Cahaya temaram menyinari buku dihadapanku. Aku membaca tulisannya. Kita mendengarkannya. Ya, kita. aku dan kedua kakakku sekaligus kedua sahabatku. Sebut saja nama mereka Rapunzell dan Barbie. Rapunzell seorang alumni, sedangkan Barbie satu kelas denganku. Nah, untuk aku sendiri kalian boleh menyebutku Princess. Tidak perlu bertanya kenapa nama kami begitu kekanak-kanakan. Ini hanya sebuah kisah.
Aku membaca kata demi kata, menyatukan kalimat demi kalimat. Lalu aku berhenti membaca. Satu sub-topik selesai kubacakan. Tentang kisah cinta.
Lalu kami memulai sebuah diskusi kecil. Kakak Rapunzell memandu kami membaca kisah pertemuan Adam dan Hawa. Kisah cinta abadi yang tertulis di dalam Kitab Kejadian. Kami membacanya, ayat demi ayat. Dan mendiskusikan makna dalam setiap kata yang tertulis di dalamnya.
"Silahkan Princess, apa yang bisa kamu sampaikan sesuai kisah yang sudah kita baca?" Rapunzell membuka diskusi.
"Tuhan menciptakan dan memilih hawa untuk Adam. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, mungkin tujuannya agar benar-benar sepadan. Sesuatu yang berasal dari tubuh kita pasti memiliki fungsi fisiologis yang sesuai dengan tubuh kita."
"Bagaimana dengan pendapatmu Barbie?"
"Sama kak."
"Apanya yang sama dek?"
"Benar seperti yang dipaparkan oleh Princess, hanya saja sedikit tambahan menurut aku kenapa Hawa harus dari tulang rusuk Adam, yah supaya benar-benar dikasihi sama seperti Adam mengasihi dirinya sendiri."
"Silahkan Princess, apa yang bisa kamu sampaikan sesuai kisah yang sudah kita baca?" Rapunzell membuka diskusi.
"Tuhan menciptakan dan memilih hawa untuk Adam. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, mungkin tujuannya agar benar-benar sepadan. Sesuatu yang berasal dari tubuh kita pasti memiliki fungsi fisiologis yang sesuai dengan tubuh kita."
"Bagaimana dengan pendapatmu Barbie?"
"Sama kak."
"Apanya yang sama dek?"
"Benar seperti yang dipaparkan oleh Princess, hanya saja sedikit tambahan menurut aku kenapa Hawa harus dari tulang rusuk Adam, yah supaya benar-benar dikasihi sama seperti Adam mengasihi dirinya sendiri."
"Iya benar." Ucap Rapunzell
"Rusuk itu melindungi organ vital kak, dan lagipula dekat kehati." Ucapku tersenyum malu-malu.
"Princess benar, dekat kehati, dekat ke organ vital, Hawa itu seorang penolong yang harus ditempatkan di sisi Adam, bukan seorang pemimpin kehidupan bagi Adam bahkan bukan seorang pekerja."
"Benar itu kak, itulah mengapa suami yang menjadi kepala keluarga bukan si istri." Si Barbie angkat bicara.
"Jadi, menurut kalian kenapa dalam kisah yang kita baca, Tuhan membuat Adam terlelap saat Hawa diciptakan? kenapa tidak dibiarkan saja terbangun?" Rapunzell kembali bertanya.
"Karena Tuhan punya otoritas penuh kak, dia punya rencana penuh dalam kisah cinta Adam." Jawabku
"Princess benar, dekat kehati, dekat ke organ vital, Hawa itu seorang penolong yang harus ditempatkan di sisi Adam, bukan seorang pemimpin kehidupan bagi Adam bahkan bukan seorang pekerja."
"Benar itu kak, itulah mengapa suami yang menjadi kepala keluarga bukan si istri." Si Barbie angkat bicara.
"Jadi, menurut kalian kenapa dalam kisah yang kita baca, Tuhan membuat Adam terlelap saat Hawa diciptakan? kenapa tidak dibiarkan saja terbangun?" Rapunzell kembali bertanya.
"Karena Tuhan punya otoritas penuh kak, dia punya rencana penuh dalam kisah cinta Adam." Jawabku
"Agar lebih surprice kak." Barbie menimpali.
"Jangan bilang Barbie ingin seperti itu. Tiba-tiba saat bangun tidur ada lelaki disebelahmu, dan kamu berkata, inilah lelaki yang Tuhan kirim untukku." Ucap Rapunzeel
"Kalau itu terjadi, kakak seharusnya ketakukan, siapa tau dia maling yang masuk kekamar lewatt jendela" Ucapku sambil tertawa nyaring.
"Benar itu Barbie." Rapunzell menimpali.
Barbie hanya bisa tertawa mendengar komentar kami.
"Benar itu Barbie." Rapunzell menimpali.
Barbie hanya bisa tertawa mendengar komentar kami.
"Saat tidur Adam berserah penuh, artinya urusan cintanya pun sedang diserahkan sepenuhnya ketangan Tuhan, jika demikian seharusnya kita berserah penuh dalam penantian cinta kepada Tuhan kan dek? kita harus percaya penuh, sebab Dia yang punya otoritas, punya rencana dan pilihan terbaik. Tapi bukan berarti kita berdiam dan menunggu di kamar saja kan?" Rapunzell menjelaskan.
"Kita punya tugas." Ucap Barbie
"Kita punya tugas." Ucap Barbie
"Ya, tepat. seperti Adam yang ditugaskan untuk memberikan nama kepada hewan-hewan, mengelompokkan mereka berpasangan, kita juga punya tugas yang harus kita kerjakan. Tugas dari Tuhan, tugas yang harus kita selesaikan dengan setia."
Aku hanya terdiam, Tanpa komentar saat mendengar kata tugas dan setia. Aku lebih kepada menginstropeksi diriku sendiri.
"Kerjakanlah bagian pelayananmu, dan percayalah Tuhan yang menulis cinta untukmu." Suara Rapunzell terdengar jelas ditelingaku.
Kami terus berdiskusi, tentang menyikapi rasa jatuh cinta dan harapan di masa depan. Hingga akhirnya kami tiba dalam sesi kriteria calon teman hidup impian. Aku dengan temanku Barbie menyebutkan kriteria-kriteria kami. Ada beberapa kriteria, namun yang berada di nomor urut pertama adalah "Seorang Pria yang mencintai Tuhan lebih dari apapun di hidupnya". Disusul oleh ciri spesifik lainnya.
"Jika kalian menginginkan kriteria-kriteria yang baik akan kalian temukan, berjuanglah dek. Berjuang untuk menjadi seseorang yang karakternya ada sebagai karakter orang yang kalian harapkan. Berbenah dirilah, lebih lagi. Seiring waktu kalian berbenah diri, penantian itu pasti akan terjawab juga."
Diskusi kami berlanjut, sampai hampir pukul 21.00. Ada setitik terang menyusup kehatiku, ada kebahagian besar bergemuruh di dalam sana. Ahhh... Bahagianya saat menyadari bahwa Tuhan benar-benar menulis cinta untukku. Dan sudah lama aku jatuh cinta pada-Nya. Cinta yang tidak dapat kutuliskan kepada Dia yang tidak dapat kulukiskan.
Tahu tidak? Bukan hanya untukku, dan kedua kakakku dalam cerita ini. Tapi untuk kamu yang sekarang membaca tulisan ini percayalah "Tuhan sedang menulis cinta untukmu, Dia rindu untuk menulis cinta dalam hidup setiap orang, bagaimana tidak Tuhan adalah cinta itu sendiri, itu faktanya."
Tersenyumlah.. :)
Aku hanya terdiam, Tanpa komentar saat mendengar kata tugas dan setia. Aku lebih kepada menginstropeksi diriku sendiri.
"Kerjakanlah bagian pelayananmu, dan percayalah Tuhan yang menulis cinta untukmu." Suara Rapunzell terdengar jelas ditelingaku.
Kami terus berdiskusi, tentang menyikapi rasa jatuh cinta dan harapan di masa depan. Hingga akhirnya kami tiba dalam sesi kriteria calon teman hidup impian. Aku dengan temanku Barbie menyebutkan kriteria-kriteria kami. Ada beberapa kriteria, namun yang berada di nomor urut pertama adalah "Seorang Pria yang mencintai Tuhan lebih dari apapun di hidupnya". Disusul oleh ciri spesifik lainnya.
"Jika kalian menginginkan kriteria-kriteria yang baik akan kalian temukan, berjuanglah dek. Berjuang untuk menjadi seseorang yang karakternya ada sebagai karakter orang yang kalian harapkan. Berbenah dirilah, lebih lagi. Seiring waktu kalian berbenah diri, penantian itu pasti akan terjawab juga."
Diskusi kami berlanjut, sampai hampir pukul 21.00. Ada setitik terang menyusup kehatiku, ada kebahagian besar bergemuruh di dalam sana. Ahhh... Bahagianya saat menyadari bahwa Tuhan benar-benar menulis cinta untukku. Dan sudah lama aku jatuh cinta pada-Nya. Cinta yang tidak dapat kutuliskan kepada Dia yang tidak dapat kulukiskan.
Tahu tidak? Bukan hanya untukku, dan kedua kakakku dalam cerita ini. Tapi untuk kamu yang sekarang membaca tulisan ini percayalah "Tuhan sedang menulis cinta untukmu, Dia rindu untuk menulis cinta dalam hidup setiap orang, bagaimana tidak Tuhan adalah cinta itu sendiri, itu faktanya."
Tersenyumlah.. :)