di daerah kompleks tempat tinggalku.
Rangga mengalah dan menuruti kemauanku. Hari itu benar-benar indah bersamanya.
Namun tiba-tiba gerimis turun membasahi bumi.
“Fa...
Gerimis, kita pulang kerumah kamu sekarang?” tanya Rangga.
“Jangan
dong. Baru juga jalan 15 menit di taman ini. Hari ini aku pengen menjelajahi
taman ini.”
“Tapi
Fa, ini sudah mulai hujan.”
“Rangga..
Pliss.. sekali ini aja” ucapku.
Rangga mengalah. Dan kami berjalan
di dalam hujan. Setengah berlari dan menjadi basah kuyub. Namun aku mulai
merasa kedinginan. Sangat dingin. Aku sadar. Aku ingat. Aku tidak boleh lelah.
Aku tidak boleh di dalam hujan. Aku tahu itu. Namun Rangga tidak tahu semua
itu. Lalu aku memutuskan untuk menyerah dan memintanya membawaku pulang.
“Rangga..”
“Iya..?”
“Kita
pulang.”
Rangga menggenggam tanganku. Dan tiba-tiba dia
terkejut mendapati tanganku yang terasa panas.
“Fa..?
kamu kenapa?” Dia benar-benar menjadi khawatir sekarang.
“hanya
kedinginan.” Jawabku.
Seketika
Rangga menarikku kedalam pelukannya dan aku tersenyum kepada hujan. Lalu
tiba-tiba tubuhku terasa ringan, aku melayang di udara, dalam sekejap semua menjadi gelap.
Hari itu Rangga benar-benar
khawatir. Hari itu dia tahu bahwa tubuhku lemah. Namun bahkan sekalipun dia
mendorongku untuk melakukan medical chek up sejak hari itu, aku masih menolak.
Bahkan sampai hari ini. Ah... Rangga.
Rangga yang menyebalkan di saat
hujan, Rangga yang begitu hangat di antara dinginnya hujan. Rangga yang memahami
aku. Rangga yang belajar mencintai hal-hal yang kucintai. Rangga yang
benar-benar hobby dengan permainan bola. Hidupku berada dalam lingkaran Rangga.
Dan Rangga membuatku melakukan hal yang sama. Rangga berhasil membuatku belajar
mencintai hal-hal yang dia cintai.
***
Rangga menjadi warna dalam
hari-hariku. Taman yang ditumbuhi warna-warni yang indah ini selalu terasa
semakin indah dan berwarna setiap kali aku menghabiskan waktu denganya untuk
sekedar duduk berdua di sini.
“Fa...
kamu ingat Qeizya?”
“Yang
mantan kamu itu?”
“Ia..”
“Aku
ingat. Ada apa dengan dia?”
“Boleh
nggak aku rindu sama dia Fa?”
“Rindu
sebagai apa Rangga?” tanyaku kemudian.
“Hmmm..
teman. Kamu tahu kan dulu kami berteman tapi sekarang selain menyandang status
sebagai mantan kami juga sudah tinggal berjauhan. Jadi aku merasa merindukannya
sebagai seorang teman.”
“Kamu
boleh kok rindu sama Dia. Kamu boleh merindukan siapapun. Itu hak kamu Rangga”. Aku berusaha menekan rasa perih
dihaiku.
“ooh..
gitu ya Fa?”
“Tapi
kalau memang kamu rindu sama dia kenapa kamu nggak tanya lagi ke hati kamu
sendiri, siapa tahu kamu masih sayang sama dia. Kalau kamu masih sayang sama
dia kenapa kamu nggak balikan aja lagi?” Walau sakit mengucapkannya, namun aku
harus. Aku tidak ingin menghalangi kebahagiaan Rangga jika itu yang dia mau. Aku
akan melepaskannya. Hanya itu yang ada dalam pikiranku.
“Ngomong
apa sih Fa? Kamu mau aku ninggalin kamu dan balikan sama dia? Ya sudah kalau
itu maunya kamu.”
“Loh?
Kamu kok jadi marah ya sama aku?”
“Aku
nggak marah. Kita pulang sekarang.”
Kemudian dia mengantarku kembali
kerumah. Hari ini adalah hari aku mulai tidak memahaminya. Hari ini aku merasa Ranggaku
mulai berubah. Namun karena perasaanku
kepadanya aku mencoba mengabaikan perubahan Rangga. Dia mulai marah-marah. Semakin
jauh. Semakin hari Rangga bahkan mencoba melarangku untuk menghubungi dia. Rasanya
berat. Rasanya sakit. Namun Rangga mencoba meyakinkanku dengan kata-kata
lembutnya. Dan aku menyerah. Walau aku menangis aku menyerah untuk menurut pada
keinginannya.
***
Dua minggu berlalu. Dua minggu berjalan
dalam kebekuan hubungan kami. Dia tidak hadir. Dia tidak bertanya padaku bagaimana kabarku hari ini. Dia tidak seperti biasanya. Dalam dua minggu tidak lebih dari 2 kali dia mau
berkomunikasi denganku. Rangga, aku benar-benar tidak memahami semua ini. Akhirnya
hari ini dia datang padaku.
“Sifa..
aku benar-benar merindukanmu.”
“..”aku
terdiam.
“kamu
lihatkan? Tidak ada yang perlu dikhawatikan Sifa. Sekalipun kita tidak saling
mengabari setiap hari status kita masih sama. Kita masih dalam hubungan itu.”
Aku
tidak berkomentar. Aku hanya terdiam. Aku sibuk memikirkan kata demi kata yang
diucapkan Rangga. Tanpa komunikasi, tidak ada yang berubah. Semua tetap sama. Status
kita tetap sama. Apakah? Apakah semua ini sekarang hanya status? Tahukah dia
bahwa perasaan ku berbeda? Aku sakit merindukannya. Aku merasa sakit. Apakah aku
sedang merasakan sakit hati? Ataukah patah hati? Apakah perasaan Rangga masih
sama?
Kami masih duduk bersisian. Namun tanpa
bicara. Kami sama-sama menikmati kebisuan satu sama lain. Aku sibuk dengan
pikiranku. Dengan perasaanku. Lalu tiba-tiba saja Rangga meletakkan ponselnya
di meja yang terletak di hadapan kami. Dan di ponsel itu aku melihat wajah. Ya..
tepat. Walpaper di handphone rangga foto wajah seorang perempuan. Siapakah???
Aku
masih diam dan tidak mempertanyakan apa-apa. “Mungkin hanya foto yang diunduh
dari internet” ucapku pada diri sendiri.
***
Malam ini hujan bukan hanya
membasahi bumi. Malam ini hujan membasahi hatiku. Rangga, lelaki itu. Setelah 1
bulan memaksaku agar tidak terlalu sering berkomunikasi satu sama lain, akhirnya
Rangga tiba pada keputusan itu. Keputusan untuk pergi dari hidupku. Tanpa alasan
untuk di jelaskan kepadaku. Aku hanya bisa menangis. Warna-warni itu tiba-tiba
saja menghilang. Menyisakan satu warna. Warna yang menyiratkan kekosongan
hatiku.
***
Aku memulai. Memulai hari-hariku
tanpa Rangga. Memulai hariku dengan pertanyaan kenapa Rangga pergi? Aku terus
memulai setiap detik. Memulai untuk mampu tanpa Rangga. Dalam kesibukanku
memulai lagi aku terjebah entah sejak kapan. Aku terjebak dalam realita
penyalahan diri. Aku mulai menyalahkan diriku atas keputusan Rangga. Aku mulai
menilai betapa egoisnya aku. Betapa bersalah aku dalam hubungan kami. Betapa aku
adalah pihak yang jahat. Aku pasti sudah menyakiti Rangga. Aku rasa aku harus
minta maaf padanya.
Aku mencoba untuk meminta maaf
padanya. Aku meratapi diriku seolah-olah akulah yang palin bersalah. Aku terus
menangisi dan terus menyesali. Aku masih saja di titik memulai. Memulai tanpa
Rangga. Lalu aku sakit. Bukan hanya di hati, tapi juga fisikku semakin
berontak.
***
Setengah tahun kemudian.
Bau
rumah sakit benar-benar selalu membuatku gusar. Tapi hari ini aku tetap
terbaring di sini. Aku ingin pergi namun tidak bisa. Setelah mendengar
penjelasan dokter dan mama semua sudah terjawab. Pertanyaan kenapa aku sering
kelelahan diakibatkan oleh penyakit anemia yang sudah bersarang di dalam
tubuhku. Namun saat dokter menyarankanku melakukan medical chek up yang
lengkap, aku menolaknya. Anemia. Aku tahu penyakit ini bukan penyakit biasa. Aku
tidak ingin tahu lebih banyak tentang tubuhku selain anemia. Aku tahu biasanya
anemia bisa jadi hanya merupakan salah
satu gejala. Gejala dari penyakit kronis yang benar-benar berbahaya. Aku tidak
ingin pemikiran itu aku tidak ingin mengetahui lebih dari itu. Biarlah aku
membohongi diriku sendiri sekali saja. Beranggapan bahwa aku hanya menderita
penyakit anemia atau kurang darah biasa. Hanya itu. Tidak lebih. Aku tidak
ingin mengetahui yang lebih daripada itu.
***
Aku
masih tetap memulai tanpa Rangga. Sudah 1 tahun. Pagi benar-benar sangat cerah dan hangat. Aku berjalan
di koridor kampus sambil memandangi langit. Memasuki kelasku dan memandang
langit biru yang terpampang di balik jendela. Tiba-tiba saja..
“aaaaawww...”
aku setengah terpekik.
Kakiku
tersandung dan aku terhuyung. belum sempat terhempas menubruk ubin tiba-tiba langanku merasakan sebuh genggaman. Genggaman itu menarikku kembali berdiri. Lalu aku berdiri dan memutar tubuhku menghadap ke arahnya.
“Sorry..”
seseorang berujar dengan mata penuh penyesalan sambil melepas genggamannya.
“Sorry..”
aku mengatakan hal yang sama.
Lalu
aku memutar tubuhku memunggunginya dan tersenyum. Dan aku memulai hari ini tanpa Rangga.
***
Aku
pernah memiliki rasa. Namun aku membiarkannya pergi. Aku melempar dan mengoper
rasa itu walau aku merasa sakit akhirnya. Hari ini aku tersandung dan hampir jatuh di atas kata cinta. Hanya saja belum
dapat kupastikan apakah aku benar-benar mendapatkan bola yang berisi rasa. Jika
nanti sudah kupastikan bahwa rasa ini ada aku hanya akan menggenggamnya dengan
hatiku.
Akankah aku melakukannya? Sudah siapkah aku terluka lagi?
***
Dulu aku selalu berlari dan berteriak setiap kali bola datang kearahku. Tapi kemampuanku untuk mearsa terpesona suatu hari malah membuatku terdiam saat bola jatuh hampir mengenai wajahku. Saat rasa itu hadir mataku bahkan menangkap bias warna-warni yang indah, namun saat rasa itu pergi, yang dapat kulihat hanya satu warna. Akhirnya sekarang aku tidak hanya berlari menjauh dari bola, namun juga berlari menjauhi fakta bahwa aku jatuh cinta. Aku menjadi pecundang Tiba-tiba
aku membuka kedua mataku. Dan pandanganku tepat mengarah ke jendela. Sisi langit
timur benar-benar selalu indah setiap hari. Aku tersenyum.