Blue

Blue

Senin, 16 Maret 2015

Siluet kenangan

"Pernah melihat sepasang kakek dan nenek yang saling mencintai?" tanya kakak ku malam itu.

"Pernah, waktu itu di perjalanan aku melihat sepasang kakek dan nenek tengah menunggu angkot." Jawabku.

"Bagaimana kamu tahubahwa mereka saling mencintai?"

"Saat angkotnya datang, si kakek membantu nenek naik ke angkot. Kakek itu menggenggam tanganya." Lalu aku tersenyum.

Sekilas, siluet kenangan itu bermain dalam otakku.

Aku, kamu, dan sepasang kakek-nenek di pinggir jalanan kota sore itu. Apa yang kita lakukan saat itu? kita berdiri memandangi pasangan renta itu. Sampai akhirnya sebuah angkot berhenti di hadapan mereka dan mereka pergi.

Pemandangan itu begitu indah, dan semakin indah saat si kakek menggenggam tangan pasangannya untuk melangkah menaiki angkot. Aku hanya tersenyum mengamati keindahan itu.

"Aku ingin kita seperti itu, tetap bersama sampai kita setua itu, bahkan lebih tua dari itu." Ucapmu tiba-tiba.

Aku diam tanpa kata-kata. Kata-katamu selalu cukup untuk membuatku terpesona dan semakin jatuh cinta kala itu.
***

Sudah lama. Goresan kenangan itu sudah lama. Lukanya memang menyisakan bekas, namun tidak terlalu sakit lagi. Perlukah lagi kutanyakan bagaimana kabarmu? atau perlukah kunyanyikan padamu "sedang apa dan dimana?"

kita sudah jauh. Jauh sekarang. aku tidak ingin memulai hubungan apapun denganmu. Termasuk menjadi temanmu. Maaf untuk saat ini aku belum ingin.

Kenangan itu terlalu segar dalam ingatanku. Begini saja rasanya lebih baik.

Suatu saat kita akan seperti sepasang kakek-nenek itu. Terus jatuh cinta setiap hari. Semakin jatuh cinta satu sama lain, selalu bersama dan saling menjaga. Benar, kita ingin seperti itu. Benar bahwa kamu inginkan hal itu terjadi dalam hidup kita. Namun yang tidak benar adalah bahwa kamu tidak sungguh-sungguh sedang jatuh cinta padaku saat itu. Sehingga tidak benar terjadi bahwa saat menua nanti kamu akan menuntunku berjalan dan menggenggam tanganku seperti hari itu.


Yang sebenarnya saat itu adalah kamu sedang mengagumi sosok ini. Kamu mengaguminya yang terlihat kuat. Hingga akhirnya kamu putuskan untuk pergi. Tidak salah  kamu tinggalkan aku. Tidak salah jika kita berpisah. Hal yang salah adalah kamu menugasiku untuk membuatmu terpesona lagi.

Andai saat itu aku tahu kamu sedang memberi harapan palsu padaku. Aku tidak marah lagi, aku tidak mencintaimu lagi, tidak menunggumu lagi. Aku hanya nyaman begini. bersikap seolah tidak mengenalmu. Aku bahagia begini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar