Aku memandang keluar dari jendela kamarku..
"Gerimis.." bisikku dalam hati.
lalu aku memalingkan arah pandanganku, seraya melangkah menuju cermin rias di sisi tempat tidurku. Dalam cermin itu kudapati bayangan seorang gadis pemilik mata sembab itu. Aku mengamati wajah itu.
"Siapa yang tau?" tanyaku lagi pada diriku sendiri.
yah siapa yang tau yang kurasakan sekarang.
"Hanya kamu yang tahu Rhena..." ujarku lirih.
***
seminggu lalu, aku akan menentukan langkahku. Namun sekarang langkah itu mulai tertahan oleh keraguan. Haruskah aku memutar arah ke sisi yang lain dari serpihan hati? ingin aku berlabuh di situ, namun sang dermaga seolah tak menyadari kehadiranku.
"Siapa yang tahu...? tanyaku lagi.
Yahh, benar siapa yang tahu betapa aku lelah mencari dermaga yang tepat unuk berlabuh. siapa yang tahu aku lelah mencari arah hati??
"Kamu??? kamu percaya yang namanya Soulmate Rhena?"
"Aku nggak tau Reihan..." jawabku singkat.
"Ooooh..."
"Yang aku tahu, Tuhan memberi kita waktu yang tepat untuk bertemu dengan orang-orang yang tepat dalam hidup kita" ujarku lirih.
"Rhe..."
"Ya...?"
"I'm so sorry but I love you so... maaf banget aku tau kita sahabat, tapi aku nggak bisa bohong sama hati ku Rhe..."
aku terdiam.. membisu. Andai Reihan tau isi hatiku.
Aku masih ingat bagaimana dua tahun yang lalu, sahabatku yang bernama Reihan itu tersenyum. sahabatku, yang katanya berubah memiliki satu rasa yang mereka sebut sebagai cinta. Yuuupz... rasa aneh yang mereka juluki cinta itu dia labuhkan padaku. Rasa yang dia ucapkan tepat di malam perpisahan waktu SMA itu.
Reihan... tiga tahun kami jadi sahabat. tiga tahun aku bertahan dalam pendaman rasa. Bertahan dalam sakitnya penantianku, haruskah kuakhiri malam ini? Reihan sahabatku yang tidak pernah tahu perasaanku, bahkan saat dia berusaha jujur aku hanya membisu. Malam itu berlalu disaksikan bintang di langit sana. Reihan, aku dan mereka menghabiskan malam hingga larut. Ruang dan waktu semuanya memisahkan kita. Reihan sahabatku itu, tidak pernah lagi menyapaku, atau sekedar memberi kabar kepadaku. Apa yang mereka sebut cinta itu sudah menjadi jurang dalam yang memisahkan aku dengan sahabatku.
***
Aku masih memandang wajah dalam cermin itu. bayangan yang kulihat kian memudar.
"sakit..." bisikku.
aku melihat kedua mataku, ada lingkaran hitam menghiasi kedua bola mataku.
"Ya Tuhan... aku sudah lelah, aku ingin terlelap untuk selamanya, aku ingin istirahat" bisikku lagi.
aku melihat mata itu lagi. Mungkin bukan saat yang tepat mata di balik cermin itu terjebak dalam mata sang lelaki itu. Bukan saat yang tepat lagi untuk menyimpan namamu di hatiku karena mungkin aku akan berlalu, dan tidak ingin meninggalkanmu bersama air mata.
"Dia tidak tahu..." ujarku lirih..
"Dia belum tahu betapa dia membuatku tersenyum lagi, lelaki itu tidak tahu bahwa aku juga tidak yakin tentang hari-hari yang kumiliki..." aku berbisik pada diriku sendiri.
Cintaku terlalu tidak adil untuk dirinya, cinta seorang pesakitan yang mungkin hanya akan meninggalkan air mata.
"Biarlah dia tidak pernah tahu,,," bisikku... lalu aku tersenyum.
Aku akan memandanginya, hingga hari terkhir aku bisa memandangnya. aku akan mengaguminya. aku menyayanginya, tanpa alasan yang bisa kujelaskan. namun, aku tidak ingin dia tahu. karena aku pun tidak tahu kapan waktunya, yang aku tahu aku akan segera berlalu.
"hmmmh... semoga dia bahagia" ucapku lirih.
aku melirik jam dinding doraemon di kamarku. sudah 00.07 dini hari. aku mengantuk, sangat. aku sakit, dan butuh istirahat, namun mataku enggan terpejam.
aku teringat kata-kata seseorang yang pernah mengisi hari-hariku...
"Tidurlah... malam sudah larut. jangan terlalu memikirkan semuanya."
air mataku menetes seketika, aku merindukannya juga. namun hanya ingin melihat dia bahagia dengan pilihan hatinya itu.
aku terdiam, sibuk memikirkan hatiku. aku ingin tidur.. langit itu sudah tidak biru lagi...
bersambung....
ini juga masih cuplikan :)
Hanya ada 26 alfabet dalam aksara, namun jika dirangkai menjadi untaian kata akan menjadi banyak peristiwa. Walau kata-kata itu kadang membuatmu sedih tetaplah tersenyum, karena ada banyak kata yang akan membuatmu lebih dari sekedar bahagia. Kita di sini, dalam permainan 26 alfabet.
Blue
Senin, 09 Desember 2013
Rabu, 04 Desember 2013
Lembaran Biru #Cuplikan
“Coba lihat ke atas sana…” bisikku perlahan.
Aku mengangkat kepala dan memandang hamparan biru di atas
ku, luas tanpa batas. Aku tersenyum dan mengangkat tangan kanan ku yang perlahan
menari diantara birunya langit, dan kutuliskan namaku “Rhena” .
sejenak aku tersenyum.
sejenak aku tersenyum.
Senin, 30 September 2013, 16.00 WIB @Taman kampus
Aku duduk tepat dibawah pohon
rindang. Masih sendiri, seperti biasanya. Aku sangat menikmati saat-saat aku
bisa menyendiri seperti ini, untuk merasakan bagaimana angin menyentuh kulitku,
melihat bagaimana daun-daun bergoyang, bahkan untuk sekedar menikmati daun-daun
kering yang berguguran diterpa angin.
Dalam diam aku menangkap sosok yang berjalan 3 meter dari tempat dudukku. Lelaki
itu. aku menundukkan kepalaku. Enggan untuk berbicara dengannya. Karena aku
takut, takut terjebak dalam hatiku. Dia berlalu, dan sama sekali tidak
menyapaku.
“Lelaki itu…” .
“Lelaki itu…” .
Aku tidak pernah berfikir untuk
memikirkan dia sebelumnya, yah sebelum dia menjebak aku dalam bola matanya. Sekarang?
Sekarang aku benar-benar terjebak dalam pandangannya dan aku berusaha untuk
berhenti memikirkan tentang dia.
***
Rabu, 04 Desember 2013
“Coba lihat ke atas sana...”
bisikku.
Aku melihat
langit itu...
birunya tertutup awan membentuk pola yang beragam berirama... layaknya sebuah seni... begitulah hidup... gak selamanya sebiru langit itu... tapi akan indah nantinya... walau sekarang benar2 belum ada arahnya namun akan bermuara juga nanti... walau telah membuatku bingung, benar2 bingung... aku masih ingin terus tersenyum... walau langit tidak biru hari ini... aku tersenyum, dan dengan sisa kekuatan ini kulukis mimpi di langit biru...
birunya tertutup awan membentuk pola yang beragam berirama... layaknya sebuah seni... begitulah hidup... gak selamanya sebiru langit itu... tapi akan indah nantinya... walau sekarang benar2 belum ada arahnya namun akan bermuara juga nanti... walau telah membuatku bingung, benar2 bingung... aku masih ingin terus tersenyum... walau langit tidak biru hari ini... aku tersenyum, dan dengan sisa kekuatan ini kulukis mimpi di langit biru...
Lebih dari 2 bulan. Aku terjebak
dalam bola matanya hingga aku benar-benar menghindari pandangannya. Aku tidak
ingin terjebak lebih dalam lagi dihatiku. Aku menutup telingaku untuk semua
tentang dia, aku menutup mataku dan tidak ingin melihatnya. Sampai pada hari
ini, aku menemukan arahku. Dan aku ingin mengalir menuju muara lewat arah yang
kutemukan ini. Benar aku takut untuk terjebak di hatiku, namun aku ingin
berlabuh di dermaga yang tepat. Aku lelah jika harus terus berlayar dan terus
mencari arah. Bagaimana dengan lelaki pemilik sepasang mata itu? harus kah aku
terkurung dalam bola matanya? Dan dia dalam hatiku? Pertanyaan itu, telah
kutemukan arahnya. Jalan ini akan kutelusuri dengan caraku, dengan topangan
kaki lemahku, dan tangan-Nya yang kokoh kuyakini akan menuntunku.
Sendirian, ya seperti biasanya aku
melangkah perlahan menuju kelasku, dan masih saja tanpa salah satu temanku.
“Coba lihat ke atas sana…” bisikku lagi..
Lembaran biru diatasku benar-benar dipermainkan oleh awan-awan itu, namun akhirnya telah ku menemukan arah itu... mungkin akan segera tiba dimuara... mengalir perlahan... terimakasih Tuhan... aku percaya semua indah pada waktu-Mu..
saat ini, inilah yang aku rasakan “orang yang mampu membuat kita tersenyum adalah orang yg juga memiliki potensi utk membuat kita menangis...” terimakasih telah membuatku merasakannya.
Terimasih sudah membaca tulisan saya. ini hanya gambaran dari cerita yang rencananya akan saya kembangkan menjadi sebuah cerita utuh. Kritik dan saran yang membangun sangat diterima :)
sumber gambar https://www.google.com/search?newwindow=1&biw=1024&bih=480&tbm=isch&sa=1&q=langit+mendung&oq=langit+mendung&gs_l=img.12...0.0.0.261050.0.0.0.0.0.0.0.0..0.0....0...1c..32.img..0.0.0.jzZJ_uNWdn8
Lembaran biru diatasku benar-benar dipermainkan oleh awan-awan itu, namun akhirnya telah ku menemukan arah itu... mungkin akan segera tiba dimuara... mengalir perlahan... terimakasih Tuhan... aku percaya semua indah pada waktu-Mu..
saat ini, inilah yang aku rasakan “orang yang mampu membuat kita tersenyum adalah orang yg juga memiliki potensi utk membuat kita menangis...” terimakasih telah membuatku merasakannya.
Terimasih sudah membaca tulisan saya. ini hanya gambaran dari cerita yang rencananya akan saya kembangkan menjadi sebuah cerita utuh. Kritik dan saran yang membangun sangat diterima :)
sumber gambar https://www.google.com/search?newwindow=1&biw=1024&bih=480&tbm=isch&sa=1&q=langit+mendung&oq=langit+mendung&gs_l=img.12...0.0.0.261050.0.0.0.0.0.0.0.0..0.0....0...1c..32.img..0.0.0.jzZJ_uNWdn8
Langganan:
Postingan (Atom)