15.15
Angin mulai memenuhi kamarku. Terasa sejuk. Lalu aku berdiri dari dudukku, menghampiri jendela dan menengadah kelangit biru berawan.
Aku memandanginya. Menelusuri setiap keindahan langit di atas kepalaku.
17.00
Udara lembab menusuk kedalam kulitku. Hujan baru saja usai. Masih dengan posisi tidur kulayangkan pandangan kearah jendela kamarku. Langit mendung. Gerimis masih turun seolah belum sudi untuk menampilkan wajah cerah sang langit.
Lagi-lagi udara lembab begini, membujukku dan serasa dekat dihatiku.
Lalu aku bangkit dari tempat tidur, berjalan perlahan kearah jendela yang kubiarkan terbuka lebar. Aku sengaja tidak menutupnya walau hujan. Polarisasi cahaya di kaca jendela kamarku biasanya akan mengurangi keindahan hujan. Dengan alasan itu, kubiarkan saja tetap terbuka lebar.
Sekarang aku duduk di sebuah kursi yang terletak di bibir jendela. Masih gerimis, belasan burung terbang kian kemari tepat dibawah kakiku, sedang langit masih juga mendung diatas kepalaku.
Kamarku berada dilantai 3 bangunan RUKO MMTC di Medan. Jendela kamarku tepat berhadapan dengan kampus Universitas Negeri Medan.
Aku memandang kebawah. Perempatan, lampu merah. ahh sama saja. Angkot, sepeda motor, mobil mewah, pejalan kaki semua lalu lalang di bawah gerimis kecil, seolah lupa gerimis bisa saja membuat kepala mereka pusing nanti malam.
Lalu aku melihat seorang gadis yang kukenal di jalan raya.
"Angge..." kuteriakkan namanya.
Hanya saja orang yang kupanggil tidak menggubris.
"Mungkin bukan dia" ucapku dalam hati.
Lalu aku bangkit dari dudukku, menuju kearah meja dan mengambil kacamataku kemudian menggunakannya.
Sekarang lebih terang. Aku dapat melihat dengan jelas wajah-wajah yang lalu lalang dijalan raya, melihat setiap helai daun pohon yang tumbuh ditaman Unimed. Membaca tulisan the character building university yang tertulis di atas loga Unimed, helai bulu burung yang terbang di bawah kakiku. Melihat riak air yang tergenang dijalanan akibat sentuhan roda-roda yang melintasinya. Bahkan bayangan yang terbias di aspal hitam yang basah.
Melihat ternyata lebih indah dari yang selama ini kuketahui. Aku baru menyadarinya.
Sudah lama sejak aku bisa melihat semua itu. Lama, aku lupa kapan terakhir kalinya. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan aku tidak dapat melihat wajah seseorang jika tidak dekat dihadapanku.
Aku butuh bantuan kacamata untuk melihat wajah seseorang, membaca tulisan di papan tulis, melihat helai daun. Ada hal yang terlewatkan begitu saja.
Mata ini ternyata tidak sesempurna kelihatannya. Lalu terngiang kembali kata-kata Ayahku saat SD dulu.
"Membaca jangan ditempat remang, jangan sambil tiduran, nanti matamu rusak."
Entah sudah berapa buku yang kubaca, sejak belum sekolah aku sangat senang membaca. Tiduran adalah posisi paling nyaman untuk membaca. Tapi ternyata nasihat orang tua selalu benar.
Sejak SD aku mengeluh tentang penglihatanku. Mengeluh kesulitan untuk mengenal wajah orang dari jarak beberapa meter, namun aku tidak ingin memakai kacamata.
Bahkan hingga hari ini memakai kacamata masuk kedalam list hal yang paling malas untuk kulakukan. Tapi akibatnya aku sering lupa bahwa banyak hal indah yang kulewati begitu saja. Aku melihat banyak hal, dan melewatkan banyak hal tanpa benar-benar melihatnya.
Beberapa orang berkomentar tentang aku yang sombong. Sombong karena sering tidak membalas senyum mereka, bagaimana aku membalas senyum mereka jika aku tidak dapat melihatnya.
ahhh, aku mulai sedih. Menyadari banyak senyuman yang mungkin kulewatkan begitu saja. Banyak wajah yang selalu kutemui namun tidak kulihat. Sekarang aku mengerti, betapa berharganya mata.
Mata membuatku melihat, membuatku menikmati banyak keindahan, membantuku merekam banyak pelajaran, menuntunku berjalan fokus pada tujuan.
Mata benar-benar berharga. Dan jika manusia, dan jika aku dan kamu Tuhan jadikan sebagai biji mata-Nya, sungguh berharga kita bagi Dia.
Aku paham, sangat paham sekarang. Setelah kubedakan bagaimana rasanya benar-benar melihat dan sekedar melihat.
Hujan sudah reda, dibawah kakiku tidak ada lagi burung yang beterbangan, mereka sudah berpindah keatas kepalaku, terbang tepat diatas jendela kamarku, langit ternyata kembali biru. Hujan sudah usai kali ini. Kulirik jam dinding, ternyata sudah 17.30.
Kau tahu? sekarang langit benar-benar biru dan diselimuti kabut tipis dari awan, begitu indah..
"Selamat sore,
Angin mulai memenuhi kamarku. Terasa sejuk. Lalu aku berdiri dari dudukku, menghampiri jendela dan menengadah kelangit biru berawan.
Aku memandanginya. Menelusuri setiap keindahan langit di atas kepalaku.
17.00
Udara lembab menusuk kedalam kulitku. Hujan baru saja usai. Masih dengan posisi tidur kulayangkan pandangan kearah jendela kamarku. Langit mendung. Gerimis masih turun seolah belum sudi untuk menampilkan wajah cerah sang langit.
Lagi-lagi udara lembab begini, membujukku dan serasa dekat dihatiku.
Lalu aku bangkit dari tempat tidur, berjalan perlahan kearah jendela yang kubiarkan terbuka lebar. Aku sengaja tidak menutupnya walau hujan. Polarisasi cahaya di kaca jendela kamarku biasanya akan mengurangi keindahan hujan. Dengan alasan itu, kubiarkan saja tetap terbuka lebar.
Sekarang aku duduk di sebuah kursi yang terletak di bibir jendela. Masih gerimis, belasan burung terbang kian kemari tepat dibawah kakiku, sedang langit masih juga mendung diatas kepalaku.
Kamarku berada dilantai 3 bangunan RUKO MMTC di Medan. Jendela kamarku tepat berhadapan dengan kampus Universitas Negeri Medan.
Aku memandang kebawah. Perempatan, lampu merah. ahh sama saja. Angkot, sepeda motor, mobil mewah, pejalan kaki semua lalu lalang di bawah gerimis kecil, seolah lupa gerimis bisa saja membuat kepala mereka pusing nanti malam.
Lalu aku melihat seorang gadis yang kukenal di jalan raya.
"Angge..." kuteriakkan namanya.
Hanya saja orang yang kupanggil tidak menggubris.
"Mungkin bukan dia" ucapku dalam hati.
Lalu aku bangkit dari dudukku, menuju kearah meja dan mengambil kacamataku kemudian menggunakannya.
Sekarang lebih terang. Aku dapat melihat dengan jelas wajah-wajah yang lalu lalang dijalan raya, melihat setiap helai daun pohon yang tumbuh ditaman Unimed. Membaca tulisan the character building university yang tertulis di atas loga Unimed, helai bulu burung yang terbang di bawah kakiku. Melihat riak air yang tergenang dijalanan akibat sentuhan roda-roda yang melintasinya. Bahkan bayangan yang terbias di aspal hitam yang basah.
Melihat ternyata lebih indah dari yang selama ini kuketahui. Aku baru menyadarinya.
Sudah lama sejak aku bisa melihat semua itu. Lama, aku lupa kapan terakhir kalinya. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan aku tidak dapat melihat wajah seseorang jika tidak dekat dihadapanku.
Aku butuh bantuan kacamata untuk melihat wajah seseorang, membaca tulisan di papan tulis, melihat helai daun. Ada hal yang terlewatkan begitu saja.
Mata ini ternyata tidak sesempurna kelihatannya. Lalu terngiang kembali kata-kata Ayahku saat SD dulu.
"Membaca jangan ditempat remang, jangan sambil tiduran, nanti matamu rusak."
Entah sudah berapa buku yang kubaca, sejak belum sekolah aku sangat senang membaca. Tiduran adalah posisi paling nyaman untuk membaca. Tapi ternyata nasihat orang tua selalu benar.
Sejak SD aku mengeluh tentang penglihatanku. Mengeluh kesulitan untuk mengenal wajah orang dari jarak beberapa meter, namun aku tidak ingin memakai kacamata.
Bahkan hingga hari ini memakai kacamata masuk kedalam list hal yang paling malas untuk kulakukan. Tapi akibatnya aku sering lupa bahwa banyak hal indah yang kulewati begitu saja. Aku melihat banyak hal, dan melewatkan banyak hal tanpa benar-benar melihatnya.
Beberapa orang berkomentar tentang aku yang sombong. Sombong karena sering tidak membalas senyum mereka, bagaimana aku membalas senyum mereka jika aku tidak dapat melihatnya.
ahhh, aku mulai sedih. Menyadari banyak senyuman yang mungkin kulewatkan begitu saja. Banyak wajah yang selalu kutemui namun tidak kulihat. Sekarang aku mengerti, betapa berharganya mata.
Mata membuatku melihat, membuatku menikmati banyak keindahan, membantuku merekam banyak pelajaran, menuntunku berjalan fokus pada tujuan.
Mata benar-benar berharga. Dan jika manusia, dan jika aku dan kamu Tuhan jadikan sebagai biji mata-Nya, sungguh berharga kita bagi Dia.
Aku paham, sangat paham sekarang. Setelah kubedakan bagaimana rasanya benar-benar melihat dan sekedar melihat.
Hujan sudah reda, dibawah kakiku tidak ada lagi burung yang beterbangan, mereka sudah berpindah keatas kepalaku, terbang tepat diatas jendela kamarku, langit ternyata kembali biru. Hujan sudah usai kali ini. Kulirik jam dinding, ternyata sudah 17.30.
Kau tahu? sekarang langit benar-benar biru dan diselimuti kabut tipis dari awan, begitu indah..
"Selamat sore,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar