Takkan
pernah habis air mataku...
Bila
ku ingat tentang dirimu...
“Iya... aku juga suka
lagu itu, tapi masih lebih bagus lagu rindu” ucapku memotong lagu yang sedang
kamu nyanyikan.
“Bintang malam sampaikan padanya..
Aku
ingin melukis sinarmu, dihatinya..
Embun
pagi katakan padanya,
Biar
ku dekap erat waktu dingin membelenggunya...
Tahukah
engkau wahai langit...
Aku
ingin bertemu membelai wajahnya,
Dan
kupasang hiasan, angkasa yang terindah, hanya untuk dirinya...
Lagu
rindu ini ku ciptakan, hanya untuk idadari hatiku tercinta...
Walau
hanya nada sederhana, biar ku ucap segenap rasa dan kerinduan..” suaramu
mengalun begitu saja.
“.....” aku terdian
membisu, dan air mata mengalir membasahi kedua pipiku. Aku membiarkannya,
karena aku tahu kamu tidak melihatku.
“Makasih ya” ucapku
akhirnya.
“Jujur aku tak kuasa... saat terakhir ku genggam tanganmu
Namun..
yang pasti terjadi kita mungkin tak bersama lagi”
“Jangan pernah
nyanyikan lagu itu lagi!” ucapku dengan ketus.
“Kenapa?”
“Aku nggak suka lagu
perpisahan.”
“Kenapa kamu nggak
suka?”
“Sama halnya dengan aku
nggak suka perpisahan.”
“Suatu saat kita akan
berpisah,”ucapmu.
“Tidak harus mengatakan
kalimat seperti itu kan?”
“Kemungkinan besar kita
akan berpisah, dan kemungkinan besar kita akan terus bersama.” Ucapmu lagi.
“...” Aku hanya
terdiam.
“Hallo... Selamat
malam, dan selamat tidur. I love You”
“...” aku masih belum
mengatakan sepatah katapun.
“Udah ya Bie... malam
udah larut. Kita harus tidur ntar sakit loh kalo selalu terlambat tidur terus”
“ia sudah” jawabku.
“Silahkan mengakhiri
teleponya” ucapmu.
“Kamu yang matikan dari
situ ya..”
“Seharusnya kamu dong,
kan aku yang nelpon”
“Oke” ucapku, lalu
menekan tombol merah di telepon genggamku. Kemudian melirik jam, ternyaa sudah
pukul 23.25 Wib.
Dan akhirnya itu
menjadi kebiasaan kita. Siapa yang ditelepon dia juga yang berhak mematikan
telepon.
Akhirnya kita melukis kisah kita bersama-sama. Tertawa,
dan menangis semua yang kita rasakan saat itu membuat kita merasa bahagia. Liburan
kita baru 3 hari, itu artinya masih ada puluhan hari lagi, kita tidak akan
bertemu.
***
Beberapa hari sebelum libur, saat kita duduk berdua di
taman kampus. Saat itu hanya kita disana.
“Bie... enakkan duduk
di sini?”
“kenapa?”
“Semua mata tertuju
pada kita”
Aku hanya tersenyum
mendengar kalimatmu itu.
“Bie...”
“iya?”
“Aku coba ujian lagi
atau enggak?” tanyamu.
“Itu sih terserah anda.”
“Jika ya katakan ya,
jika tidak katakan tidak”
“Hmmm.. tapi itukan
hidupmu, aku nggak berani kalau menjadi orang yang harus memutuskan sesuatu
dalam hidupmu. Gimana jika keputusan itu gak sesuai dengan keinginanmu
nantinya?”
“Setidaknya jika ada
jawaban ya dan tidak aku merasa kamu mendukungku.”
“Jawabannya masih sama,
terserah.”
“Terserah itu bukan
jawaban” ucapmu. “Ya sudah, aku pulang duluan ya kamu kan masih ada kuliah ntar
lagi” ucapmu lagi.
“....” aku hanya
terdiam dan memandangmu. Namun saat itu aku terlalu bodoh untuk membaca
kekecewaan di hatimu.
“Bie... aku pulang ya”
Aku
mengangguk memberi persetujuan, bahkan seandainya aku menggeleng kau akan tetap
tinggal, dan jika aku menjawab “tunggu aku, kita pulang bareng nanti” kamu akan
menunggu. Tapi saat itu aku mengizinkamu pulang, dan kau pergi. Bahkan hal terbodoh
yang kulakukan hari itu adalah tidak menjawab pertanyaanmu, dan membiarkanmu
kehilangan cita-citamu. Dan sejak saat itu juga kata terserah hanya muncul sekali
lagi dalam cerita kita.
***
Setiap
saat aku membutuhkanmu kamu selalu ada untukku. Saat aku menangis, masih ada
kamu yang menghiburku dan membuatku tertawa lagi bahkan untuk sekedar
memarahiku, saat aku bertingkah konyol dan kekanak-kanakan. Tapi semua berakhir
dengan sempurna.
Malam
ini hujan benar-benar tidak ingin diganggu, sejak sore tadi. Aku masih mencoba
menghubungi mu, dan untuk kesekian kalinya kamu bahkan tidak menghiraukan
panggilan dari nomorku. Setelah satu jam, akhirnya kamu mengangkat telepon. Pertanyaan
mu hanya kata “ada apa?” seolah tidak ada yang salah. Bahkan saat emosiku
meledak kamu masih berbicara dengan tenang. Aku hanya menangis.
”Apa yang akan terjadi?
Apa yang harus aku lakukan?” akhirnya aku bertanya.
“Terserah” jawabmu.
“Terserah itu bukan
jawaban, aku capek dan aku nggak sanggup lagi, rasanya sangat sakit”
“Kenapa kamu harus
bertahan jika itu sakit?”
“Aku tidak ingin
mengakhirinya”
“Jika kamu tidak ingin,
aku akan mengakhirinya dengan begitu kamu tidak akan tersiksa lagi kan?”
“Bukan begitu.”
“Kita akhiri sampai
disini” lalu kamu mematikan sambungan lewat telepon. Liburan kita tersisa 4
hari lagi, dan setiap tawa yang pernah kau bawa ke hadapanku berubah jadi air mata.
***
Aku belum pernah tahu bahwa sakit hati akan membuatmu
susah menelan makanan. Bahkan aku belum tahu bahwa yang kurasakan itu gejala
sakit hati. Setiap aku akan makan apa yang mereka sebut nasi, aku mengingat
bagaimana kamu selalu membujukku menghabiskan nasi yang ada dihadapanku. Bahkan
nasehatmu setiap aku tidak menghabiskannya “Bie.. di luar sana banyak orang gak
bisa makan apa-apa, dan satu orang masih kenyang jika memakan nasi yang kamu
sisakan itu.” Dan kalimat itu selalu berhasil memaksaku menghabiskan makanan di
hadapanku. Namun sekarang kalimat itu yang membuatku tidak ingin makan sebutir
nasi sekalipun. Pertanyaan dari adikmu, dan ceritanya yang membuatku semakin
tersiksa saat ini.
“Kak, kenapa dia? Sepertinya
ada masalah. Karena sudah beberapa hari dia tidak mau bicara dengan siapapun
sampai dia pergi ke kost dia sama sekali tidak bercanda dengan siapapun seperti
biasanya. Hanya mengurung diri dikamar. Sendirian.”
Dan ini semakin menyakitkan bagiku. Mungkin saat itu kamu
berpikir ini akan membuat semuanya semakin mudah, tapi malaha sealiknya.
***
Setelah
52 hari kedepan, sudah 2 tahun. Sudah 2 tahun aku berusaha mengobati luka kehilanganmu.
Fakta sekarang kamu bahagia dengan seseorang bersamamu, setidaknya kamu tidak
bersedih lagi karena sikap dan perbuatanku. Kisah kita benar-benar berakhir
dengan sempurna. Bahkan tempat yang biasanya menjadi saksi bisu cerita kita sekarang
sudah tidak ada lagi. Tempat itu sudah 100% berubah. Bahkan kenangan tentang
kita tidak ada lagi. Semua yang pernah kamu berikan untukku, semua yang tersisa
hanya kenangan dalam ingatanku. Semua barang yang ada hubungannya denganmu, aku
bahkan sudah memberikannya kepada orang lain. Aku tidak menyimpannya lagi. Dan surat
yang pernah kamu tuliskan untukku, kamu sudah mengambilnya kembali. Tidak ada
satupun bukti nyata dihadapanku saat ini bahwa kita pernah bersama. Setelah 1
tahun menjauhkan diri dari semua benda yang menyimpan cerita denganmu, akhirnya
aku merasa, kisah kita hanya terjadi dalam mimpiku saja. Kisah kita bukan
cerita cinta. Kisah kita hanya sekedar mimpiku saja. Dan sayangnya bahkan dalam
mimpi itu juga kita harus sama-sama patah hati dan terluka. Dan mungkin karena kisah
dalam mimpi itu saat kita bertemu kita bersikap seolah kita tidak mengenal satu
sama lain, bahkan seolah tidak dapat melihat satu dengan yang lain.
Beberapa
minggu lalu aku memberanikan diri memandangmu dari kejauhan tetapt di depan
laboratorium biologi. Dan aku kembali kedalam mimpiku.
“Sudah satu semester ya
Bie... nggak terasa” kalimatmu terasa nyata dalam ingatanku.
“Iya bang, sudah 4 semester
bahkan. Sudah hampir dua tahun. Dan kita masih terus kuat untuk berjalan di
sisi kita masing-masing, walau hatiku rapuh dan walau sakit, ternyata mimpi
tentangmu juga berpotensi membuatku menangis” ucapku lebih pada diriku sendiri.
Aku
masih memandangimu untuk beberapa saat, sampai akhirnya kepalaku benar-benar
sakit, tubuhku sangat dingin, dan
perutku semakin sakit, lalu aku memejamkan mataku. Saat aku membuka kedua
kelopak mataku, kamu tidak berada di sana lagi. Kamu benar-benar hanya dalam
mimpiku. Aku berdiri dan berjalan masuk ke laboratorium dan meminta bantuan
kepada kakak asisten agar ujianku di percepat karena tubuhku benar-benar
kesakitan. Akhirnya aku ujian lebih cepat daripada yang seharusnya. Dan mimpi
itu sudah hilang.
***
Dalam
mimpi itu, dalam cerita kita aku belum sempat mengucapkan kalimat ini dengan
sepenuh hatiku. Kali ini, andai kamu membaca tulisan ini, aku ingin
mengatakannya.
“Selamat
tinggal, aku berharap kamu bahagia.”
Bila nanti esok hari...
Kau temukan dirimu bahagia...
Ijinkan aku titipkan kisah cinta
kita... selamanya...
Dan akhirnya lagu ini,
yang tidak pernah kuinginkan untuk kamu nyanyikan kepadaku, aku menyanyikannya
untukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar