Blue

Blue

Sabtu, 03 Oktober 2015

Sepucuk Surat Untuk Tokoh Pemeran Utama dalam Kenangan Tokoh Yang Memiliki Karakter Sangat Egois

 Teruntuk kamu orang yang memiliki kisah bersama seseorang yang dalam penilaianmu bersifat sangat egois.

Dimanapun kamu berada aku (sebagai penulis) dan dia si egois itu berharap kamu sempat membaca tulisan ini, kapanpun itu. Jika kamu membaca tulisan ini, tolong jangan berhenti sampai tiba dikalimat terakhir. Tolong jangan mengumpat maupun mencaci.

Si egois yang belum dewasa itu juga seorang manusia yang punya perasaan.
Dia bisa terluka sama hal seperti dia bisa jatuh hati.

Si egois yang belum dewasa itu akhirnya jatuh cinta, dan karena perasaannya sangat dalam di mata orang yang belum memahaminya dia terlihat semakin egois.

Padahal dia hanya sangat menyayangi orang yang akhirnya membuatnya jatuh cinta, sayangnya sikap tidak dewasa diantara keduanya membuat mereka gagal untuk saling memahami.

Sosok yang telah membuat si egois jatuh hati memilih untuk menyerah. Entah dia sadar bahwa keputusan yang dia pilih tidak hanya sekedar membuat si egois hancur hatinya dan terluka, tapi juga kehilangan banyak hal dari dirinya.
Dimulai dari kehilangan kepercaaan diri yang membuatnya semakin menutup diri hingga orang menilainya sombong.
Lalu kehilangan konsentrasi, dan kehilangan keberanian untuk jatuh hati lagi.

Entah dia yang masih terlalu naif, atau cinta yang tengah mempermainkannya. Tapi pada kenyataan kehilangan orang yang dicintainya membuat hari-hari siegois hanya berteman air mata.

Sudah pernah ada titik dimana si egois juga sadar, bahwa dia butuh hidup untuk dirinya sendiri, hingga suatu hari dia menemukan suatu kegiatan yang bisa membuatnya konsentrasi lagi. Kegiatan itu tidak lain adalah menari.

Si egois yang sudah memiliki usia hampir kepala 2 itu pun memulai melibatkan dirinya dengan tarian. Dia menari, menari dan menari. Karena menari benar-benar membuatnya tidak dapat membagi konsentrasinya untuk memikirkan cinta.

Semakin sering dia habiskan waktu untuk menari, membuat waktu yang terbagi untuk memikirkan sosok yang membuatnya patah hati semakin berkurang.

Mengapresiasikan banyak emosi dalam gerakan tarian membuat si egois dapat merasakan banyak emosi lagi. Bukan hanya rasa tersakiti, namun dalam tarian ditemukannya juga raca cinta. Rasa cinta yang mengalir tanpa henti dari Sang Penciptanya.

Perlahan-lahan rasa cinta itu membuatnya kembali hidup, mengubah caranya dalam menilai segala sesuatu hanya saja belum sepenuhnya mengubah kenyataan bahwa sebagian besar kepercayaan dirinya sudah hilang. Mungkin hanya butuh waktu untuk mengembalikannya.

Walau dia kehilangan kepercayaan dirinya, entah bagaimana si egois masih dapat berdiri tegak dihadapan orang banyak, menari di hadapan banyak mata yang melihatnya, dan terus tersenyum hingga menurut orang yang mengetahuinya namun tidak mengenalnya dia sangat bahagia, dan menurut orang yang mengetahuinya hanya sekedar saja dia terlihat begitu sombong dan angkuh.

Di lain pihak ada teman yang sangat mengenalnya, teman yang tahu betapa egoisnya dia, betapa kerasnya dia berusaha untuk terus bediri sambil berbenah diri, bahkan tahu betapa rapuh dan terlukanya dia. Dia memang egois, dia memang angkuh, bicaranya terkadang songong, dia juga menebar banyak canda tawa di tempat-tempat tertentu, tapi dia masih terluka.

Lukanya kali ini tidak hanya sekedar berbekas, namun juga belum sembuh bahkan hingga lebih seribu hari. Bukan berarti dia tidak berusaha mengobatinya. Berkali-kali dia mencoba membuka hati, namun saat dia membuka hati, apa yang dia dapati hanyalah kenangan dari masa lalu yang terus mengusiknya.

Berkali-kali dia membuka hati, dan mengabaikan perasaannya yang sesungguhnya. Menutup mata saat berpapasan dengan pemeran utama dalam ingatanya, dan menulikan telinga setiap mendengarnya berbicara. Hingga dia berhasil mengabaikan sosok itu, namun tidak juga berhasil menghapus perasaannya.

Namun ternyata ada titik dimana perasaannya berontak terhadap semua usahanya. Ada titik dimana perasaannya ingin meledak keluar. Setelah lebih seribu hari akhirna dia mengakui lagi, betapa dia merindukan sang pemeran utama kenangannya. Dia mengaku, bahwa dia masih gagal untuk berhenti menunggu.

Dan kini si egois berada pada puncak kebingungannya. Mengakui bahwa dia masih sangat mencintai sosok yang telah membuatnya jatuh hati malah memicu seluruh sarafnya untuk sadar betapa dia sudah kehilangan.

Kesadarannya tentang kehilangan membuatnya seperti kejang saraf. Pikirannya kembali tidak fokus, air mata satu persatu berlomba keluar. Berulang kali dia memaki diri sendiri mengatakan, "betapa bodohnya kamu, menunggu orang yang sudah mengatakan dengan pasti pada semua orang bahwa mustahil baginya untuk kembali. Memang pernyataan mustahil dia kembali tidak disampaikannya padamu, tapi pada sahabat-sahabatmu dan sahabat-sahabatnya."

Terus membodoh-bodohkan dirinya juga tidak mengubah kenyataan bahwa si egois itu masih tetap mecintai sang pemeran utama.

Kali ini yang ingin dilakukan oleh si egois itu hanya satu hal. Dia sangat ingin menghilang. Andai dia hilang mungkin ingatan tentang perasaannya juga akan hilang.

Andai sang pemeran utama tahu, bahwa luka yang banyak itu belum berhasil membuatnya berhenti jatuh cinta.

Pemeran utama, jika memang mustahil bagimu untuk kembali maka beritahulah padanya. Karena hanya itu satu-satunya cara untuk membuatnya benar-benar terluka lebih dalam. Mungkin dengan terluka lagi dia akan mendapatkan kesadarannya. Itu saja.

Bagaimana menurutmu pemeran utama? Apakah sisi yang kamu kenal darinya hanya keegosian dan ketidakdewasaannya selama ini? Toh bukankah kalian sama-sama tidak dewasa?

Apakah tulisan ini membuatmu sedikit lebih mengenalnya? Hal terpenting untuk kamu ingat, bahwa rasa sayangnya padamu lebih besar dari sikap egoisnya. Dia mencoba memahamimu, bahkan mencoba memahami alasanmu untuk melukainya. Hanya saja kamu terlalu naif dalam menilai dan meragukan perasaannya. Memang dia juga terlalu naif dengan cintanya, tapi cinta manakah yang tidak naif?

Sudahlah, terlalu banyak yang ingin kusampaikan padamu tentang si egois itu, tapi aku sadar tidak ada gunanya bagiku menceritakan semuanya di sini jika kamu sendiri tidak tertarik untuk memahami apapun tentang dia.

Mungkin kita biarkan saja hati si egois itu terus terluka hingga waktu yang memilih untuk tidak mempertemukanmu dan dia. Sama seperti kalimat yang selalu diucapkannya "andai saat ini salah satu dari kami dikirim ke timur, dan satunya lagi dikirim kebarat, mungkin jarak yang sangat jauh akan membuatku putus asa untuk mencintainya."

Hanya itu solusi yang terlintas dibenaknya, walau aku tahu bahwa dia pun ragu apakah dia sanggup untuk benar-benar tidak melihatmu lagi.

Sudahlah, lebih baik kuakhiri saja tulisan ini sampai di sini. Aku berharap tulisan ini dapat membantu.
Salam dariku,

Sang penulis surat

Selasa, 08 September 2015

Selamat Tinggal Kasih

Bilakah kau kembali kasih?

Mengusik kenanganku yang tidak kunjung usai tentangmu.

Bahkan jika kutunggu hingga akhir hayatku akankah engkau kembali?

Sedang akupun meragu akan kembalinya dirimu

Lalu, apalagi alasanku untuk masih menunggumu?

Aku hanyalah masalalu yang telah kau buang.

Sementara kamu adalah kenangan yang tertata rapi dalam ingatan.

Ingin aku berhenti menunggumu.

Ribuan kali telah kuucap selamat tinggal, namun belum pernah cukup untuk membawaku pergi.

Selamat tinggal lagi kasih.

Bilakah aku berhasil pergi dari rasa ini?

Meski tidak pernah lagi kutulis sajak perindu untukmu.

Tetap saja rinduku bersenandung untukmu.

Masih saja mimpiku dipenuhi bayangmu.

Kamis, 27 Agustus 2015

Aku dan Aku Sebagai Musuh Terbesarku

Hampir setahun lalu saat pertama kali aku mengetahui nama dosen pembimbing skripsiku. Beliau seorang Prof. dan sudah lama aku mengaguminya. Tapi saat aku mengetahui bahwa aku menjadi mahasiswa yang akan dibimbing oleh beliau, air mataku menetes dan kekhawatiran mendera semua sudut pikiranku.

"Kenapa harus aku? Kenapa, kenapa dan kenapa?" aku melontarkan pertanyaan itu berkali-kali.

"Bagaimana jika begini?"

"Bagaimana jika begitu?" Aku benar-benar menjadi sigusar hati.

Lalu aku mulai mempelajari semua kondisi yang muncul dihadapanku, hari lepas hari selama aku menerima bimbingan dari beliau. Semua hal terasa luar biasa, dan aku semakin mengagumi pola berpikir beliau. Kreatif dan inovatif. 
***

Jatuh dan bangun berkali-kali, itu yang kumiliki selama proses pengerjaan skripsi demi gelar sarjanaku. Berkali-kali aku jatuh dalam ketakutan-ketakutan dari dalam diriku, dan dengan segenap kesadaran akalku, permohonan kekuatan daripada-Nya kunaikkan tanpa henti.

Saat aku berhasil melawan ketakutan-ketakutanku, tiba-tiba saja aku jatuh dalam mental seorang yang gagal. Seorang yang merasa gagal. Bagaimana tidak? Teman-temanku sudah sidang. Sudah meraih gelar Sarjananya, sementara aku? Aku belum juga melaksanakan penelitianku dikarenakan libur sekolah dilanjut dengan libur puasa dan lebaran hingga sekitar 6 minggu. Setiap menit kugunakan untuk merepleksi diri, dan berjuang keluar dari penjara pikiranku tentang kegagalanku. 

"Kita bisa mengejar sidang detik-detik terakhir."

Itulah kesepakatan yang akhirnya kupegang bersama diriku sendiri, untuk aku bisa bangkit lagi. Kemudian tahun ajaran baru dimulai. Selama 2 minggu penuh aku mengerjakan penelitianku. Setiap hari tanpa henti, berpindah dari satu sekolah kesekolah yang lain lalu mengakhiri perjalan hari itu kekampus sebelum kemudian kembali ke kost dan mulai menyentuh data-data penelitianku. Hari-hari yang panjang. Hari-hari yang sibuk mengingat populasi penelitianku adalah siswa kelas IX di SMP Negri se-Kota Medan. Hari-hari yang membuatku lupa bahwa kesehatanku mulai terabaikan. Aku lupa kesehatan sebagai hal penting, aku berfokus pada keinginan untuk mengejar deadline sidang. Aku lupa bahwa mengerjakan dengan benar jauh lebih baik daripada mengerjakannya secara membabi buta.

Minggu berikutnya demam menemani hari-hariku. Seminggu penuh tidak dapat melakukan apa-apa. Seminggu untuk kembali berdamai dengan pikiran dan hatiku. Menata ulang program pribadiku. Lalu aku mulai menyadari bahwa pentingnya gelar sarjana tidak sepenting kesehatanku. Katakanlah sebuah nama dengan gelar yang luar biasa tapi nama itu tinggallah nama saat pemiliknya sudah tiada. Bahkan jika pemilik nama itu sudah tidak produktif lagi untuk mendonasikan gagasan dan kemampuannya bukankah nam dan gelar mulai tidak berarti apa-apa?

Lalu aku memilih kesehatanku dan mengerjakan tugas akhir sesuai dengan standar kemampuanku sambil terus menggunakan seluruh inderaku untuk memperhatikan sekitarku, siapa tau aku dibutuhkan untuk membantu seseorang dan menjadi berkat.

Akhirnya inderaku menangkap beberapa sinyal permintaan bantuan, alih-alih membantu aku yang menjadi musuh bagi diriku sendiri malah tanpa sadar sudah menjebak orang yang kubantu dengan memberikan dua pilihan kepadanya. Katakanlah kamu dengan seorang teman akan menyebarangi sebuah sungai yang tingginya hanya selutut. Disana ada jembatan, hanya saja jembatan itu terlihat baik digunakan namun sebenarnya  mulai goyang dan ditumbuhi semak berduri. Akankah kamu membawa temanmu menyebrangi sungai lewat jembatan tersebut? Sementara pilihan berikutnya kamu dengan temanmu dapat menyebrangi sungai dengan masuk kedalamnya. Sekalipun kalian akan ditekan arus sedikit demi sedikit, dan temanmu belum tahu bagaimana kondisi sungai itu bukankah sedikit banyaknya kamu bisa mencari tahu? Dari pada membiarkannya memilih sendiri hingga akhirnya dia lebih memilih jembatan yang terlihat baik hanya karena ketakutannya terhadap arus sungai yang tidak pasti. 

Itulah yang kulakukan, aku membiarkan temanku memilih jembatan itu. Berada di zona nyamannya. Hingga akhirnya sekarang dia berdiri ditengah jembatan, dan aku tersadar seperti terbangun dalam mimpiku. Menyadari betapa jahatnya aku sebagai seorang teman. Alih-alih menjadi berkat aku malah nyaris jadi batu sandungan. Akhirnya aku memutuskan untuk menjemput temanku dari tengah jembatan, membawanya menyebrangi sungai dan membantunya hingga tiba diseberang. Meskipun bukan aku melainkan dialah yang telah memilih jembatan namun aku tetap diposisi yang layak dipersalahkan, karena aku tidak memperjelas kepada temanku mana bahaya yang sesungguhnya. Bukankah jika kami memilih menyebrangi sungai setinggi lutut itu masih banyak cara baik yang dapat ditempuh tanpa harus menggunakan jembatana goyah bersemak duri yang terlihat baik namun menyimpan ancaman bahaya disetiap incinya? Toh kami masih bisa membuat rakit bersama-sama jika kami masih takut akan bahaya dari dalam air sungai itu.

***
Betapa aku benar-benar adalah musuh terbesarku. Sekuat apapun keinginanku untuk menghindari hal-hal yang tidak benar aku masih bisa terjebak di dalamnya. Namun hal yang luar biasa adalah Penciptaku yang senantiasa membangunkanku dari kesalahan-kesalahanku yang terasa nyaman, dan menuntun aku keluar dari sana.

Akhirnya semua tentang pengerjaan skripsi ini memberikan banyak pelajaran berharga padaku. Tentang menjadi diri-sendiri, berdiri diatas kakiku sendiri, dan menjunjung tinggi kejujuran di dalamnya. Walau tidak secepat proses orang lain.

Jumat, 24 April 2015

Dia Yang Menulis Cinta

Cahaya temaram menyinari buku dihadapanku. Aku membaca tulisannya. Kita mendengarkannya. Ya, kita. aku dan kedua kakakku sekaligus kedua sahabatku. Sebut saja nama mereka Rapunzell dan Barbie. Rapunzell seorang alumni, sedangkan Barbie satu kelas denganku. Nah, untuk aku sendiri kalian boleh menyebutku Princess. Tidak perlu bertanya kenapa nama kami begitu kekanak-kanakan. Ini hanya sebuah kisah. 

Aku membaca kata demi kata, menyatukan kalimat demi kalimat. Lalu aku berhenti membaca. Satu sub-topik selesai kubacakan. Tentang kisah cinta.

Lalu kami memulai sebuah diskusi kecil. Kakak Rapunzell memandu kami membaca kisah pertemuan Adam dan Hawa. Kisah cinta abadi yang tertulis di dalam Kitab Kejadian. Kami membacanya, ayat demi ayat. Dan mendiskusikan makna dalam setiap kata yang tertulis di dalamnya.

"Silahkan Princess, apa yang bisa kamu sampaikan sesuai kisah yang sudah kita baca?" Rapunzell membuka diskusi.

"Tuhan menciptakan dan memilih hawa untuk Adam. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, mungkin tujuannya agar benar-benar sepadan. Sesuatu yang berasal dari tubuh kita pasti memiliki fungsi fisiologis yang sesuai dengan tubuh kita."

"Bagaimana dengan pendapatmu Barbie?"

"Sama kak."

"Apanya yang sama dek?"

"Benar seperti yang dipaparkan oleh Princess, hanya saja sedikit tambahan menurut aku kenapa Hawa harus dari tulang rusuk Adam, yah supaya benar-benar dikasihi sama seperti Adam mengasihi dirinya sendiri."

"Iya benar." Ucap Rapunzell

"Rusuk itu melindungi organ vital kak, dan lagipula dekat kehati." Ucapku tersenyum malu-malu.

"Princess benar, dekat kehati, dekat ke organ vital, Hawa itu seorang penolong yang harus ditempatkan di sisi Adam, bukan seorang pemimpin kehidupan bagi Adam bahkan bukan seorang pekerja."

"Benar itu kak, itulah mengapa suami yang menjadi kepala keluarga bukan si istri." Si Barbie angkat bicara.

"Jadi, menurut kalian kenapa dalam kisah yang kita baca, Tuhan membuat Adam terlelap saat Hawa diciptakan? kenapa tidak dibiarkan saja terbangun?" Rapunzell kembali bertanya.

"Karena Tuhan punya otoritas penuh kak, dia punya rencana penuh dalam kisah cinta Adam." Jawabku

"Agar lebih surprice kak." Barbie menimpali.

"Jangan bilang Barbie ingin seperti itu. Tiba-tiba saat bangun tidur ada lelaki disebelahmu, dan kamu berkata, inilah lelaki yang Tuhan kirim untukku." Ucap Rapunzeel

"Kalau itu terjadi, kakak seharusnya ketakukan, siapa tau dia maling yang masuk kekamar lewatt jendela" Ucapku sambil tertawa nyaring.

"Benar itu Barbie." Rapunzell menimpali.

Barbie hanya bisa tertawa mendengar komentar kami.

"Saat tidur Adam berserah penuh, artinya urusan cintanya pun sedang diserahkan sepenuhnya ketangan Tuhan, jika demikian seharusnya kita berserah penuh dalam penantian cinta kepada Tuhan kan dek? kita harus percaya penuh, sebab Dia yang punya otoritas, punya rencana dan pilihan terbaik. Tapi bukan berarti kita berdiam dan menunggu di kamar saja kan?" Rapunzell menjelaskan.

"Kita punya tugas." Ucap Barbie

"Ya, tepat. seperti Adam yang ditugaskan untuk memberikan nama kepada hewan-hewan, mengelompokkan mereka berpasangan, kita juga punya tugas yang harus kita kerjakan. Tugas dari Tuhan, tugas yang harus kita selesaikan dengan setia."

Aku hanya terdiam, Tanpa komentar saat mendengar kata tugas dan setia. Aku lebih kepada menginstropeksi diriku sendiri.

"Kerjakanlah bagian pelayananmu, dan percayalah Tuhan yang menulis cinta untukmu." Suara Rapunzell terdengar jelas ditelingaku.

Kami terus berdiskusi, tentang menyikapi rasa jatuh cinta dan harapan di masa depan. Hingga akhirnya kami tiba dalam sesi kriteria calon teman hidup impian. Aku dengan temanku Barbie menyebutkan kriteria-kriteria kami. Ada beberapa kriteria, namun yang berada di nomor urut pertama adalah "Seorang Pria yang mencintai Tuhan lebih dari apapun di hidupnya". Disusul oleh ciri spesifik lainnya.

"Jika kalian menginginkan kriteria-kriteria yang baik akan kalian temukan, berjuanglah dek. Berjuang untuk menjadi seseorang yang karakternya ada sebagai karakter orang yang kalian  harapkan. Berbenah dirilah, lebih lagi. Seiring waktu kalian berbenah diri, penantian itu pasti akan terjawab juga."

Diskusi kami berlanjut, sampai hampir pukul 21.00. Ada setitik terang menyusup kehatiku, ada kebahagian besar bergemuruh di dalam sana. Ahhh... Bahagianya saat menyadari bahwa Tuhan benar-benar menulis cinta untukku. Dan sudah lama aku jatuh cinta pada-Nya. Cinta yang tidak dapat kutuliskan kepada Dia yang tidak dapat kulukiskan.

Tahu tidak? Bukan hanya untukku, dan kedua kakakku dalam cerita ini. Tapi untuk kamu yang sekarang membaca tulisan ini percayalah "Tuhan sedang menulis cinta untukmu, Dia rindu untuk menulis cinta dalam hidup setiap orang, bagaimana tidak Tuhan adalah cinta itu sendiri, itu faktanya."

Tersenyumlah.. :)

Sabtu, 18 April 2015

Mata

15.15
Angin mulai memenuhi kamarku. Terasa sejuk. Lalu aku berdiri dari dudukku, menghampiri jendela dan menengadah kelangit biru berawan.

Aku memandanginya. Menelusuri setiap keindahan langit di atas kepalaku.

17.00
Udara lembab menusuk kedalam kulitku. Hujan baru saja usai. Masih dengan posisi tidur kulayangkan pandangan kearah jendela kamarku. Langit mendung. Gerimis masih turun seolah belum sudi untuk menampilkan wajah cerah sang langit.

Lagi-lagi udara lembab begini, membujukku dan serasa dekat dihatiku.

Lalu aku bangkit dari tempat tidur, berjalan perlahan kearah jendela yang kubiarkan terbuka lebar. Aku sengaja tidak menutupnya walau hujan. Polarisasi cahaya di kaca jendela kamarku biasanya akan mengurangi keindahan hujan. Dengan alasan itu, kubiarkan saja tetap terbuka lebar.

Sekarang aku duduk di sebuah kursi yang terletak di bibir jendela. Masih gerimis, belasan burung terbang kian kemari tepat dibawah kakiku, sedang langit masih juga mendung diatas kepalaku.

Kamarku berada dilantai 3 bangunan RUKO MMTC di Medan. Jendela kamarku tepat berhadapan dengan kampus Universitas Negeri Medan.

Aku memandang kebawah. Perempatan, lampu merah. ahh sama saja. Angkot, sepeda motor, mobil mewah, pejalan kaki semua lalu lalang di bawah gerimis kecil, seolah lupa gerimis bisa saja membuat kepala mereka pusing nanti malam.

Lalu aku melihat seorang gadis yang kukenal di jalan raya.
"Angge..." kuteriakkan namanya.
Hanya saja orang yang kupanggil tidak menggubris.
"Mungkin bukan dia" ucapku dalam hati.

Lalu aku bangkit dari dudukku, menuju kearah meja dan mengambil kacamataku kemudian menggunakannya.

Sekarang lebih terang. Aku dapat melihat dengan jelas wajah-wajah yang lalu lalang dijalan raya, melihat setiap helai daun pohon yang tumbuh ditaman Unimed. Membaca tulisan the character building university yang tertulis di atas loga Unimed, helai bulu burung yang terbang di bawah kakiku. Melihat riak air yang tergenang dijalanan akibat sentuhan roda-roda yang melintasinya. Bahkan bayangan yang terbias di aspal hitam yang basah.

Melihat ternyata lebih indah dari yang selama ini kuketahui. Aku baru menyadarinya.

Sudah lama sejak aku bisa melihat semua itu. Lama, aku lupa kapan terakhir kalinya. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan aku tidak dapat melihat wajah seseorang jika tidak  dekat dihadapanku.

 Aku butuh bantuan kacamata untuk melihat wajah seseorang, membaca tulisan di papan tulis, melihat helai daun. Ada hal yang terlewatkan begitu saja.

Mata ini ternyata tidak sesempurna kelihatannya. Lalu terngiang kembali kata-kata Ayahku saat SD dulu.

"Membaca jangan ditempat remang, jangan sambil tiduran, nanti matamu rusak."

Entah sudah berapa buku yang kubaca, sejak belum sekolah aku sangat senang membaca. Tiduran adalah posisi paling nyaman untuk membaca. Tapi ternyata nasihat orang tua selalu benar.

Sejak SD aku mengeluh tentang penglihatanku. Mengeluh kesulitan untuk mengenal wajah orang dari jarak beberapa meter, namun aku tidak ingin memakai kacamata.

Bahkan hingga hari ini memakai kacamata masuk kedalam list hal yang paling malas untuk kulakukan. Tapi akibatnya aku sering lupa bahwa banyak hal indah yang kulewati begitu saja. Aku melihat banyak hal, dan melewatkan banyak hal tanpa benar-benar melihatnya.

Beberapa orang berkomentar tentang aku yang sombong. Sombong karena sering tidak membalas senyum mereka, bagaimana aku membalas senyum mereka jika aku tidak dapat melihatnya.

ahhh, aku mulai sedih. Menyadari banyak senyuman yang mungkin kulewatkan begitu saja. Banyak wajah yang selalu kutemui namun tidak kulihat. Sekarang aku mengerti, betapa berharganya mata.

Mata membuatku melihat, membuatku menikmati banyak keindahan, membantuku merekam banyak pelajaran, menuntunku berjalan fokus pada tujuan.

Mata benar-benar berharga. Dan jika manusia, dan jika aku dan kamu Tuhan jadikan sebagai biji mata-Nya, sungguh berharga kita bagi Dia.

Aku paham, sangat paham sekarang. Setelah kubedakan bagaimana rasanya benar-benar melihat dan sekedar melihat.

Hujan sudah reda, dibawah kakiku tidak ada lagi burung yang beterbangan, mereka sudah berpindah keatas kepalaku, terbang tepat diatas jendela kamarku, langit ternyata kembali biru. Hujan sudah usai kali ini. Kulirik jam dinding, ternyata sudah 17.30.

Kau tahu? sekarang langit benar-benar biru dan diselimuti kabut tipis dari awan, begitu indah..

"Selamat sore,

Minggu, 29 Maret 2015

Mereka dalam Hujan

16.05 WIB.

Siantar di sore itu menyambutku dengan gerimis halus. Jalanan basah, udara lembab. Langsung saja ku tebak di hati, baru usai hujan di sini.

Aku meninggalkan loket bus yang kutumpangi dari kota Medan, menyebrang ke arah terminal di Parluasan (masih Siantar). Becak berlalu lalang, jalanan sedikit becek, warteg di tepi jalan, angkot berjejer di sana sini. Maklumlah, aku sedang di terminal.

Seorang wanita paruh baya mendekat.

"Roti dek.. Roti."

Aku tidak menghiraukannya.

"Dek, Roti untuk oleh-oleh." ucap wanita itu sekali lagi.

"Maaf ya Bu, nggak beli." jawabku akhirnya.

Seorang Pria mulai beruban mendekatiku.

"Samosir ito? tudia do hamu?" (dia menanyakan tujuan perjalananku.)

"Raya Pak." ucapku singkat sabil terus berjalan menuju stasiun mini bus Raya Jaya Transfort, mini bus yang akan membawaku pulang kerumah.

Sekitar 10 meter dari stasiun mini bus yang kutuju, sebuah angkot hampir saja menabrakku.

"Apakah aku melamun? harus lebih hati-hati" ucapku dalam hati.

"Aqua dek?" tanya seorang Ibu kepadaku.

"Maaf Bu, nggak beli." ucapku lagi mengingat aku membawa air minum tadi dari kost.

Lalu sang Ibu berlalu, kupandangi sekelilingku. Masih sedikit gerimis, jalanan basah, udara lembab sedang mereka sibuk mengais rejeki. Ahhhh... hidup ini benar-benar susah.


***
 Siantar hari ini, basah. Hujan, sepanjang jalan dari Pematang Raya sampai ke Siantar.  Kedatanganku beberapa hari lalu, dan kepergianku hari ini di usik hujan.

Perkara hujan mulai mengejek ingatanku.

Siantar kala itu sedang turun hujan. Sepasang anak manusia berlari-lari kecil di trotoar. Lalu mencari tempat berteduh dan menunggu angkot. Sayangnya mereka terlihat tengah tidak akur.

Pematang Raya kala itu diguyur hujan. Gerimis. Sepasang anak manusia berlari di jalan kota, berteduh lalu mengikat sebuah janji.

Medan sore itu bermandi hujan. Sepasang anak manusia tengah berteduh. Menghindari hujan. Lalu mereka berlari kecil di tepi jalan kota sambil bergandengan tangan, di bawah hujan.

Hujan mengguyur bumi di suatu malam. Sepasang anak manusia itu sibuk berdebat. Untuk mengakhiri atau melanjutkan hubungan mereka.

Namun ternyata janjinya putus sampai di situ. Di bawah guyuran hujan.

Siantar sore ini diguyur hujan. Jalanan basah. Udaranya lembab, kuhirup perlahan. Dalam ingatanku terlintas kenangan dua insan. Mereka bertemu di dalam hujan, tertawa, jatuh cinta, bertengkar, saling menyakiti.

Bukan hanya hujan di Siantar, setiap udara lembab berhujan selalu mengingatkanku akan sepasang anak manusia yang sudah memutuskan untuk berbahagia di jalan masing-masing. Hatiku sibuk bertanya, "Sudahkah mereka menemukan kebahagiaannya?"

***
Terinsfirasi dari hujan yang mengganggu perjalanan pulang kampungku.

Rabu, 25 Maret 2015

Mencair

Gunung es itu sebagai saksi

Hari-hari yang kuhabiskan untuk memikirkanmu

Gunung es itu akan bersaksi

Tentang waktu yang kubuang untuk membicarakanmu

Gunung es itu perlahan menjadi bukti

Tentang sebuah hasrat di hati

Gunung es itu adalah cinta.

Cintaku padamu yang tengah membeku.

***

"HAAHAHAHA" derai tawa menghiasi jam makan siang ketika gadis itu. Di tengah kerumuman dan dengung suara manusia yang juga tengah bersantap di salah satu kantin di kampus. 

"Setelah ini kita kemana?" salah satu dari mereka bertanya. Aku tidak tahu gadis yang mana yang megajukan pertanyaan ini.

"Jalan-jalan. Ke tempat nongkrong kita akhir-akhir ini mungkin." Gadis dengan kulit hitam manis menyerukan sebuah ide yang melintas dikepalanya.

Seolah sepakat ketiganya langsung berdiri dan pergi meninggalkan meja makan di kantin.

Tiga gadis itu, entah bagaimana kini selalu bersama. Menghabiskan waktu mereka untuk tertawa sepuas-puasnya, seolah benar-benar berjuang membuang beban skripsi yang senantiasa membayang-bayangi mereka. Yaaaah, mereka sudah mahasiswa stambuk akhir. Saat melihat mereka bermain-main disekitaran kampus mungkin orang-orang akan berpikir seolah mereka tidak merasa terbebani oleh skripsi. Who knows? Mereka juga seperti mahasiswa lain, jika sudah di kost ataupun dirumah, sibuk nongkrongi skripsi mereka. Hanya saja saat mereka bertiga sedang ngumpul mereka akan mencoba merefresh sejenak setiap gundah gulana di hati.

Mereka melakukan banyak hal, dimulai dari curhat panjang lebar, jalan ke toko buku, selfie, jalan-jalan keliling fakultas, nyari toilet paling nyaman dikunjungi di kampus (kriteria toilet bersih, cahayanya terang, pintu bagus, ada cerminnya dan gak bau) atau mendiskusikan sebuah film bahkan novel dan yang pasti mereka juga mendiskusikan tentang skripsi mereka. Begitulah mereka menghabiskan waktunya.

Kalau dilihat dari segi karakter mereka sangat berbeda. Gadis berkulit putih yang sederhana, sementara si hitam manis lebih realistis dan cenderung pemikir, namun terkadang juga imajinatif, sementara si sawo matang yang benar-benar selalu sibuk melamun dan sindrom cermin (ini hasil menguping, dia sering bilang "aku pengen dimana-mana ada cermin besar-besar") sepertinya gadis ini benar-benar sibuk mengagumi setiap hal dalam dirinya dan di sekitarnya.

***
Ketiga gadis itu akhirnya tiba di sebuah taman di Fakultas mereka. Duduk santai di bawah Pohon.

"Beli es cream yook." celetuk gadis berkulit putih.

"Aku kenyang." jawab si hitam manis.
 
"Tumben si bebeb kenyang." Ucap si sawo matang dalam hati. "Yaudah deh kita minum es." Ucapnya kemudian.

Gadis berkulit putih itu mengalah, mengeluarkan dompet dari tas, dan menarik selembar uang lalu pergi. Membeli es cream. Sementara dua gadis lain sibuk duduk di kursi taman, sambil terus berselfie ria.

Seketika sosok itu datang. Seorang lelaki, mendekati gadis berkulit putih yang sedang memesan es cream. Gadis berkulit putih berbincang dengannya, kemudian menyerahkan es creamnya kepada kedua sahabatnya. Dan kembali berbincang. Dengan siapa? Dengan lelaki itu.

Beberapa menit berlalu. Dua gadis sibuk selfie dan seorang gadis lainnya sibuk berbincang. Es cream perlahan mencair. Akhirnya tanpa dikomando si sawo matang menuntaskan es creamnya.

Gadis kulit putih masih terus berbincang. Masih dengan lelaki itu, sementara es sudah benar-benar mencair. Gadis berkulit putih itu lupa pada es di cup yang sudah benar-benar mencair.

Diam-diam aku mengamatinya, meniti senyumnya. ahhh... aku paham. Aku paham bagaimana dia melupakan es nya. Aku paham, ada asa yang medidih di dalam sana. Aku paham dan tidak ingin mengusiknya untuk sekedar memberitahu, es cream sudah mencair.

"Bebeb, saya bosan" Ujar si hitam manis.

"Sabar beb." 

"Lama benar loh mereka ngobrolnya."

"Yah, namanya orang lagi jatuh cinta beb."

Perlahan wajah kedua gadis itu mulai meredup. sepertinya mereka ngantuk. Lalu gadis hitam manis menyandang ranselnya dan berlalu meninggalkan gadis sawo matang. 2 menit kemudian si sawo matang juga berlalu. 

"Hei, tungguin." teriak gadis berkulit putih. Namun gadis sawo matang itu berlalu begitu saja.

Apakah mereka marah? tanyaku dalam hati. Naun setelah 3 menit kemudian aku tersenyum. kedua gadis itu muncul kembali. mereka hanya mempermainkan gadis berkulit putih itu.

"Kami jalan kedepan ya, ntar kita jumpa di sana aja deh." ujar gadis sawo matang kepada gadis berkulit putih.

"Oh... minta es cream aku dong." jawab gadis berkulit putih.

"Sudah terkontaminasi." Sahut gadis sawo matang.

Lalu kedua gadis itu pergi. Di tengah jalan saat menusuri koridor kampus tiba-tiba gadis sawo matang itu berhenti.

"Beb, tau nggak bunga ini?" dia menyentuh tumbuhan hijau dengan bunga berwarna merah yang tumbuh berjajar di tepi koridor.

"Kenapa beb?"Tanya si hitam manis.

"Saat dulu aku jatuh cinta bunga ini setinggi betis, saat aku pacaran bunga ini selutut, Waktu aku patah hati bunga ini masih sedikit melewati lutut, Sekarang bunga ini sudah setinggi ini."

"Oh, aku gak pernah perhatiin bunga ini bebeb, tapi unik bunganya. apa ya namanya."

"Nggak tau beb aku lupa."

"Sudah lebih tinggi dari aku bunganya beb."

"Diam-diam bunga ini jadi saksi akan keadaan hatiku. Hahaha. Tapi gak nyangka bunganya sudah setinggi ini, sejak aku patah hati aku udah gak pernah merhatiin bunga ini beb.'

Lalu mereka berlalu. Dan duduk, di area parkiran. Tepatnya di bawah pohon beringin. Entah bagaimana pembicaraan mereka beralih ke kata cinta.

"Bebeb. Katanya jangan bermain dengan cinta dengan mausia." ucap si hitam manis.

"Jadi main cinta sama apa dong?"

"Sama buku beb."

"Lalu menikah dengan buku ya?"

"Bermain cinta dengan buku, tapi menikahlah dengan manusia."

"Menikah tanpa cinta beb? Menurut bebeb, bagaimana orang bisa menjadi dekat. Karena rasa cinta atau sekedar kesamaan?"

"Kesamaan beb. Sama-sama suka baca, sama-sama suka nonton. Sama-sama suka ini-suka itu."

"Setidaknya sama-sama menyukai sesuatu kan beb?"

"Iya bebeb."

"Menyukai sesuatu itu artinya mencintai sesuatu."

"Hmmmm..."

"Mereka dekat karena ada kecintaan akan hal tertentu, artinya mereka dekat karena cinta."

"..................."

"Ahhhhh... bingung."


Ketiga gadis itu. Persahabatan mereka mencair begitu saja. Dan mengalir indah menyejukkan relung hati yang dilanda gundahnya cinta dan tugas kuliah.

Mereka belajar dan berbagi bagaimana menghadapi hidup. Begitulah sahabat. Mereka terjalin untuk saling berbagi.

***
Ada gunung es antara kita

Yang bersaksi tentang pertemuan

Gunungan es yang bila mencair nanti

Mengalir membawa aku dan kamu kedalam sebuah hubungan

Teman. Sahabat. Kerabat. Pacar.

Ada cinta yang bersembunyi diam-diam dalam bongkaha es

Bongkahan es diantara kita

 

Senin, 23 Maret 2015

Amarah

Pernah punya sesuatu yang membuatmu bahagia??

Pernah punya seseorang yang membuatmu jatuh cinta??

Pernah gak mengalami kejadian yang membuatmu benar-benar kesal?


Pernah dibuat pada kondisi dimana hatimu benar-benar kacau?

Atau pernah punya kenangan yang benar-benar ingin kamu bunuh dari ingatan namun tidak pernah berhasil membunuhnya??

Aku punya. Aku juga punya semua itu. Aku pernah bahagia, pernah jatuh cinta, pernah kesal, pernah dibuat kacau, dan pernah ingin membunuh kecintaanku pada sebuah kenangan.

Tapi aku gagal. Aku tidak pernah berhasil membunuh kenangan yang meracuni setiap sudut ingatanku. Aku tidak pernah bisa melupakan satu kejadian kecil sekalipun dari kisah yang ingin kulupakan.

Pada akhirnya kenangan akan rasa cinta, kenangan akan kebahagiaan, kenangan akan rasa sakit benar-benar menekan dan pecah dalam hati dan pikiranku.

Aku tahu mungkin aku tengah terluka.

Lalu aku sibuk mengobati luka-luka. Sibuk merekatkan serpihan-serpihan hati. Aku terlalu sibuk.Sibuk membenahi ini.
 

Aku sibuk dengan kesakitan luka-luka itu, hingga aku lupa. Aku lupa bahwa aku belum melepaskan cintaku padanya, aku lupa aku belum melepas benciku pada dia yang kini bersamanya. Bahkan lebih parah lagi aku lupa bagaimana caranya jatuh cinta.

Aku sibuk menjaga kepingan-kepingan hatiku, dan merasa seolah-olah aku jatuh cinta. Hanya saja aku lupa untuk membedakan cinta, amarah, benci dan dendam kali ini.

Aku melihat kenanganku dengan orang lain, aku ingin buktikan aku juga bisa. Aku gagal membedakan cinta dan ambisi kemarahan.

Suatu hari ditengah kesibukanku menata hati, aku berhenti. Aku belajar tersenyum lagi. Belajar bahwa bersyukur akan membuatku lebih bahagia.

Tengah aku belajar untuk memiliki sebuah senyuman, bayang-bayang kenangan terus menggangguku. Menjelma menjadi mimpi buruk dalam setiap mimpiku. 

Mereka, yang menyakitiku. Ya, mereka sepasang insan yang berkhianat terhadap perasaanku, bermain api dibalik punggunggku. Mereka muncul kealam bawah sadarku.

Awalnya aku bertanya-tanya dalam pikiranku "apakah mereka adalah orang yang benar-benar sangat baik? akukah orang yang jahat?"

Pertanyaan ini yang terus terngiang menghantui kesadaranku.

Kusimpulkan sebuah jawaban, "Mereka memang baik. Mungkin aku pernah lebih buruk, tapi aku mau diproses menjadi lebih baik."

Aku mencoba berdamai dengan hatiku. 

Mencoba melupakan penolakan-penolakan yang membayangiku setelah penghianatan mereka. Mencoba berdiri tegak. Dan berbenah diri. Aku mengabaikan penolakan-penolakan itu. Lalu tersenyum pada dunia.

Namun, kembali lagi. Sepasang manusia itu muncul ke alam mimpiku. Menyiksa tidurku. Membangunkanku dengan banyak tanya. Salah satunya.

Dalam kisah lama ini, tidak bisakah aku memiliki mimpi indahku?

Lalu seseorang berkata padaku, "Kamu masih gagal melepaskannya, melepas cinta padanya dan melepas benci pada seseorang yang kini disisinya."


Setelah lama berusaha aku merasa sudah melepas semuanya. Hanya saja pertemuan tidak terduga dengan tokoh pembuat kisah masa lalu ini membuatku sering merasa kesal. Di koridor yang seharusnya kami bertemu pada sebuah titik, dia akan menghindar, menjauh dan menghilang.

Itu yang kubenci darinya. Angkuh, egois, penghianat. Ingin kuteriakkan makian ini diwajahnya. Lalu menamparnya.

Lupakah dia bahwa aku manusia? Manusia yang pernah menjadi tenpat untuk dia meneteskan air mata. Satu saja penolakan darinya sudah membuat hatiku pecah berkeping-keping. Mungkin dia lupa. Sikapnya yang terus memberikan penolakan ini akhirnya kubalas dengan penolakan yang serupa. Penolakan bahwa aku tidak ingin bersikap sebagai orang yang mengenalnya saat aku bertemu dia.

Memang aku tidak menghindari dia, namun dengan kepala tegak aku akan berlalu dan berusaha untuk menganggap dia tidak pernah ada.

Akhirnya kami sama. Egois dan angkuh. Bedanya aku tidak menghianati janjiku padanya. Aku bukanlah penghianat. Aku masih merasa menang. sebagai bukti aku benar-benar si egois untuk kisah ini. Aku mengakuinya. Amarah ini membakar hatiku yang hampir usai ditata ulang. Mungkin setelah padam nanti akan benar-benar merekat. Aku berharap anarah ini segera usai.


Senin, 16 Maret 2015

Siluet kenangan

"Pernah melihat sepasang kakek dan nenek yang saling mencintai?" tanya kakak ku malam itu.

"Pernah, waktu itu di perjalanan aku melihat sepasang kakek dan nenek tengah menunggu angkot." Jawabku.

"Bagaimana kamu tahubahwa mereka saling mencintai?"

"Saat angkotnya datang, si kakek membantu nenek naik ke angkot. Kakek itu menggenggam tanganya." Lalu aku tersenyum.

Sekilas, siluet kenangan itu bermain dalam otakku.

Aku, kamu, dan sepasang kakek-nenek di pinggir jalanan kota sore itu. Apa yang kita lakukan saat itu? kita berdiri memandangi pasangan renta itu. Sampai akhirnya sebuah angkot berhenti di hadapan mereka dan mereka pergi.

Pemandangan itu begitu indah, dan semakin indah saat si kakek menggenggam tangan pasangannya untuk melangkah menaiki angkot. Aku hanya tersenyum mengamati keindahan itu.

"Aku ingin kita seperti itu, tetap bersama sampai kita setua itu, bahkan lebih tua dari itu." Ucapmu tiba-tiba.

Aku diam tanpa kata-kata. Kata-katamu selalu cukup untuk membuatku terpesona dan semakin jatuh cinta kala itu.
***

Sudah lama. Goresan kenangan itu sudah lama. Lukanya memang menyisakan bekas, namun tidak terlalu sakit lagi. Perlukah lagi kutanyakan bagaimana kabarmu? atau perlukah kunyanyikan padamu "sedang apa dan dimana?"

kita sudah jauh. Jauh sekarang. aku tidak ingin memulai hubungan apapun denganmu. Termasuk menjadi temanmu. Maaf untuk saat ini aku belum ingin.

Kenangan itu terlalu segar dalam ingatanku. Begini saja rasanya lebih baik.

Suatu saat kita akan seperti sepasang kakek-nenek itu. Terus jatuh cinta setiap hari. Semakin jatuh cinta satu sama lain, selalu bersama dan saling menjaga. Benar, kita ingin seperti itu. Benar bahwa kamu inginkan hal itu terjadi dalam hidup kita. Namun yang tidak benar adalah bahwa kamu tidak sungguh-sungguh sedang jatuh cinta padaku saat itu. Sehingga tidak benar terjadi bahwa saat menua nanti kamu akan menuntunku berjalan dan menggenggam tanganku seperti hari itu.


Yang sebenarnya saat itu adalah kamu sedang mengagumi sosok ini. Kamu mengaguminya yang terlihat kuat. Hingga akhirnya kamu putuskan untuk pergi. Tidak salah  kamu tinggalkan aku. Tidak salah jika kita berpisah. Hal yang salah adalah kamu menugasiku untuk membuatmu terpesona lagi.

Andai saat itu aku tahu kamu sedang memberi harapan palsu padaku. Aku tidak marah lagi, aku tidak mencintaimu lagi, tidak menunggumu lagi. Aku hanya nyaman begini. bersikap seolah tidak mengenalmu. Aku bahagia begini.

Kamis, 12 Maret 2015

Sajak Hati Si Perindu



Dimana??? Kapan??? Bagaimana kita akan bertemu??

Jika selalu langkah kaki ini yang terus mencarimu, sungguhlah hati ini tengah bertepuk sebelah tangan.

Bagaimana jika langkah ini menghindarimu, menjauh darimu, akankah kamu mencarinya?

Menusuri setapak jalan yang dipenuhi banyak pesona untuk satu tujuan kasihmu.

Apakah yang tengah kau tuju? Dermaga mana yang akan dilabuhi hatimu?

Akukah? Akukah yang tengah kau cari jua?

Ahhhh... biarkan aku menghilang sejenak dari pandanganmu, agar aku menguasai imajimu, biar nalurimu meronta untuk menjawab tanya akankah berdiam diri atau bergegas mencariku?

Aku menghilang kini bukan egoku. Aku hanya ingin kita bertemu. Bertemu disuatu ruang dan waktu. Ruang dan waktu yang tidak kutentukan sendiri.

Aku ingin kita bertemu lagi. Bertemu bukan karena aku terus mencarimu hingga mendapatkanmu.

Aku ingin kita bertemu lagi, pertemuan saat hatimu memutuskan untuk menemukan aku.

Menemukan aku yang tengah menunggumu.

Aku ingin kita bertemu lagi. Ingin bertemu bukan sekedar karena kita saling mencari.

Aku rindu kita bertemu lagi. Pertemuan yang tengah dirancang oleh-Nya Sang Pencipta untuk menata langkah kita, melewati setapak jalan dengan sejuta pesona dan goresan luka, namun diujung persimpangan kita bertemu di satu titik yang sama.

Titik yang tidak pernah kita rencanakan. Pertemuan yang hanya kita rindukan. Aku hanya ingin kita memiliki itu.

Dan bila kita bertemu, aku tidak ingin kembali. Aku tidak ingin kamu kembali. Hanya ingin kita memulai. Kita memulai untuk merajut hidup bersama.


Akankah kau mencariku? Sudikah kau mencariku? Atau, apakah selama ini hanya aku yang tengah sibuk mencarimu?

Aku ingin jawabannya, maka aku harus menahan rindu ini. Agar tidak terus mencarimu.

Sampai bertemu di titk itu. Titik yang akan menyatukan kita. Jika kita tidak pernah bertemu di situ, mungkin bukan kita. Mungkin bukan kita. Walau sejujurnya saat ini aku sangat rindu.

Selasa, 10 Maret 2015

Badai... aku akan kuat

Sangat jarang aku ingin mengetikkan perasaanaku di sini. yah, karena aku memang punya diary yang terbuat dari botol dan kertas (hahaha). Jadi begini ceritanya, aku punya kebiasaan memotivasi diriku sendiri dengan menulis ucapan-ucapan penyemangat dalam sobekan-sobekan kecil kertas warna-warni yang kemudian aku simpan dalam botol transparan. Setiap kali aku down aku akan membuka kembali tulisan-tulisan itu, membaca satu persatu dan mengenang betapa banyaknya aku telah berusaha menjadi kuat. Hahahaha

Trus apa hubunganya sama tulisan ini? kayaknya nggak ada deh. Cuman sekedar bukti aja kalau aku memang jarang mengetik apa yang ada dalam hatiku dalam sebuah catatan di FB atau di Blog, walaupun kadang-kadang mungkin jika sudah sangat tertekan dan mengena dihati aku akan melakukannya.

Untuk kali ini aku ingin berbagi tentang menemukan semangat dalam diri kita sendiri. Semangat yang selalu kuteriakkan atau kamu teriakkan pada temanmu, pernahkah kamu teriakkan kata semangat itu pada dirimu sendiri??

kalau belum pernah, detik ini juga coba ucapkan "Semangat ......!!!! Semangat ..... sayang!!! " tanda titik-titiknya isi dengan namanmu.

kembali lagi ke ceritaku. Hari ini aku benar-benar down. sudah berkali-kali aku mengucapkan keluhan-keluhan yang tidak layak kepada sahabatku. Aku lelah sakit, aku jenuh dengan sakitku. Aku bosan sakit. semua keluhan-keluhan itu. Puncaknya saat aku tiba di kamar kost ku sore ini aku benar-benar berada dititik pencapaian batas akhir semangatku.

Banyak beban dalam pikiranku, tentang tugas akhir, tentang persahabatan, tentang relasi dengan orang-orang, tentang sikap seseorang dan beberapa orang, terlebih lagi tentang adikku. aaaah, semua seperti tumpukan batu sekian ton yang menghantam kepalaku.

Aku tertekan, aku lelah dengan semua ini sejak seminggu terakhir dan puncaknya aku jatuh sakit. Setibanya dikamar aku langsung mencepol rambutku dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. "Ingin pulang kampung" ucapku dalam hati.

Aku mulai membayangkan, betapa menyenangkannya rumah. Dimanja, disayang, dimasakin makanan kesukaan, diturutin melakukan hal sesuka hati, aaaah sangat menyenangkan ditambah lagi mengeluh sepuas-puasnya tentang apa yang sedang kuhadapi, betapa nyamannya pulang kerumah.

Lalu kepalaku semakin sakit, kucoba untuk memejamkan mata. Namun yang terjadi bukan terpejam malah berair. Klimaks. yahhh... klimaks akhirnya aku menangis. Lalu aku berfikir, ahhh, secengeng inikah aku???

sempat kubuat status di FB tentang tangis menangis ini, entah kenapa aku sangat ingin menghapusnya lalu menggantinya dengan status berikut ini:

"Diterpa badai :/

Kuatlah tiww, pasti berlalu juga :)"

akhirnya dikoment seorang dosenku, dan mendapat dukungan untuk tetap semangat (makasih banyak untuk suport ibu itu)


tiba-tiba saja pemikiran-pemikiran ini melintas dikepala ku. Menjadi lemah dan cengeng, terus pulang kampung dan mengeluh-mengeluh tentang semua ini, setega itukah aku menambah beban pikiran orang tuaku??

masih kurangkah mereka berjuang habis-habisan untuk kehidupanku?

Aku harus kuat. ya aku harus kuat, belajar berdiri di atas kakiku sendiri, melangkah maju walau tidak jarang aku jatuh dan menjadi sakit. Itu semua belum akhirnya, itu semua bukan tujuan utamanya.

Lebih dari itu, senyum bahagia mereka itulah yang ingin kuukir. Itulah pencapaian yang ingin kutuju. Sebab mereka hanya akan menjadi berbahagia saat melihatku menjadi seseorang yang kuat dan tangguh. Gadis kecil mereka pulang bukan untuk menangis tapi untuk mengatakan "aku mendapatkan kebahagiaanku" itulah bahagia mereka.

Sekuat apapun badai aku masih memiliki kekuatan dalam cinta kedua orang tuaku dan cinta Tuhan kepadaku.

Badai... aku akan kuat. semakin diterpa, semakin kuat :)