Blue

Blue

Jumat, 24 April 2015

Dia Yang Menulis Cinta

Cahaya temaram menyinari buku dihadapanku. Aku membaca tulisannya. Kita mendengarkannya. Ya, kita. aku dan kedua kakakku sekaligus kedua sahabatku. Sebut saja nama mereka Rapunzell dan Barbie. Rapunzell seorang alumni, sedangkan Barbie satu kelas denganku. Nah, untuk aku sendiri kalian boleh menyebutku Princess. Tidak perlu bertanya kenapa nama kami begitu kekanak-kanakan. Ini hanya sebuah kisah. 

Aku membaca kata demi kata, menyatukan kalimat demi kalimat. Lalu aku berhenti membaca. Satu sub-topik selesai kubacakan. Tentang kisah cinta.

Lalu kami memulai sebuah diskusi kecil. Kakak Rapunzell memandu kami membaca kisah pertemuan Adam dan Hawa. Kisah cinta abadi yang tertulis di dalam Kitab Kejadian. Kami membacanya, ayat demi ayat. Dan mendiskusikan makna dalam setiap kata yang tertulis di dalamnya.

"Silahkan Princess, apa yang bisa kamu sampaikan sesuai kisah yang sudah kita baca?" Rapunzell membuka diskusi.

"Tuhan menciptakan dan memilih hawa untuk Adam. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, mungkin tujuannya agar benar-benar sepadan. Sesuatu yang berasal dari tubuh kita pasti memiliki fungsi fisiologis yang sesuai dengan tubuh kita."

"Bagaimana dengan pendapatmu Barbie?"

"Sama kak."

"Apanya yang sama dek?"

"Benar seperti yang dipaparkan oleh Princess, hanya saja sedikit tambahan menurut aku kenapa Hawa harus dari tulang rusuk Adam, yah supaya benar-benar dikasihi sama seperti Adam mengasihi dirinya sendiri."

"Iya benar." Ucap Rapunzell

"Rusuk itu melindungi organ vital kak, dan lagipula dekat kehati." Ucapku tersenyum malu-malu.

"Princess benar, dekat kehati, dekat ke organ vital, Hawa itu seorang penolong yang harus ditempatkan di sisi Adam, bukan seorang pemimpin kehidupan bagi Adam bahkan bukan seorang pekerja."

"Benar itu kak, itulah mengapa suami yang menjadi kepala keluarga bukan si istri." Si Barbie angkat bicara.

"Jadi, menurut kalian kenapa dalam kisah yang kita baca, Tuhan membuat Adam terlelap saat Hawa diciptakan? kenapa tidak dibiarkan saja terbangun?" Rapunzell kembali bertanya.

"Karena Tuhan punya otoritas penuh kak, dia punya rencana penuh dalam kisah cinta Adam." Jawabku

"Agar lebih surprice kak." Barbie menimpali.

"Jangan bilang Barbie ingin seperti itu. Tiba-tiba saat bangun tidur ada lelaki disebelahmu, dan kamu berkata, inilah lelaki yang Tuhan kirim untukku." Ucap Rapunzeel

"Kalau itu terjadi, kakak seharusnya ketakukan, siapa tau dia maling yang masuk kekamar lewatt jendela" Ucapku sambil tertawa nyaring.

"Benar itu Barbie." Rapunzell menimpali.

Barbie hanya bisa tertawa mendengar komentar kami.

"Saat tidur Adam berserah penuh, artinya urusan cintanya pun sedang diserahkan sepenuhnya ketangan Tuhan, jika demikian seharusnya kita berserah penuh dalam penantian cinta kepada Tuhan kan dek? kita harus percaya penuh, sebab Dia yang punya otoritas, punya rencana dan pilihan terbaik. Tapi bukan berarti kita berdiam dan menunggu di kamar saja kan?" Rapunzell menjelaskan.

"Kita punya tugas." Ucap Barbie

"Ya, tepat. seperti Adam yang ditugaskan untuk memberikan nama kepada hewan-hewan, mengelompokkan mereka berpasangan, kita juga punya tugas yang harus kita kerjakan. Tugas dari Tuhan, tugas yang harus kita selesaikan dengan setia."

Aku hanya terdiam, Tanpa komentar saat mendengar kata tugas dan setia. Aku lebih kepada menginstropeksi diriku sendiri.

"Kerjakanlah bagian pelayananmu, dan percayalah Tuhan yang menulis cinta untukmu." Suara Rapunzell terdengar jelas ditelingaku.

Kami terus berdiskusi, tentang menyikapi rasa jatuh cinta dan harapan di masa depan. Hingga akhirnya kami tiba dalam sesi kriteria calon teman hidup impian. Aku dengan temanku Barbie menyebutkan kriteria-kriteria kami. Ada beberapa kriteria, namun yang berada di nomor urut pertama adalah "Seorang Pria yang mencintai Tuhan lebih dari apapun di hidupnya". Disusul oleh ciri spesifik lainnya.

"Jika kalian menginginkan kriteria-kriteria yang baik akan kalian temukan, berjuanglah dek. Berjuang untuk menjadi seseorang yang karakternya ada sebagai karakter orang yang kalian  harapkan. Berbenah dirilah, lebih lagi. Seiring waktu kalian berbenah diri, penantian itu pasti akan terjawab juga."

Diskusi kami berlanjut, sampai hampir pukul 21.00. Ada setitik terang menyusup kehatiku, ada kebahagian besar bergemuruh di dalam sana. Ahhh... Bahagianya saat menyadari bahwa Tuhan benar-benar menulis cinta untukku. Dan sudah lama aku jatuh cinta pada-Nya. Cinta yang tidak dapat kutuliskan kepada Dia yang tidak dapat kulukiskan.

Tahu tidak? Bukan hanya untukku, dan kedua kakakku dalam cerita ini. Tapi untuk kamu yang sekarang membaca tulisan ini percayalah "Tuhan sedang menulis cinta untukmu, Dia rindu untuk menulis cinta dalam hidup setiap orang, bagaimana tidak Tuhan adalah cinta itu sendiri, itu faktanya."

Tersenyumlah.. :)

Sabtu, 18 April 2015

Mata

15.15
Angin mulai memenuhi kamarku. Terasa sejuk. Lalu aku berdiri dari dudukku, menghampiri jendela dan menengadah kelangit biru berawan.

Aku memandanginya. Menelusuri setiap keindahan langit di atas kepalaku.

17.00
Udara lembab menusuk kedalam kulitku. Hujan baru saja usai. Masih dengan posisi tidur kulayangkan pandangan kearah jendela kamarku. Langit mendung. Gerimis masih turun seolah belum sudi untuk menampilkan wajah cerah sang langit.

Lagi-lagi udara lembab begini, membujukku dan serasa dekat dihatiku.

Lalu aku bangkit dari tempat tidur, berjalan perlahan kearah jendela yang kubiarkan terbuka lebar. Aku sengaja tidak menutupnya walau hujan. Polarisasi cahaya di kaca jendela kamarku biasanya akan mengurangi keindahan hujan. Dengan alasan itu, kubiarkan saja tetap terbuka lebar.

Sekarang aku duduk di sebuah kursi yang terletak di bibir jendela. Masih gerimis, belasan burung terbang kian kemari tepat dibawah kakiku, sedang langit masih juga mendung diatas kepalaku.

Kamarku berada dilantai 3 bangunan RUKO MMTC di Medan. Jendela kamarku tepat berhadapan dengan kampus Universitas Negeri Medan.

Aku memandang kebawah. Perempatan, lampu merah. ahh sama saja. Angkot, sepeda motor, mobil mewah, pejalan kaki semua lalu lalang di bawah gerimis kecil, seolah lupa gerimis bisa saja membuat kepala mereka pusing nanti malam.

Lalu aku melihat seorang gadis yang kukenal di jalan raya.
"Angge..." kuteriakkan namanya.
Hanya saja orang yang kupanggil tidak menggubris.
"Mungkin bukan dia" ucapku dalam hati.

Lalu aku bangkit dari dudukku, menuju kearah meja dan mengambil kacamataku kemudian menggunakannya.

Sekarang lebih terang. Aku dapat melihat dengan jelas wajah-wajah yang lalu lalang dijalan raya, melihat setiap helai daun pohon yang tumbuh ditaman Unimed. Membaca tulisan the character building university yang tertulis di atas loga Unimed, helai bulu burung yang terbang di bawah kakiku. Melihat riak air yang tergenang dijalanan akibat sentuhan roda-roda yang melintasinya. Bahkan bayangan yang terbias di aspal hitam yang basah.

Melihat ternyata lebih indah dari yang selama ini kuketahui. Aku baru menyadarinya.

Sudah lama sejak aku bisa melihat semua itu. Lama, aku lupa kapan terakhir kalinya. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan aku tidak dapat melihat wajah seseorang jika tidak  dekat dihadapanku.

 Aku butuh bantuan kacamata untuk melihat wajah seseorang, membaca tulisan di papan tulis, melihat helai daun. Ada hal yang terlewatkan begitu saja.

Mata ini ternyata tidak sesempurna kelihatannya. Lalu terngiang kembali kata-kata Ayahku saat SD dulu.

"Membaca jangan ditempat remang, jangan sambil tiduran, nanti matamu rusak."

Entah sudah berapa buku yang kubaca, sejak belum sekolah aku sangat senang membaca. Tiduran adalah posisi paling nyaman untuk membaca. Tapi ternyata nasihat orang tua selalu benar.

Sejak SD aku mengeluh tentang penglihatanku. Mengeluh kesulitan untuk mengenal wajah orang dari jarak beberapa meter, namun aku tidak ingin memakai kacamata.

Bahkan hingga hari ini memakai kacamata masuk kedalam list hal yang paling malas untuk kulakukan. Tapi akibatnya aku sering lupa bahwa banyak hal indah yang kulewati begitu saja. Aku melihat banyak hal, dan melewatkan banyak hal tanpa benar-benar melihatnya.

Beberapa orang berkomentar tentang aku yang sombong. Sombong karena sering tidak membalas senyum mereka, bagaimana aku membalas senyum mereka jika aku tidak dapat melihatnya.

ahhh, aku mulai sedih. Menyadari banyak senyuman yang mungkin kulewatkan begitu saja. Banyak wajah yang selalu kutemui namun tidak kulihat. Sekarang aku mengerti, betapa berharganya mata.

Mata membuatku melihat, membuatku menikmati banyak keindahan, membantuku merekam banyak pelajaran, menuntunku berjalan fokus pada tujuan.

Mata benar-benar berharga. Dan jika manusia, dan jika aku dan kamu Tuhan jadikan sebagai biji mata-Nya, sungguh berharga kita bagi Dia.

Aku paham, sangat paham sekarang. Setelah kubedakan bagaimana rasanya benar-benar melihat dan sekedar melihat.

Hujan sudah reda, dibawah kakiku tidak ada lagi burung yang beterbangan, mereka sudah berpindah keatas kepalaku, terbang tepat diatas jendela kamarku, langit ternyata kembali biru. Hujan sudah usai kali ini. Kulirik jam dinding, ternyata sudah 17.30.

Kau tahu? sekarang langit benar-benar biru dan diselimuti kabut tipis dari awan, begitu indah..

"Selamat sore,