Blue

Blue

Selasa, 10 Maret 2015

Badai... aku akan kuat

Sangat jarang aku ingin mengetikkan perasaanaku di sini. yah, karena aku memang punya diary yang terbuat dari botol dan kertas (hahaha). Jadi begini ceritanya, aku punya kebiasaan memotivasi diriku sendiri dengan menulis ucapan-ucapan penyemangat dalam sobekan-sobekan kecil kertas warna-warni yang kemudian aku simpan dalam botol transparan. Setiap kali aku down aku akan membuka kembali tulisan-tulisan itu, membaca satu persatu dan mengenang betapa banyaknya aku telah berusaha menjadi kuat. Hahahaha

Trus apa hubunganya sama tulisan ini? kayaknya nggak ada deh. Cuman sekedar bukti aja kalau aku memang jarang mengetik apa yang ada dalam hatiku dalam sebuah catatan di FB atau di Blog, walaupun kadang-kadang mungkin jika sudah sangat tertekan dan mengena dihati aku akan melakukannya.

Untuk kali ini aku ingin berbagi tentang menemukan semangat dalam diri kita sendiri. Semangat yang selalu kuteriakkan atau kamu teriakkan pada temanmu, pernahkah kamu teriakkan kata semangat itu pada dirimu sendiri??

kalau belum pernah, detik ini juga coba ucapkan "Semangat ......!!!! Semangat ..... sayang!!! " tanda titik-titiknya isi dengan namanmu.

kembali lagi ke ceritaku. Hari ini aku benar-benar down. sudah berkali-kali aku mengucapkan keluhan-keluhan yang tidak layak kepada sahabatku. Aku lelah sakit, aku jenuh dengan sakitku. Aku bosan sakit. semua keluhan-keluhan itu. Puncaknya saat aku tiba di kamar kost ku sore ini aku benar-benar berada dititik pencapaian batas akhir semangatku.

Banyak beban dalam pikiranku, tentang tugas akhir, tentang persahabatan, tentang relasi dengan orang-orang, tentang sikap seseorang dan beberapa orang, terlebih lagi tentang adikku. aaaah, semua seperti tumpukan batu sekian ton yang menghantam kepalaku.

Aku tertekan, aku lelah dengan semua ini sejak seminggu terakhir dan puncaknya aku jatuh sakit. Setibanya dikamar aku langsung mencepol rambutku dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. "Ingin pulang kampung" ucapku dalam hati.

Aku mulai membayangkan, betapa menyenangkannya rumah. Dimanja, disayang, dimasakin makanan kesukaan, diturutin melakukan hal sesuka hati, aaaah sangat menyenangkan ditambah lagi mengeluh sepuas-puasnya tentang apa yang sedang kuhadapi, betapa nyamannya pulang kerumah.

Lalu kepalaku semakin sakit, kucoba untuk memejamkan mata. Namun yang terjadi bukan terpejam malah berair. Klimaks. yahhh... klimaks akhirnya aku menangis. Lalu aku berfikir, ahhh, secengeng inikah aku???

sempat kubuat status di FB tentang tangis menangis ini, entah kenapa aku sangat ingin menghapusnya lalu menggantinya dengan status berikut ini:

"Diterpa badai :/

Kuatlah tiww, pasti berlalu juga :)"

akhirnya dikoment seorang dosenku, dan mendapat dukungan untuk tetap semangat (makasih banyak untuk suport ibu itu)


tiba-tiba saja pemikiran-pemikiran ini melintas dikepala ku. Menjadi lemah dan cengeng, terus pulang kampung dan mengeluh-mengeluh tentang semua ini, setega itukah aku menambah beban pikiran orang tuaku??

masih kurangkah mereka berjuang habis-habisan untuk kehidupanku?

Aku harus kuat. ya aku harus kuat, belajar berdiri di atas kakiku sendiri, melangkah maju walau tidak jarang aku jatuh dan menjadi sakit. Itu semua belum akhirnya, itu semua bukan tujuan utamanya.

Lebih dari itu, senyum bahagia mereka itulah yang ingin kuukir. Itulah pencapaian yang ingin kutuju. Sebab mereka hanya akan menjadi berbahagia saat melihatku menjadi seseorang yang kuat dan tangguh. Gadis kecil mereka pulang bukan untuk menangis tapi untuk mengatakan "aku mendapatkan kebahagiaanku" itulah bahagia mereka.

Sekuat apapun badai aku masih memiliki kekuatan dalam cinta kedua orang tuaku dan cinta Tuhan kepadaku.

Badai... aku akan kuat. semakin diterpa, semakin kuat :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar