Blue

Blue

Minggu, 29 Maret 2015

Mereka dalam Hujan

16.05 WIB.

Siantar di sore itu menyambutku dengan gerimis halus. Jalanan basah, udara lembab. Langsung saja ku tebak di hati, baru usai hujan di sini.

Aku meninggalkan loket bus yang kutumpangi dari kota Medan, menyebrang ke arah terminal di Parluasan (masih Siantar). Becak berlalu lalang, jalanan sedikit becek, warteg di tepi jalan, angkot berjejer di sana sini. Maklumlah, aku sedang di terminal.

Seorang wanita paruh baya mendekat.

"Roti dek.. Roti."

Aku tidak menghiraukannya.

"Dek, Roti untuk oleh-oleh." ucap wanita itu sekali lagi.

"Maaf ya Bu, nggak beli." jawabku akhirnya.

Seorang Pria mulai beruban mendekatiku.

"Samosir ito? tudia do hamu?" (dia menanyakan tujuan perjalananku.)

"Raya Pak." ucapku singkat sabil terus berjalan menuju stasiun mini bus Raya Jaya Transfort, mini bus yang akan membawaku pulang kerumah.

Sekitar 10 meter dari stasiun mini bus yang kutuju, sebuah angkot hampir saja menabrakku.

"Apakah aku melamun? harus lebih hati-hati" ucapku dalam hati.

"Aqua dek?" tanya seorang Ibu kepadaku.

"Maaf Bu, nggak beli." ucapku lagi mengingat aku membawa air minum tadi dari kost.

Lalu sang Ibu berlalu, kupandangi sekelilingku. Masih sedikit gerimis, jalanan basah, udara lembab sedang mereka sibuk mengais rejeki. Ahhhh... hidup ini benar-benar susah.


***
 Siantar hari ini, basah. Hujan, sepanjang jalan dari Pematang Raya sampai ke Siantar.  Kedatanganku beberapa hari lalu, dan kepergianku hari ini di usik hujan.

Perkara hujan mulai mengejek ingatanku.

Siantar kala itu sedang turun hujan. Sepasang anak manusia berlari-lari kecil di trotoar. Lalu mencari tempat berteduh dan menunggu angkot. Sayangnya mereka terlihat tengah tidak akur.

Pematang Raya kala itu diguyur hujan. Gerimis. Sepasang anak manusia berlari di jalan kota, berteduh lalu mengikat sebuah janji.

Medan sore itu bermandi hujan. Sepasang anak manusia tengah berteduh. Menghindari hujan. Lalu mereka berlari kecil di tepi jalan kota sambil bergandengan tangan, di bawah hujan.

Hujan mengguyur bumi di suatu malam. Sepasang anak manusia itu sibuk berdebat. Untuk mengakhiri atau melanjutkan hubungan mereka.

Namun ternyata janjinya putus sampai di situ. Di bawah guyuran hujan.

Siantar sore ini diguyur hujan. Jalanan basah. Udaranya lembab, kuhirup perlahan. Dalam ingatanku terlintas kenangan dua insan. Mereka bertemu di dalam hujan, tertawa, jatuh cinta, bertengkar, saling menyakiti.

Bukan hanya hujan di Siantar, setiap udara lembab berhujan selalu mengingatkanku akan sepasang anak manusia yang sudah memutuskan untuk berbahagia di jalan masing-masing. Hatiku sibuk bertanya, "Sudahkah mereka menemukan kebahagiaannya?"

***
Terinsfirasi dari hujan yang mengganggu perjalanan pulang kampungku.

Rabu, 25 Maret 2015

Mencair

Gunung es itu sebagai saksi

Hari-hari yang kuhabiskan untuk memikirkanmu

Gunung es itu akan bersaksi

Tentang waktu yang kubuang untuk membicarakanmu

Gunung es itu perlahan menjadi bukti

Tentang sebuah hasrat di hati

Gunung es itu adalah cinta.

Cintaku padamu yang tengah membeku.

***

"HAAHAHAHA" derai tawa menghiasi jam makan siang ketika gadis itu. Di tengah kerumuman dan dengung suara manusia yang juga tengah bersantap di salah satu kantin di kampus. 

"Setelah ini kita kemana?" salah satu dari mereka bertanya. Aku tidak tahu gadis yang mana yang megajukan pertanyaan ini.

"Jalan-jalan. Ke tempat nongkrong kita akhir-akhir ini mungkin." Gadis dengan kulit hitam manis menyerukan sebuah ide yang melintas dikepalanya.

Seolah sepakat ketiganya langsung berdiri dan pergi meninggalkan meja makan di kantin.

Tiga gadis itu, entah bagaimana kini selalu bersama. Menghabiskan waktu mereka untuk tertawa sepuas-puasnya, seolah benar-benar berjuang membuang beban skripsi yang senantiasa membayang-bayangi mereka. Yaaaah, mereka sudah mahasiswa stambuk akhir. Saat melihat mereka bermain-main disekitaran kampus mungkin orang-orang akan berpikir seolah mereka tidak merasa terbebani oleh skripsi. Who knows? Mereka juga seperti mahasiswa lain, jika sudah di kost ataupun dirumah, sibuk nongkrongi skripsi mereka. Hanya saja saat mereka bertiga sedang ngumpul mereka akan mencoba merefresh sejenak setiap gundah gulana di hati.

Mereka melakukan banyak hal, dimulai dari curhat panjang lebar, jalan ke toko buku, selfie, jalan-jalan keliling fakultas, nyari toilet paling nyaman dikunjungi di kampus (kriteria toilet bersih, cahayanya terang, pintu bagus, ada cerminnya dan gak bau) atau mendiskusikan sebuah film bahkan novel dan yang pasti mereka juga mendiskusikan tentang skripsi mereka. Begitulah mereka menghabiskan waktunya.

Kalau dilihat dari segi karakter mereka sangat berbeda. Gadis berkulit putih yang sederhana, sementara si hitam manis lebih realistis dan cenderung pemikir, namun terkadang juga imajinatif, sementara si sawo matang yang benar-benar selalu sibuk melamun dan sindrom cermin (ini hasil menguping, dia sering bilang "aku pengen dimana-mana ada cermin besar-besar") sepertinya gadis ini benar-benar sibuk mengagumi setiap hal dalam dirinya dan di sekitarnya.

***
Ketiga gadis itu akhirnya tiba di sebuah taman di Fakultas mereka. Duduk santai di bawah Pohon.

"Beli es cream yook." celetuk gadis berkulit putih.

"Aku kenyang." jawab si hitam manis.
 
"Tumben si bebeb kenyang." Ucap si sawo matang dalam hati. "Yaudah deh kita minum es." Ucapnya kemudian.

Gadis berkulit putih itu mengalah, mengeluarkan dompet dari tas, dan menarik selembar uang lalu pergi. Membeli es cream. Sementara dua gadis lain sibuk duduk di kursi taman, sambil terus berselfie ria.

Seketika sosok itu datang. Seorang lelaki, mendekati gadis berkulit putih yang sedang memesan es cream. Gadis berkulit putih berbincang dengannya, kemudian menyerahkan es creamnya kepada kedua sahabatnya. Dan kembali berbincang. Dengan siapa? Dengan lelaki itu.

Beberapa menit berlalu. Dua gadis sibuk selfie dan seorang gadis lainnya sibuk berbincang. Es cream perlahan mencair. Akhirnya tanpa dikomando si sawo matang menuntaskan es creamnya.

Gadis kulit putih masih terus berbincang. Masih dengan lelaki itu, sementara es sudah benar-benar mencair. Gadis berkulit putih itu lupa pada es di cup yang sudah benar-benar mencair.

Diam-diam aku mengamatinya, meniti senyumnya. ahhh... aku paham. Aku paham bagaimana dia melupakan es nya. Aku paham, ada asa yang medidih di dalam sana. Aku paham dan tidak ingin mengusiknya untuk sekedar memberitahu, es cream sudah mencair.

"Bebeb, saya bosan" Ujar si hitam manis.

"Sabar beb." 

"Lama benar loh mereka ngobrolnya."

"Yah, namanya orang lagi jatuh cinta beb."

Perlahan wajah kedua gadis itu mulai meredup. sepertinya mereka ngantuk. Lalu gadis hitam manis menyandang ranselnya dan berlalu meninggalkan gadis sawo matang. 2 menit kemudian si sawo matang juga berlalu. 

"Hei, tungguin." teriak gadis berkulit putih. Namun gadis sawo matang itu berlalu begitu saja.

Apakah mereka marah? tanyaku dalam hati. Naun setelah 3 menit kemudian aku tersenyum. kedua gadis itu muncul kembali. mereka hanya mempermainkan gadis berkulit putih itu.

"Kami jalan kedepan ya, ntar kita jumpa di sana aja deh." ujar gadis sawo matang kepada gadis berkulit putih.

"Oh... minta es cream aku dong." jawab gadis berkulit putih.

"Sudah terkontaminasi." Sahut gadis sawo matang.

Lalu kedua gadis itu pergi. Di tengah jalan saat menusuri koridor kampus tiba-tiba gadis sawo matang itu berhenti.

"Beb, tau nggak bunga ini?" dia menyentuh tumbuhan hijau dengan bunga berwarna merah yang tumbuh berjajar di tepi koridor.

"Kenapa beb?"Tanya si hitam manis.

"Saat dulu aku jatuh cinta bunga ini setinggi betis, saat aku pacaran bunga ini selutut, Waktu aku patah hati bunga ini masih sedikit melewati lutut, Sekarang bunga ini sudah setinggi ini."

"Oh, aku gak pernah perhatiin bunga ini bebeb, tapi unik bunganya. apa ya namanya."

"Nggak tau beb aku lupa."

"Sudah lebih tinggi dari aku bunganya beb."

"Diam-diam bunga ini jadi saksi akan keadaan hatiku. Hahaha. Tapi gak nyangka bunganya sudah setinggi ini, sejak aku patah hati aku udah gak pernah merhatiin bunga ini beb.'

Lalu mereka berlalu. Dan duduk, di area parkiran. Tepatnya di bawah pohon beringin. Entah bagaimana pembicaraan mereka beralih ke kata cinta.

"Bebeb. Katanya jangan bermain dengan cinta dengan mausia." ucap si hitam manis.

"Jadi main cinta sama apa dong?"

"Sama buku beb."

"Lalu menikah dengan buku ya?"

"Bermain cinta dengan buku, tapi menikahlah dengan manusia."

"Menikah tanpa cinta beb? Menurut bebeb, bagaimana orang bisa menjadi dekat. Karena rasa cinta atau sekedar kesamaan?"

"Kesamaan beb. Sama-sama suka baca, sama-sama suka nonton. Sama-sama suka ini-suka itu."

"Setidaknya sama-sama menyukai sesuatu kan beb?"

"Iya bebeb."

"Menyukai sesuatu itu artinya mencintai sesuatu."

"Hmmmm..."

"Mereka dekat karena ada kecintaan akan hal tertentu, artinya mereka dekat karena cinta."

"..................."

"Ahhhhh... bingung."


Ketiga gadis itu. Persahabatan mereka mencair begitu saja. Dan mengalir indah menyejukkan relung hati yang dilanda gundahnya cinta dan tugas kuliah.

Mereka belajar dan berbagi bagaimana menghadapi hidup. Begitulah sahabat. Mereka terjalin untuk saling berbagi.

***
Ada gunung es antara kita

Yang bersaksi tentang pertemuan

Gunungan es yang bila mencair nanti

Mengalir membawa aku dan kamu kedalam sebuah hubungan

Teman. Sahabat. Kerabat. Pacar.

Ada cinta yang bersembunyi diam-diam dalam bongkaha es

Bongkahan es diantara kita

 

Senin, 23 Maret 2015

Amarah

Pernah punya sesuatu yang membuatmu bahagia??

Pernah punya seseorang yang membuatmu jatuh cinta??

Pernah gak mengalami kejadian yang membuatmu benar-benar kesal?


Pernah dibuat pada kondisi dimana hatimu benar-benar kacau?

Atau pernah punya kenangan yang benar-benar ingin kamu bunuh dari ingatan namun tidak pernah berhasil membunuhnya??

Aku punya. Aku juga punya semua itu. Aku pernah bahagia, pernah jatuh cinta, pernah kesal, pernah dibuat kacau, dan pernah ingin membunuh kecintaanku pada sebuah kenangan.

Tapi aku gagal. Aku tidak pernah berhasil membunuh kenangan yang meracuni setiap sudut ingatanku. Aku tidak pernah bisa melupakan satu kejadian kecil sekalipun dari kisah yang ingin kulupakan.

Pada akhirnya kenangan akan rasa cinta, kenangan akan kebahagiaan, kenangan akan rasa sakit benar-benar menekan dan pecah dalam hati dan pikiranku.

Aku tahu mungkin aku tengah terluka.

Lalu aku sibuk mengobati luka-luka. Sibuk merekatkan serpihan-serpihan hati. Aku terlalu sibuk.Sibuk membenahi ini.
 

Aku sibuk dengan kesakitan luka-luka itu, hingga aku lupa. Aku lupa bahwa aku belum melepaskan cintaku padanya, aku lupa aku belum melepas benciku pada dia yang kini bersamanya. Bahkan lebih parah lagi aku lupa bagaimana caranya jatuh cinta.

Aku sibuk menjaga kepingan-kepingan hatiku, dan merasa seolah-olah aku jatuh cinta. Hanya saja aku lupa untuk membedakan cinta, amarah, benci dan dendam kali ini.

Aku melihat kenanganku dengan orang lain, aku ingin buktikan aku juga bisa. Aku gagal membedakan cinta dan ambisi kemarahan.

Suatu hari ditengah kesibukanku menata hati, aku berhenti. Aku belajar tersenyum lagi. Belajar bahwa bersyukur akan membuatku lebih bahagia.

Tengah aku belajar untuk memiliki sebuah senyuman, bayang-bayang kenangan terus menggangguku. Menjelma menjadi mimpi buruk dalam setiap mimpiku. 

Mereka, yang menyakitiku. Ya, mereka sepasang insan yang berkhianat terhadap perasaanku, bermain api dibalik punggunggku. Mereka muncul kealam bawah sadarku.

Awalnya aku bertanya-tanya dalam pikiranku "apakah mereka adalah orang yang benar-benar sangat baik? akukah orang yang jahat?"

Pertanyaan ini yang terus terngiang menghantui kesadaranku.

Kusimpulkan sebuah jawaban, "Mereka memang baik. Mungkin aku pernah lebih buruk, tapi aku mau diproses menjadi lebih baik."

Aku mencoba berdamai dengan hatiku. 

Mencoba melupakan penolakan-penolakan yang membayangiku setelah penghianatan mereka. Mencoba berdiri tegak. Dan berbenah diri. Aku mengabaikan penolakan-penolakan itu. Lalu tersenyum pada dunia.

Namun, kembali lagi. Sepasang manusia itu muncul ke alam mimpiku. Menyiksa tidurku. Membangunkanku dengan banyak tanya. Salah satunya.

Dalam kisah lama ini, tidak bisakah aku memiliki mimpi indahku?

Lalu seseorang berkata padaku, "Kamu masih gagal melepaskannya, melepas cinta padanya dan melepas benci pada seseorang yang kini disisinya."


Setelah lama berusaha aku merasa sudah melepas semuanya. Hanya saja pertemuan tidak terduga dengan tokoh pembuat kisah masa lalu ini membuatku sering merasa kesal. Di koridor yang seharusnya kami bertemu pada sebuah titik, dia akan menghindar, menjauh dan menghilang.

Itu yang kubenci darinya. Angkuh, egois, penghianat. Ingin kuteriakkan makian ini diwajahnya. Lalu menamparnya.

Lupakah dia bahwa aku manusia? Manusia yang pernah menjadi tenpat untuk dia meneteskan air mata. Satu saja penolakan darinya sudah membuat hatiku pecah berkeping-keping. Mungkin dia lupa. Sikapnya yang terus memberikan penolakan ini akhirnya kubalas dengan penolakan yang serupa. Penolakan bahwa aku tidak ingin bersikap sebagai orang yang mengenalnya saat aku bertemu dia.

Memang aku tidak menghindari dia, namun dengan kepala tegak aku akan berlalu dan berusaha untuk menganggap dia tidak pernah ada.

Akhirnya kami sama. Egois dan angkuh. Bedanya aku tidak menghianati janjiku padanya. Aku bukanlah penghianat. Aku masih merasa menang. sebagai bukti aku benar-benar si egois untuk kisah ini. Aku mengakuinya. Amarah ini membakar hatiku yang hampir usai ditata ulang. Mungkin setelah padam nanti akan benar-benar merekat. Aku berharap anarah ini segera usai.


Senin, 16 Maret 2015

Siluet kenangan

"Pernah melihat sepasang kakek dan nenek yang saling mencintai?" tanya kakak ku malam itu.

"Pernah, waktu itu di perjalanan aku melihat sepasang kakek dan nenek tengah menunggu angkot." Jawabku.

"Bagaimana kamu tahubahwa mereka saling mencintai?"

"Saat angkotnya datang, si kakek membantu nenek naik ke angkot. Kakek itu menggenggam tanganya." Lalu aku tersenyum.

Sekilas, siluet kenangan itu bermain dalam otakku.

Aku, kamu, dan sepasang kakek-nenek di pinggir jalanan kota sore itu. Apa yang kita lakukan saat itu? kita berdiri memandangi pasangan renta itu. Sampai akhirnya sebuah angkot berhenti di hadapan mereka dan mereka pergi.

Pemandangan itu begitu indah, dan semakin indah saat si kakek menggenggam tangan pasangannya untuk melangkah menaiki angkot. Aku hanya tersenyum mengamati keindahan itu.

"Aku ingin kita seperti itu, tetap bersama sampai kita setua itu, bahkan lebih tua dari itu." Ucapmu tiba-tiba.

Aku diam tanpa kata-kata. Kata-katamu selalu cukup untuk membuatku terpesona dan semakin jatuh cinta kala itu.
***

Sudah lama. Goresan kenangan itu sudah lama. Lukanya memang menyisakan bekas, namun tidak terlalu sakit lagi. Perlukah lagi kutanyakan bagaimana kabarmu? atau perlukah kunyanyikan padamu "sedang apa dan dimana?"

kita sudah jauh. Jauh sekarang. aku tidak ingin memulai hubungan apapun denganmu. Termasuk menjadi temanmu. Maaf untuk saat ini aku belum ingin.

Kenangan itu terlalu segar dalam ingatanku. Begini saja rasanya lebih baik.

Suatu saat kita akan seperti sepasang kakek-nenek itu. Terus jatuh cinta setiap hari. Semakin jatuh cinta satu sama lain, selalu bersama dan saling menjaga. Benar, kita ingin seperti itu. Benar bahwa kamu inginkan hal itu terjadi dalam hidup kita. Namun yang tidak benar adalah bahwa kamu tidak sungguh-sungguh sedang jatuh cinta padaku saat itu. Sehingga tidak benar terjadi bahwa saat menua nanti kamu akan menuntunku berjalan dan menggenggam tanganku seperti hari itu.


Yang sebenarnya saat itu adalah kamu sedang mengagumi sosok ini. Kamu mengaguminya yang terlihat kuat. Hingga akhirnya kamu putuskan untuk pergi. Tidak salah  kamu tinggalkan aku. Tidak salah jika kita berpisah. Hal yang salah adalah kamu menugasiku untuk membuatmu terpesona lagi.

Andai saat itu aku tahu kamu sedang memberi harapan palsu padaku. Aku tidak marah lagi, aku tidak mencintaimu lagi, tidak menunggumu lagi. Aku hanya nyaman begini. bersikap seolah tidak mengenalmu. Aku bahagia begini.

Kamis, 12 Maret 2015

Sajak Hati Si Perindu



Dimana??? Kapan??? Bagaimana kita akan bertemu??

Jika selalu langkah kaki ini yang terus mencarimu, sungguhlah hati ini tengah bertepuk sebelah tangan.

Bagaimana jika langkah ini menghindarimu, menjauh darimu, akankah kamu mencarinya?

Menusuri setapak jalan yang dipenuhi banyak pesona untuk satu tujuan kasihmu.

Apakah yang tengah kau tuju? Dermaga mana yang akan dilabuhi hatimu?

Akukah? Akukah yang tengah kau cari jua?

Ahhhh... biarkan aku menghilang sejenak dari pandanganmu, agar aku menguasai imajimu, biar nalurimu meronta untuk menjawab tanya akankah berdiam diri atau bergegas mencariku?

Aku menghilang kini bukan egoku. Aku hanya ingin kita bertemu. Bertemu disuatu ruang dan waktu. Ruang dan waktu yang tidak kutentukan sendiri.

Aku ingin kita bertemu lagi. Bertemu bukan karena aku terus mencarimu hingga mendapatkanmu.

Aku ingin kita bertemu lagi, pertemuan saat hatimu memutuskan untuk menemukan aku.

Menemukan aku yang tengah menunggumu.

Aku ingin kita bertemu lagi. Ingin bertemu bukan sekedar karena kita saling mencari.

Aku rindu kita bertemu lagi. Pertemuan yang tengah dirancang oleh-Nya Sang Pencipta untuk menata langkah kita, melewati setapak jalan dengan sejuta pesona dan goresan luka, namun diujung persimpangan kita bertemu di satu titik yang sama.

Titik yang tidak pernah kita rencanakan. Pertemuan yang hanya kita rindukan. Aku hanya ingin kita memiliki itu.

Dan bila kita bertemu, aku tidak ingin kembali. Aku tidak ingin kamu kembali. Hanya ingin kita memulai. Kita memulai untuk merajut hidup bersama.


Akankah kau mencariku? Sudikah kau mencariku? Atau, apakah selama ini hanya aku yang tengah sibuk mencarimu?

Aku ingin jawabannya, maka aku harus menahan rindu ini. Agar tidak terus mencarimu.

Sampai bertemu di titk itu. Titik yang akan menyatukan kita. Jika kita tidak pernah bertemu di situ, mungkin bukan kita. Mungkin bukan kita. Walau sejujurnya saat ini aku sangat rindu.

Selasa, 10 Maret 2015

Badai... aku akan kuat

Sangat jarang aku ingin mengetikkan perasaanaku di sini. yah, karena aku memang punya diary yang terbuat dari botol dan kertas (hahaha). Jadi begini ceritanya, aku punya kebiasaan memotivasi diriku sendiri dengan menulis ucapan-ucapan penyemangat dalam sobekan-sobekan kecil kertas warna-warni yang kemudian aku simpan dalam botol transparan. Setiap kali aku down aku akan membuka kembali tulisan-tulisan itu, membaca satu persatu dan mengenang betapa banyaknya aku telah berusaha menjadi kuat. Hahahaha

Trus apa hubunganya sama tulisan ini? kayaknya nggak ada deh. Cuman sekedar bukti aja kalau aku memang jarang mengetik apa yang ada dalam hatiku dalam sebuah catatan di FB atau di Blog, walaupun kadang-kadang mungkin jika sudah sangat tertekan dan mengena dihati aku akan melakukannya.

Untuk kali ini aku ingin berbagi tentang menemukan semangat dalam diri kita sendiri. Semangat yang selalu kuteriakkan atau kamu teriakkan pada temanmu, pernahkah kamu teriakkan kata semangat itu pada dirimu sendiri??

kalau belum pernah, detik ini juga coba ucapkan "Semangat ......!!!! Semangat ..... sayang!!! " tanda titik-titiknya isi dengan namanmu.

kembali lagi ke ceritaku. Hari ini aku benar-benar down. sudah berkali-kali aku mengucapkan keluhan-keluhan yang tidak layak kepada sahabatku. Aku lelah sakit, aku jenuh dengan sakitku. Aku bosan sakit. semua keluhan-keluhan itu. Puncaknya saat aku tiba di kamar kost ku sore ini aku benar-benar berada dititik pencapaian batas akhir semangatku.

Banyak beban dalam pikiranku, tentang tugas akhir, tentang persahabatan, tentang relasi dengan orang-orang, tentang sikap seseorang dan beberapa orang, terlebih lagi tentang adikku. aaaah, semua seperti tumpukan batu sekian ton yang menghantam kepalaku.

Aku tertekan, aku lelah dengan semua ini sejak seminggu terakhir dan puncaknya aku jatuh sakit. Setibanya dikamar aku langsung mencepol rambutku dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. "Ingin pulang kampung" ucapku dalam hati.

Aku mulai membayangkan, betapa menyenangkannya rumah. Dimanja, disayang, dimasakin makanan kesukaan, diturutin melakukan hal sesuka hati, aaaah sangat menyenangkan ditambah lagi mengeluh sepuas-puasnya tentang apa yang sedang kuhadapi, betapa nyamannya pulang kerumah.

Lalu kepalaku semakin sakit, kucoba untuk memejamkan mata. Namun yang terjadi bukan terpejam malah berair. Klimaks. yahhh... klimaks akhirnya aku menangis. Lalu aku berfikir, ahhh, secengeng inikah aku???

sempat kubuat status di FB tentang tangis menangis ini, entah kenapa aku sangat ingin menghapusnya lalu menggantinya dengan status berikut ini:

"Diterpa badai :/

Kuatlah tiww, pasti berlalu juga :)"

akhirnya dikoment seorang dosenku, dan mendapat dukungan untuk tetap semangat (makasih banyak untuk suport ibu itu)


tiba-tiba saja pemikiran-pemikiran ini melintas dikepala ku. Menjadi lemah dan cengeng, terus pulang kampung dan mengeluh-mengeluh tentang semua ini, setega itukah aku menambah beban pikiran orang tuaku??

masih kurangkah mereka berjuang habis-habisan untuk kehidupanku?

Aku harus kuat. ya aku harus kuat, belajar berdiri di atas kakiku sendiri, melangkah maju walau tidak jarang aku jatuh dan menjadi sakit. Itu semua belum akhirnya, itu semua bukan tujuan utamanya.

Lebih dari itu, senyum bahagia mereka itulah yang ingin kuukir. Itulah pencapaian yang ingin kutuju. Sebab mereka hanya akan menjadi berbahagia saat melihatku menjadi seseorang yang kuat dan tangguh. Gadis kecil mereka pulang bukan untuk menangis tapi untuk mengatakan "aku mendapatkan kebahagiaanku" itulah bahagia mereka.

Sekuat apapun badai aku masih memiliki kekuatan dalam cinta kedua orang tuaku dan cinta Tuhan kepadaku.

Badai... aku akan kuat. semakin diterpa, semakin kuat :)

Senin, 09 Maret 2015

Ingin Jatuh ke Langit

"Aku ingan jatuh kelangit" isakku perlahan sambil memandang tanah merah dihadapanku, tanah merah yang kini menjadi tempat beristirahat orang-orang yang kusayangi.  Mama ku akhirnya menyusul Papa, mereka meninggalkanku sendiri, sebatangkara kini.
Ya, aku ingin jatuh kelangit tempat dimana mungkin aku akan menemukan seorang Ayah dan Ibu.

"Yang kuat ya Clara" sebuah tangan meremas pundakku. Tangan yang sangat kukenal. Tangan miliknya yang telah berhasil menyakiti hatiku. Aku tak bergeming. Untuk apa? Untuk apa dia menghiburku? setelah berhasil mencampakkanku begitu saja? Aku tidak butuh belas kasihan darinya.
"Kamu pasti bisa melalui semua ini" ujar perempuan itu. Suaranya berhasil membuatku bergeming, dan menoleh kepadanya. "ARRRGH, Gadis ini" erangku dalam hati.

Dia tersenyum "Semangat Clara". 

Lagi dan lagi. Dia tahu betapa aku terluka. Dia mengerti aku sakit atas hubunganya dengan lelaki itu, tapi kenapa dia bersikap begitu? mendorongku agar semangat lagi. Tuluskah ucapanya? palsukah senyuman itu?

Perlahan gerimis turun, membasahi area pekuburan, dan berhasil memboyongku bangkit berdiri dan turut pulang. 

"Ahhh, langit kau selalu saja mengerti kesedihanku" batinku.

***

Happy birthday to you...

Happy birthday to you...

Happy birthday... Happy birthday...

Happy birthday Clara...

10 Maret 2015, pukul 00.05 mereka menyerbu kamarku dan berhasil membuatku terbangun. Teman-teman satu kostku. Aku tersenyum mengingat usiaku sudah 21 tahun dan hidup ku tanpa orang tua. Ingin rasanya seperti mereka, mendapatan pelukan dan kecupan manis dari orangtuanya dihari kelahiran.

Aku memandang temanku satu persatu, Silvi yang centil dengan rambut kepang duanya, Dhea si gembul, dan Kayla si feminim yang pendiam. Aku menghabur kedalam pelukan mereka, tanpa peduli pada lilin yang bercokol diatas kue tart.

"Yaa ampun Cla, tiup lilinya dulu dong" omel Silvi.

"Oke, oke..." ucapku datar.

"Wait, make a wish dulu" teriak Silvi sekali lagi.

"Arrrgh, ribet banget lu Sil" ucapku.

"Cla, make a wish dulu ya" ucap Dhea  menimpali.

"Tuhan, aku ingin jatuh kelangit" Ucapku kemuadian meniup lilin sambil tersenyum licik.

"Cla???" ucap Kayla sambil melongo bego.

"Loh? La... muka lo asli bego banget" ucapku sambil tertawa lepas.

Akhirnya tradisi suap-suapan kue tart pun usai, dan mereka kembali ke kamar masing-masing. Aku berjalan kearah jendela, lalu memandang Langit.

3 tahun sudah mama tiada, bahkan Papa, aku tidak sempat mengenalnya. Clara terseret kembali dalam kenangan itu.

"Ma, apa papa nggak sayang sama Clara?"

"Papa sayang, sangat sayang sama Clara, dan Papa sayang mama nak."

"Lalu, kenapa Papa pergi meninggalkan kita Ma?"

"Karena Papa sangat mencintai Clara."

Aku tidak pernah mengerti bagaimana cinta Ayahku kepadaku, tidak karena aku belum sempat mengenalnya. Terlalu dini dia pergi meninggalkanku. aku tidak mengerti perasaanya. Tidak, sampai akhirnya Mamaku menderita penyakit itu 4 tahun lalu. Penyakit yang akhirnya memisahkanku dengannya.

"Dok, mama saya kenapa?" 

"Ibu anda menderita leukimia, saya sudah pernah mengingatkannya sebelumnya."

"Mengingatkan sebelumnya? maksud anda apa Dok?"

"Sekarang usia kamu berapa Clara?"

"17 Tahun Dok."

"Ternyata sudah 17 tahun, artinya sudah 15 tahun berlalu."

"Maksud anda apa Dok?"

"15 tahun yang lalu, saya merawat seorang anak perempuan yang menderita penyakit yang sama dengan Ibu kamu."

"Maksud dokter Leukimia? apa yang terjadi pada anak itu Dok? kemudian apa hubunganya dengan Mama saya dok?

"Anak itu baik-baik saja sekarang. Karena dia mendapatkan donor sum-sum tulang belakang dari ayahnya, maka dia dapat diselamatkan."

"Jika begitu lakukan hal yang sama dengan mama saya Dok, tolong berikan sum-sum tulang belakang saya untuk mama Dok." aku mulai terisak.

"Clara, gadis kecil yang saya ceritakan itu kamu nak, ayahmu pergi setelah mendonorkan sum-sum tulang belakang yang dimilikinya kepadamu."

Seketika hening. hening. aku tidak mendengar apapun. aku mengerti kini. aku sangat mengerti. Mengerti cinta Papa dan mamaku.

Lalu aku berlari keruang perawwatan mamaku, pergi tanpa menghiraukan dokter itu. 

"Ma...."

"Iya sayang."

"Aku sangat bahagia karena memiliki Mama dan Papa yang sangat mencintaiku." ucapku sambil memeluknya dan menahan tangisku.

"Apakah kamu sangat bahagia?"

"Iya ma, sangat bahagia hingga aku ingin jatuh kelangit."

"Kenapa harus kelangit sayang?"

"Karena langit selalu terlihat sama ma. walaupun sebenarnya tidak selalu sama hanya saja setiap hari langit itu hanya berteman awan, bintang, nbulan dan matahari. Merekia selalu bersama, pasti langit tidak pernah kesepian kan ma?"

"Apa kamu merasa kesepian?"

"Tidak, karena selalu ada mama di sini dan Papa disini" ucapku seraya menunjuk kedalam kepala dan dadaku.

Lalu mama tersenyum.

"Mama dan papa selalu dalam ingatan dan hatiku selamanya."

mama memelukku, lebih erat lagi.


Namun akhirnya aku kehilangannya. Kehilangan mamaku setelah satu tahun kemudian. Hanya saja aku mulai belajar itu hanya masalah waktu. Tidak perduli kapan waktunya, suatu saat kami memang harus berpisah, tanpa peduli siapa yang lebih dahulu.

***

Aku masih memandang langit malam yang berselimut mendung. Gelap dan hitam tanpa bintang. Terlihat kosong. Hanya saja, siapa bilang langit kosong, siapa bilang langit kesepian? begitulah hatiku. aku memang terlihat sendirian. namun dihatiku aku mencintai mereka, Mama Papa dan sahabat-sahabatku. Itulah kenapa aku selalu ingin jatuh kelangit. karena aku sangat bahagia.