Blue

Blue

Selasa, 22 April 2014

Menangislah sebentar, kamu membutuhkannya

"Aku suka langit..." ucapku kemudian tersenyum kepadanya.
"Alasannya apa Rhen?" tanya Sifa sahabatku.
":)" aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman..

Aku mengangkat kepalaku, menggerakkan jari telunjukku dan menuliskan namaku di antara awan-awan itu.

"Kamu tahu?? setiap kali aku merasa sangat sedih karena merasa rindu aku akan melihat ke atas langit sana. Saat itu aku sadar langit yang kulihat sekarang juga dilihat oleh orang-orang yang sedang kurindukan." aku terdiam.
"Rhena..." Sifa setengah berbisik.
"Sifa, aku mengerti apa yang kamu rasakan. Kehilangan akan selalu membuat hati kita sedih..."
"Iyaa Rhen... rasanya sepi, patah, sakit, aku sudah kehabisan kata-kata untuk hatiku saat ini, aku... aku dihianati, aku dicampakkan..."
"Hei... bukan hanya kamu.. banyak orang yang pernah mengalaminya.. Coba lihat keatas sana..."

Aku dan Sifa menengadah melihat langit biru.


"Fa... apa kamu pernah tahu di mana batas langit itu?"
"Enggak Rhen..."
"Apa kita pernah tahu ada berapa banyak jumlah manusia yang beraktifitas di bawah kolong langit biru itu?"
"Aku nggak tahu Rhen... pastinya sangat banyak.."
"Iya Fa... banyak, dan dari banyak orang itu bukan hanya kamu, bukan hanya aku, masih ada orang lain yang merasakan kesedihan yang sama dengan kita."
"Rhena...?"
"Iya Fa?"
"Apa kamu sudah benar-benar melupakan dia?"
"Aku tidak akan pernah melupakan dia Fa.. aku hanya mencoba untuk berhenti memikirkan dia..."
"Apa kamu tidak membenciku?"
"Apa aku harus memilih menambah masalah dalam masalah?"
"Tapi Rhen....?"
"Aku kenal kamu sejak kita TK Fa... ingat nggak waktu pertama kali kamu pacaran?"
"Kamu orang pertama yang tahu.."
"Ingat nggak waktu pertama kali gigi susuku copot?"
"Kamu nangis ketakutan, dan waktu itu hanya ada kita berdua di rumahmu."
"Ingat nggak waktu papa-ku ninggal?"
"Kamu pasti sedih banget waktu itu Rhen.."
"Iya Fa.. tapi kamu selalu nemanin aku."
"Fa... kamu masih ingat waktu pertama kali kamu kenal dengan Ryan?"
"Kamu ngenalin aku denganya tahun lalu, di ulang tahunku yang ke-19"

Lalu hening... aku hanya terus memandangi langit.



                                                      

"Rhen... di ulang tahunku yang ke-19 aku senang melihat Ryan datang kepestaku.. Kami satu kampus, dan sudah setahun aku naksir sama dia."
"Waktu itu dia datang sama aku Fa.."
"Awalnya aku shock.. bagaimana mungkin dia ada di pestaku.."
"Lalu aku mengenalkan kalian berdua."
"Ternyata dia orang yang sering kamu ceritakan padaku. ya.. Ryan pacar rahasiamu."
"Di ulang tahunku yang ke-19 aku kecewa, aku patah hati."
"Maafin aku Fa..."
"Tapi, sejak hari itu aku semakin dekat dengan Ryan.."
"dan semuanya sudah terjadi." ujarku lirih.

"Kamu tidak marah?" tanya Sifa padaku.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Aku bekas selingkuhan pacarmu" katanya.
"hanya bekas kan?" jawabku.. "lagi pula, dia bukan pacarku lagi" ujarku menambahi.
"tapi, rasanya sangat sedih untuk kehilangan dia. maafkan aku Rhena" ujar Sifa lagi.
"Kamu masih mencintai dia?" tanyaku
"Bagaimana denganmu?"
"awalnya aku marah... sangat marah. Rasanya sangat sakit Fa. Tapi aku belajar untuk menerima keadaan. Dia memilih kamu bukan aku".
"Tapi... aku meminta dia untuk meninggalkanku, aku gak mau dihantui perasaan bersalah Rhen.."
"Apapun alasannya, kalau kalian saling mencintai, jangan hiraukan aku lagi."ucapku.

 Aku memeluknya...
"Sifa.. kamu sahabatku, aku sahabatmu. Kalau kamu masih mencintai Ryan, aku mau kamu berjuang."
"Rhena..."
 aku melepaskan pelukanku.
"Sifa, aku pamit yah, sampai jumpa di lain waktu" ucapku.

Aku berdiri meninggalkan Sifa yang masih duduk di ayunan taman rumahnya. Hari ini aku akan meninggalkan kota ini. Menyusul Mama ke Jepang. Mungkin pergi jauh akan membantu aku melupakan kejadian pahit di sini. Sifa sahabatku, dan Ryan seseorang yang dulunya mengisi hari-hariku, semoga mereka bahagia.
Aku tersenyum kali ini air mataku ikut menetes. Aku hanya ingin kuat menghadapi hidup ini. Aku memndang langit di balik kaca jendela mobil mamaku. Lalu aku merasa kehangatan menggenggam jemariku.

"Ma.. Setidaknya kami masih melihat langit yang sama kan? Ma, dia masih sahabatku kan?"
"menangislah sebentar, kamu membutuhkannya" Jawab mamaku disertai senyum damainya.

Rabu, 16 April 2014

Apa yang dilihat si buta, yang didengar si tuli?

Hidupku normal. Yaaa... sangat normal menurut pola hidup pribadiku..
Gadis 20 tahun kuliah semester VI jurusan Biologi di salah satu Universitas Negeri di Indonesia.
Normal itu relatif... Relatif kapan kita menilainya dan siapa yang menilai bahkan siapa yang dinilai..

gak terlalu ribet kok, jadi jangan dibuat pusinglah.

Tahun 2011, yah.. Tepatnya tahun 2011 aku dan teman-teman seangkatanku jadi mahasiswa baru atau "MABA". anak belasan tahun yang baru pertama kalinya duduk di bangku perkuliahan. Setiap hari istimewa, setiap hari melelahkan, dan setiap hari kami tersenyum bersama.

Sudah pukul 08.10 dan aku baru saja tiba di kampus. Telat?! ya tepat sekali, aku telat ngampus. tanpa alasan lain, karena tempat tinggalku membutuhkan perjalanan 1 jam menuju kampusku. :) beruntungnya aku ini matakuliah teori dan dosen yang bersangkutan belum masuk.. HAHAHA

"Laporan udah kelar?" tanya temanku Silvy
":)" aku hanya menanggapi ucapannya dengan senyuman..

Seperti biasa, ada beberapa peraturan dalam hidupku:
1. namaku bukan Viola kalau tugasku tidak selesai di rumah
2. tidak ada istilah mencontek dan di contek
3. Pesan mama-ku "jadilah pemenang dimana_pun kamu berada"
4. Jika aku ingin menjadi pemenang artinya kau harus punya alasan hidup seorang pemenang.
5. Kuliah buat belajar bukan ngejar IP.
6. Harus wisuda setelah kuliah 4 tahun (paling lama ) dengan IPK minimal 3,6.
7.jika ada yang berkomentar bahwa aku orang sombong??? "AKU GAK PEDULI, THIS MY LIFE"

"Vio... Laporan udah belom???" tanya Silvy sekali lagi
"Seperti biasa" jawabku acuh.

Satu semester hampir berlalu, aku punya teman yang bisa mengerti sisi egoisku, dan aku juga punya teman yang belum dapat menerima betapa keras dan egoisnya aku. Diantara mereka mungkin ada yang sampai membenciku. Tapi intinya tetap saja "Aku tidak peduli" toh jika mereka bertanya aku masih  mau berbagi.Dan yang pasti aku benci dengan tangan-tangan dan mata-mata jahil disaat ujian. Budaya mencontek, aku sangat membencinya.

Semester awalku diakhiri dengan IP Cumlaude... "3,52"

Semester keduaku dibumbui oleh kisah berbeda. Seseorang dengan inisil K akhirnya mulai mengisi hari-hariku yang sangat normal. Langit yang tadinya biru bersih dibuatnya berwarna. Disana ada warna putih lembut, merah jingga, namun kali ini tanpa warna kelabu juga. Mendung belum datang kala itu.
Walau ada bias-bias warna lain, namun aku masih sama, bersama teman-temanku.
Mereka sebut itu cinta, dan aku hanya bisa mengikuti apa perkataan mereka. Rutinitas masih sam, masih laporan, freetest, tugas, ujian, lembur, dan pacar.
Dan hadiah terindahku IPS 3,96.  Kenapa bukan 4,00???

Tapi ternyata sekalipun Awan berjanji untuk menemani langit biru itu hujan tidak akan pernah diam. Dan sayangnya, walaupun awan berjanji pernahkah awan mencintai langit seperti awan mencintai hujan? Mungkin awan mencintai langit kerena keindahannya tidak setimpal dengan bagaimana awan mencintai hujan, awan akan memilih untuk jatuh kepada dan menjadi hujan-hujan itu. Saat itu setiap goresan-goresan putih lembut dilangit biru berubah menjadi semakin tebal, lalu menjadi kelabu hingga tiada lagi rona jingga menghias langitku. Lalu hujan turun.. sang awan meninggalkan langitku..
Langit yang digagahi warna biru akhirnya mulai berubah, egoku tidak lagi membara, hujan terlalu lebat dan memadamkan bara-bara itu. Hujan yang panjang, lama. Mengapa harus hujan?? mengapa awan-awan dilangit sana harus jatuh dan menjadi hujan??
kata adikku.. "agar tanah tidak kering, bara menjadi padam, karena panas dapat menghanguskan, namun jika hujan turun setidaknya ada kesejukan"

Aku merenungkan kata demi kata yang tidak beraturan itu, Ego yang terlalu membara itu akhirnya hilang, bukan karena aku sudah menyadarinya, namun karena hujan telah memadamkannya. Tubuhku-pun mulai ikut berontak tidak ada lagi lembur, aku sakit dan akhirnya IP ku menurun drastis... semester 3.. aku tidak menangis melihat nilaiku yang anjlok, walau masih cumlaude, tapi untuk pertama kalinya aku merasa kalah.
Dan aku memperbaikinya selama 2 semester terakhir.

Hidupku berubah 180 derajat. Walau prinsipku tetap sama namun aku belajar menempatkannya dengan mengurangi keegoisanku.
Apa yang dilihat oleh sibuta? banyak hal yang dapat mereka lihat. apa yang dapat didengar si tuli?? banyak nada yang dapat mereka dengar. Melihat itu tidak selalu harus karena apa yang dapat ditangkap retina mata, tidak harus warna-warni konkret melihat itu yah sekedar memahami apa yang ada di sekitarku. Mendengar itu bukan selamanya karena bunyi-bunyi yang bisa ditanggkap gendang telingaku, tapi juga apa yang dapat didengar oleh hatiku... Akhirnya aku belajar, akulah sibuta, akulah situli saat aku tidak mau berubah menjadi berkat untuk sekelilingku..

Untung hujan membawa pergi sang awan, walau langit terlihat menangis saat itu namun masih ada pelangi setelahnya... Dulu aku pernah menangisi kesedihanku, dan akhirnya aku berfikir, siapa bilang langit tidak pernah berubah? andai langit tanpa awan, tanpa mendung, tanpa hujan, tanpa bintang, tanpa bulan, tanpa apa-apa, langit biru, langit kosong, langit sepi... aku tidak ingin melihatnya kosong...

"Lirik jendela kamar :) masih ada bulan dan bintang dilangit yang nampak hitam dimalam ini" itu yang dapat kulihat. sekarang aku bukan si buta, aku bukan si tuli... :)