Blue

Blue

Rabu, 25 Maret 2015

Mencair

Gunung es itu sebagai saksi

Hari-hari yang kuhabiskan untuk memikirkanmu

Gunung es itu akan bersaksi

Tentang waktu yang kubuang untuk membicarakanmu

Gunung es itu perlahan menjadi bukti

Tentang sebuah hasrat di hati

Gunung es itu adalah cinta.

Cintaku padamu yang tengah membeku.

***

"HAAHAHAHA" derai tawa menghiasi jam makan siang ketika gadis itu. Di tengah kerumuman dan dengung suara manusia yang juga tengah bersantap di salah satu kantin di kampus. 

"Setelah ini kita kemana?" salah satu dari mereka bertanya. Aku tidak tahu gadis yang mana yang megajukan pertanyaan ini.

"Jalan-jalan. Ke tempat nongkrong kita akhir-akhir ini mungkin." Gadis dengan kulit hitam manis menyerukan sebuah ide yang melintas dikepalanya.

Seolah sepakat ketiganya langsung berdiri dan pergi meninggalkan meja makan di kantin.

Tiga gadis itu, entah bagaimana kini selalu bersama. Menghabiskan waktu mereka untuk tertawa sepuas-puasnya, seolah benar-benar berjuang membuang beban skripsi yang senantiasa membayang-bayangi mereka. Yaaaah, mereka sudah mahasiswa stambuk akhir. Saat melihat mereka bermain-main disekitaran kampus mungkin orang-orang akan berpikir seolah mereka tidak merasa terbebani oleh skripsi. Who knows? Mereka juga seperti mahasiswa lain, jika sudah di kost ataupun dirumah, sibuk nongkrongi skripsi mereka. Hanya saja saat mereka bertiga sedang ngumpul mereka akan mencoba merefresh sejenak setiap gundah gulana di hati.

Mereka melakukan banyak hal, dimulai dari curhat panjang lebar, jalan ke toko buku, selfie, jalan-jalan keliling fakultas, nyari toilet paling nyaman dikunjungi di kampus (kriteria toilet bersih, cahayanya terang, pintu bagus, ada cerminnya dan gak bau) atau mendiskusikan sebuah film bahkan novel dan yang pasti mereka juga mendiskusikan tentang skripsi mereka. Begitulah mereka menghabiskan waktunya.

Kalau dilihat dari segi karakter mereka sangat berbeda. Gadis berkulit putih yang sederhana, sementara si hitam manis lebih realistis dan cenderung pemikir, namun terkadang juga imajinatif, sementara si sawo matang yang benar-benar selalu sibuk melamun dan sindrom cermin (ini hasil menguping, dia sering bilang "aku pengen dimana-mana ada cermin besar-besar") sepertinya gadis ini benar-benar sibuk mengagumi setiap hal dalam dirinya dan di sekitarnya.

***
Ketiga gadis itu akhirnya tiba di sebuah taman di Fakultas mereka. Duduk santai di bawah Pohon.

"Beli es cream yook." celetuk gadis berkulit putih.

"Aku kenyang." jawab si hitam manis.
 
"Tumben si bebeb kenyang." Ucap si sawo matang dalam hati. "Yaudah deh kita minum es." Ucapnya kemudian.

Gadis berkulit putih itu mengalah, mengeluarkan dompet dari tas, dan menarik selembar uang lalu pergi. Membeli es cream. Sementara dua gadis lain sibuk duduk di kursi taman, sambil terus berselfie ria.

Seketika sosok itu datang. Seorang lelaki, mendekati gadis berkulit putih yang sedang memesan es cream. Gadis berkulit putih berbincang dengannya, kemudian menyerahkan es creamnya kepada kedua sahabatnya. Dan kembali berbincang. Dengan siapa? Dengan lelaki itu.

Beberapa menit berlalu. Dua gadis sibuk selfie dan seorang gadis lainnya sibuk berbincang. Es cream perlahan mencair. Akhirnya tanpa dikomando si sawo matang menuntaskan es creamnya.

Gadis kulit putih masih terus berbincang. Masih dengan lelaki itu, sementara es sudah benar-benar mencair. Gadis berkulit putih itu lupa pada es di cup yang sudah benar-benar mencair.

Diam-diam aku mengamatinya, meniti senyumnya. ahhh... aku paham. Aku paham bagaimana dia melupakan es nya. Aku paham, ada asa yang medidih di dalam sana. Aku paham dan tidak ingin mengusiknya untuk sekedar memberitahu, es cream sudah mencair.

"Bebeb, saya bosan" Ujar si hitam manis.

"Sabar beb." 

"Lama benar loh mereka ngobrolnya."

"Yah, namanya orang lagi jatuh cinta beb."

Perlahan wajah kedua gadis itu mulai meredup. sepertinya mereka ngantuk. Lalu gadis hitam manis menyandang ranselnya dan berlalu meninggalkan gadis sawo matang. 2 menit kemudian si sawo matang juga berlalu. 

"Hei, tungguin." teriak gadis berkulit putih. Namun gadis sawo matang itu berlalu begitu saja.

Apakah mereka marah? tanyaku dalam hati. Naun setelah 3 menit kemudian aku tersenyum. kedua gadis itu muncul kembali. mereka hanya mempermainkan gadis berkulit putih itu.

"Kami jalan kedepan ya, ntar kita jumpa di sana aja deh." ujar gadis sawo matang kepada gadis berkulit putih.

"Oh... minta es cream aku dong." jawab gadis berkulit putih.

"Sudah terkontaminasi." Sahut gadis sawo matang.

Lalu kedua gadis itu pergi. Di tengah jalan saat menusuri koridor kampus tiba-tiba gadis sawo matang itu berhenti.

"Beb, tau nggak bunga ini?" dia menyentuh tumbuhan hijau dengan bunga berwarna merah yang tumbuh berjajar di tepi koridor.

"Kenapa beb?"Tanya si hitam manis.

"Saat dulu aku jatuh cinta bunga ini setinggi betis, saat aku pacaran bunga ini selutut, Waktu aku patah hati bunga ini masih sedikit melewati lutut, Sekarang bunga ini sudah setinggi ini."

"Oh, aku gak pernah perhatiin bunga ini bebeb, tapi unik bunganya. apa ya namanya."

"Nggak tau beb aku lupa."

"Sudah lebih tinggi dari aku bunganya beb."

"Diam-diam bunga ini jadi saksi akan keadaan hatiku. Hahaha. Tapi gak nyangka bunganya sudah setinggi ini, sejak aku patah hati aku udah gak pernah merhatiin bunga ini beb.'

Lalu mereka berlalu. Dan duduk, di area parkiran. Tepatnya di bawah pohon beringin. Entah bagaimana pembicaraan mereka beralih ke kata cinta.

"Bebeb. Katanya jangan bermain dengan cinta dengan mausia." ucap si hitam manis.

"Jadi main cinta sama apa dong?"

"Sama buku beb."

"Lalu menikah dengan buku ya?"

"Bermain cinta dengan buku, tapi menikahlah dengan manusia."

"Menikah tanpa cinta beb? Menurut bebeb, bagaimana orang bisa menjadi dekat. Karena rasa cinta atau sekedar kesamaan?"

"Kesamaan beb. Sama-sama suka baca, sama-sama suka nonton. Sama-sama suka ini-suka itu."

"Setidaknya sama-sama menyukai sesuatu kan beb?"

"Iya bebeb."

"Menyukai sesuatu itu artinya mencintai sesuatu."

"Hmmmm..."

"Mereka dekat karena ada kecintaan akan hal tertentu, artinya mereka dekat karena cinta."

"..................."

"Ahhhhh... bingung."


Ketiga gadis itu. Persahabatan mereka mencair begitu saja. Dan mengalir indah menyejukkan relung hati yang dilanda gundahnya cinta dan tugas kuliah.

Mereka belajar dan berbagi bagaimana menghadapi hidup. Begitulah sahabat. Mereka terjalin untuk saling berbagi.

***
Ada gunung es antara kita

Yang bersaksi tentang pertemuan

Gunungan es yang bila mencair nanti

Mengalir membawa aku dan kamu kedalam sebuah hubungan

Teman. Sahabat. Kerabat. Pacar.

Ada cinta yang bersembunyi diam-diam dalam bongkaha es

Bongkahan es diantara kita

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar