Blue

Blue

Selasa, 01 Juli 2014

Saat Mengingatmu Kembali



Takkan pernah habis air mataku...
Bila ku ingat tentang dirimu...
“Iya... aku juga suka lagu itu, tapi masih lebih bagus lagu rindu” ucapku memotong lagu yang sedang kamu nyanyikan.
Bintang malam sampaikan padanya..
Aku ingin melukis sinarmu, dihatinya..
Embun pagi katakan padanya,
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya...
Tahukah engkau wahai langit...
Aku ingin bertemu membelai wajahnya,
Dan kupasang hiasan, angkasa yang terindah, hanya untuk dirinya...
Lagu rindu ini ku ciptakan, hanya untuk idadari hatiku tercinta...
Walau hanya nada sederhana, biar ku ucap segenap rasa dan kerinduan..” suaramu mengalun begitu saja.
“.....” aku terdian membisu, dan air mata mengalir membasahi kedua pipiku. Aku membiarkannya, karena aku tahu kamu tidak melihatku.
“Makasih ya” ucapku akhirnya.
Jujur aku tak kuasa... saat terakhir ku genggam tanganmu
Namun.. yang pasti terjadi kita mungkin tak bersama lagi
“Jangan pernah nyanyikan lagu itu lagi!” ucapku dengan ketus.
“Kenapa?”
“Aku nggak suka lagu perpisahan.”
“Kenapa kamu nggak suka?”
“Sama halnya dengan aku nggak suka perpisahan.”
“Suatu saat kita akan berpisah,”ucapmu.
“Tidak harus mengatakan kalimat seperti itu kan?”
“Kemungkinan besar kita akan berpisah, dan kemungkinan besar kita akan terus bersama.” Ucapmu lagi.
“...” Aku hanya terdiam.
“Hallo... Selamat malam, dan selamat tidur. I love You”
“...” aku masih belum mengatakan sepatah katapun.
“Udah ya Bie... malam udah larut. Kita harus tidur ntar sakit loh kalo selalu terlambat tidur terus”
“ia sudah” jawabku.
“Silahkan mengakhiri teleponya” ucapmu.
“Kamu yang matikan dari situ ya..”
“Seharusnya kamu dong, kan aku yang nelpon”
“Oke” ucapku, lalu menekan tombol merah di telepon genggamku. Kemudian melirik jam, ternyaa sudah pukul 23.25 Wib.
Dan akhirnya itu menjadi kebiasaan kita. Siapa yang ditelepon dia juga yang berhak mematikan telepon.
            Akhirnya kita melukis kisah kita bersama-sama. Tertawa, dan menangis semua yang kita rasakan saat itu membuat kita merasa bahagia. Liburan kita baru 3 hari, itu artinya masih ada puluhan hari lagi, kita tidak akan bertemu.
***
            Beberapa hari sebelum libur, saat kita duduk berdua di taman kampus. Saat itu hanya kita disana.
“Bie... enakkan duduk di sini?”
“kenapa?”
“Semua mata tertuju pada kita”
Aku hanya tersenyum mendengar kalimatmu itu.
“Bie...”
“iya?”
“Aku coba ujian lagi atau enggak?” tanyamu.
“Itu sih terserah anda.”
“Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak”
“Hmmm.. tapi itukan hidupmu, aku nggak berani kalau menjadi orang yang harus memutuskan sesuatu dalam hidupmu. Gimana jika keputusan itu gak sesuai dengan keinginanmu nantinya?”
“Setidaknya jika ada jawaban ya dan tidak aku merasa kamu mendukungku.”
“Jawabannya masih sama, terserah.”
“Terserah itu bukan jawaban” ucapmu. “Ya sudah, aku pulang duluan ya kamu kan masih ada kuliah ntar lagi” ucapmu lagi.
“....” aku hanya terdiam dan memandangmu. Namun saat itu aku terlalu bodoh untuk membaca kekecewaan di hatimu.
“Bie... aku pulang ya”
Aku mengangguk memberi persetujuan, bahkan seandainya aku menggeleng kau akan tetap tinggal, dan jika aku menjawab “tunggu aku, kita pulang bareng nanti” kamu akan menunggu. Tapi saat itu aku mengizinkamu pulang, dan kau pergi. Bahkan hal terbodoh yang kulakukan hari itu adalah tidak menjawab pertanyaanmu, dan membiarkanmu kehilangan cita-citamu. Dan sejak saat itu juga kata terserah hanya muncul sekali lagi dalam cerita kita.
***
Setiap saat aku membutuhkanmu kamu selalu ada untukku. Saat aku menangis, masih ada kamu yang menghiburku dan membuatku tertawa lagi bahkan untuk sekedar memarahiku, saat aku bertingkah konyol dan kekanak-kanakan. Tapi semua berakhir dengan sempurna.
Malam ini hujan benar-benar tidak ingin diganggu, sejak sore tadi. Aku masih mencoba menghubungi mu, dan untuk kesekian kalinya kamu bahkan tidak menghiraukan panggilan dari nomorku. Setelah satu jam, akhirnya kamu mengangkat telepon. Pertanyaan mu hanya kata “ada apa?” seolah tidak ada yang salah. Bahkan saat emosiku meledak kamu masih berbicara dengan tenang. Aku hanya menangis.
”Apa yang akan terjadi? Apa yang harus aku lakukan?” akhirnya aku bertanya.
“Terserah” jawabmu.
“Terserah itu bukan jawaban, aku capek dan aku nggak sanggup lagi, rasanya sangat sakit”
“Kenapa kamu harus bertahan jika itu sakit?”
“Aku tidak ingin mengakhirinya”
“Jika kamu tidak ingin, aku akan mengakhirinya dengan begitu kamu tidak akan tersiksa lagi kan?”
“Bukan begitu.”
“Kita akhiri sampai disini” lalu kamu mematikan sambungan lewat telepon. Liburan kita tersisa 4 hari lagi, dan setiap tawa yang pernah kau bawa ke hadapanku berubah jadi air mata.
***
            Aku belum pernah tahu bahwa sakit hati akan membuatmu susah menelan makanan. Bahkan aku belum tahu bahwa yang kurasakan itu gejala sakit hati. Setiap aku akan makan apa yang mereka sebut nasi, aku mengingat bagaimana kamu selalu membujukku menghabiskan nasi yang ada dihadapanku. Bahkan nasehatmu setiap aku tidak menghabiskannya “Bie.. di luar sana banyak orang gak bisa makan apa-apa, dan satu orang masih kenyang jika memakan nasi yang kamu sisakan itu.” Dan kalimat itu selalu berhasil memaksaku menghabiskan makanan di hadapanku. Namun sekarang kalimat itu yang membuatku tidak ingin makan sebutir nasi sekalipun. Pertanyaan dari adikmu, dan ceritanya yang membuatku semakin tersiksa saat ini.
“Kak, kenapa dia? Sepertinya ada masalah. Karena sudah beberapa hari dia tidak mau bicara dengan siapapun sampai dia pergi ke kost dia sama sekali tidak bercanda dengan siapapun seperti biasanya. Hanya mengurung diri dikamar. Sendirian.”
            Dan ini semakin menyakitkan bagiku. Mungkin saat itu kamu berpikir ini akan membuat semuanya semakin mudah, tapi malaha sealiknya.
***
Setelah 52 hari kedepan, sudah 2 tahun. Sudah 2 tahun aku berusaha mengobati luka kehilanganmu. Fakta sekarang kamu bahagia dengan seseorang bersamamu, setidaknya kamu tidak bersedih lagi karena sikap dan perbuatanku. Kisah kita benar-benar berakhir dengan sempurna. Bahkan tempat yang biasanya menjadi saksi bisu cerita kita sekarang sudah tidak ada lagi. Tempat itu sudah 100% berubah. Bahkan kenangan tentang kita tidak ada lagi. Semua yang pernah kamu berikan untukku, semua yang tersisa hanya kenangan dalam ingatanku. Semua barang yang ada hubungannya denganmu, aku bahkan sudah memberikannya kepada orang lain. Aku tidak menyimpannya lagi. Dan surat yang pernah kamu tuliskan untukku, kamu sudah mengambilnya kembali. Tidak ada satupun bukti nyata dihadapanku saat ini bahwa kita pernah bersama. Setelah 1 tahun menjauhkan diri dari semua benda yang menyimpan cerita denganmu, akhirnya aku merasa, kisah kita hanya terjadi dalam mimpiku saja. Kisah kita bukan cerita cinta. Kisah kita hanya sekedar mimpiku saja. Dan sayangnya bahkan dalam mimpi itu juga kita harus sama-sama patah hati dan terluka. Dan mungkin karena kisah dalam mimpi itu saat kita bertemu kita bersikap seolah kita tidak mengenal satu sama lain, bahkan seolah tidak dapat melihat satu dengan yang lain.
Beberapa minggu lalu aku memberanikan diri memandangmu dari kejauhan tetapt di depan laboratorium biologi. Dan aku kembali kedalam mimpiku.
“Sudah satu semester ya Bie... nggak terasa” kalimatmu terasa nyata dalam ingatanku.
“Iya bang, sudah 4 semester bahkan. Sudah hampir dua tahun. Dan kita masih terus kuat untuk berjalan di sisi kita masing-masing, walau hatiku rapuh dan walau sakit, ternyata mimpi tentangmu juga berpotensi membuatku menangis” ucapku lebih pada diriku sendiri.
Aku masih memandangimu untuk beberapa saat, sampai akhirnya kepalaku benar-benar sakit, tubuhku sangat dingin,  dan perutku semakin sakit, lalu aku memejamkan mataku. Saat aku membuka kedua kelopak mataku, kamu tidak berada di sana lagi. Kamu benar-benar hanya dalam mimpiku. Aku berdiri dan berjalan masuk ke laboratorium dan meminta bantuan kepada kakak asisten agar ujianku di percepat karena tubuhku benar-benar kesakitan. Akhirnya aku ujian lebih cepat daripada yang seharusnya. Dan mimpi itu sudah hilang.
***
Dalam mimpi itu, dalam cerita kita aku belum sempat mengucapkan kalimat ini dengan sepenuh hatiku. Kali ini, andai kamu membaca tulisan ini, aku ingin mengatakannya.
“Selamat tinggal, aku berharap kamu bahagia.”
Bila nanti esok hari...
Kau temukan dirimu bahagia...
Ijinkan aku titipkan kisah cinta kita... selamanya...
Dan akhirnya lagu ini, yang tidak pernah kuinginkan untuk kamu nyanyikan kepadaku, aku menyanyikannya untukmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar