"Alasannya apa Rhen?" tanya Sifa sahabatku.
":)" aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman..
Aku mengangkat kepalaku, menggerakkan jari telunjukku dan menuliskan namaku di antara awan-awan itu.
"Kamu tahu?? setiap kali aku merasa sangat sedih karena merasa rindu aku akan melihat ke atas langit sana. Saat itu aku sadar langit yang kulihat sekarang juga dilihat oleh orang-orang yang sedang kurindukan." aku terdiam.
"Rhena..." Sifa setengah berbisik.
"Sifa, aku mengerti apa yang kamu rasakan. Kehilangan akan selalu membuat hati kita sedih..."
"Iyaa Rhen... rasanya sepi, patah, sakit, aku sudah kehabisan kata-kata untuk hatiku saat ini, aku... aku dihianati, aku dicampakkan..."
"Hei... bukan hanya kamu.. banyak orang yang pernah mengalaminya.. Coba lihat keatas sana..."
Aku dan Sifa menengadah melihat langit biru.
"Fa... apa kamu pernah tahu di mana batas langit itu?"
"Enggak Rhen..."
"Apa kita pernah tahu ada berapa banyak jumlah manusia yang beraktifitas di bawah kolong langit biru itu?"
"Aku nggak tahu Rhen... pastinya sangat banyak.."
"Iya Fa... banyak, dan dari banyak orang itu bukan hanya kamu, bukan hanya aku, masih ada orang lain yang merasakan kesedihan yang sama dengan kita."
"Rhena...?"
"Iya Fa?"
"Apa kamu sudah benar-benar melupakan dia?"
"Aku tidak akan pernah melupakan dia Fa.. aku hanya mencoba untuk berhenti memikirkan dia..."
"Apa kamu tidak membenciku?"
"Apa aku harus memilih menambah masalah dalam masalah?"
"Tapi Rhen....?"
"Aku kenal kamu sejak kita TK Fa... ingat nggak waktu pertama kali kamu pacaran?"
"Kamu orang pertama yang tahu.."
"Ingat nggak waktu pertama kali gigi susuku copot?"
"Kamu nangis ketakutan, dan waktu itu hanya ada kita berdua di rumahmu."
"Ingat nggak waktu papa-ku ninggal?"
"Kamu pasti sedih banget waktu itu Rhen.."
"Iya Fa.. tapi kamu selalu nemanin aku."
"Fa... kamu masih ingat waktu pertama kali kamu kenal dengan Ryan?"
"Kamu ngenalin aku denganya tahun lalu, di ulang tahunku yang ke-19"
Lalu hening... aku hanya terus memandangi langit.
"Rhen... di ulang tahunku yang ke-19 aku senang melihat Ryan datang kepestaku.. Kami satu kampus, dan sudah setahun aku naksir sama dia."
"Waktu itu dia datang sama aku Fa.."
"Awalnya aku shock.. bagaimana mungkin dia ada di pestaku.."
"Lalu aku mengenalkan kalian berdua."
"Ternyata dia orang yang sering kamu ceritakan padaku. ya.. Ryan pacar rahasiamu."
"Di ulang tahunku yang ke-19 aku kecewa, aku patah hati."
"Maafin aku Fa..."
"Tapi, sejak hari itu aku semakin dekat dengan Ryan.."
"dan semuanya sudah terjadi." ujarku lirih.
"Kamu tidak marah?" tanya Sifa padaku.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Aku bekas selingkuhan pacarmu" katanya.
"hanya bekas kan?" jawabku.. "lagi pula, dia bukan pacarku lagi" ujarku menambahi.
"tapi, rasanya sangat sedih untuk kehilangan dia. maafkan aku Rhena" ujar Sifa lagi.
"Kamu masih mencintai dia?" tanyaku
"Bagaimana denganmu?"
"awalnya aku marah... sangat marah. Rasanya sangat sakit Fa. Tapi aku belajar untuk menerima keadaan. Dia memilih kamu bukan aku".
"Tapi... aku meminta dia untuk meninggalkanku, aku gak mau dihantui perasaan bersalah Rhen.."
"Apapun alasannya, kalau kalian saling mencintai, jangan hiraukan aku lagi."ucapku.
Aku memeluknya...
"Sifa.. kamu sahabatku, aku sahabatmu. Kalau kamu masih mencintai Ryan, aku mau kamu berjuang."
"Rhena..."
aku melepaskan pelukanku.
"Sifa, aku pamit yah, sampai jumpa di lain waktu" ucapku.
Aku berdiri meninggalkan Sifa yang masih duduk di ayunan taman rumahnya. Hari ini aku akan meninggalkan kota ini. Menyusul Mama ke Jepang. Mungkin pergi jauh akan membantu aku melupakan kejadian pahit di sini. Sifa sahabatku, dan Ryan seseorang yang dulunya mengisi hari-hariku, semoga mereka bahagia.
Aku tersenyum kali ini air mataku ikut menetes. Aku hanya ingin kuat menghadapi hidup ini. Aku memndang langit di balik kaca jendela mobil mamaku. Lalu aku merasa kehangatan menggenggam jemariku.
"Ma.. Setidaknya kami masih melihat langit yang sama kan? Ma, dia masih sahabatku kan?"
"menangislah sebentar, kamu membutuhkannya" Jawab mamaku disertai senyum damainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar