Blue

Blue

Rabu, 16 April 2014

Apa yang dilihat si buta, yang didengar si tuli?

Hidupku normal. Yaaa... sangat normal menurut pola hidup pribadiku..
Gadis 20 tahun kuliah semester VI jurusan Biologi di salah satu Universitas Negeri di Indonesia.
Normal itu relatif... Relatif kapan kita menilainya dan siapa yang menilai bahkan siapa yang dinilai..

gak terlalu ribet kok, jadi jangan dibuat pusinglah.

Tahun 2011, yah.. Tepatnya tahun 2011 aku dan teman-teman seangkatanku jadi mahasiswa baru atau "MABA". anak belasan tahun yang baru pertama kalinya duduk di bangku perkuliahan. Setiap hari istimewa, setiap hari melelahkan, dan setiap hari kami tersenyum bersama.

Sudah pukul 08.10 dan aku baru saja tiba di kampus. Telat?! ya tepat sekali, aku telat ngampus. tanpa alasan lain, karena tempat tinggalku membutuhkan perjalanan 1 jam menuju kampusku. :) beruntungnya aku ini matakuliah teori dan dosen yang bersangkutan belum masuk.. HAHAHA

"Laporan udah kelar?" tanya temanku Silvy
":)" aku hanya menanggapi ucapannya dengan senyuman..

Seperti biasa, ada beberapa peraturan dalam hidupku:
1. namaku bukan Viola kalau tugasku tidak selesai di rumah
2. tidak ada istilah mencontek dan di contek
3. Pesan mama-ku "jadilah pemenang dimana_pun kamu berada"
4. Jika aku ingin menjadi pemenang artinya kau harus punya alasan hidup seorang pemenang.
5. Kuliah buat belajar bukan ngejar IP.
6. Harus wisuda setelah kuliah 4 tahun (paling lama ) dengan IPK minimal 3,6.
7.jika ada yang berkomentar bahwa aku orang sombong??? "AKU GAK PEDULI, THIS MY LIFE"

"Vio... Laporan udah belom???" tanya Silvy sekali lagi
"Seperti biasa" jawabku acuh.

Satu semester hampir berlalu, aku punya teman yang bisa mengerti sisi egoisku, dan aku juga punya teman yang belum dapat menerima betapa keras dan egoisnya aku. Diantara mereka mungkin ada yang sampai membenciku. Tapi intinya tetap saja "Aku tidak peduli" toh jika mereka bertanya aku masih  mau berbagi.Dan yang pasti aku benci dengan tangan-tangan dan mata-mata jahil disaat ujian. Budaya mencontek, aku sangat membencinya.

Semester awalku diakhiri dengan IP Cumlaude... "3,52"

Semester keduaku dibumbui oleh kisah berbeda. Seseorang dengan inisil K akhirnya mulai mengisi hari-hariku yang sangat normal. Langit yang tadinya biru bersih dibuatnya berwarna. Disana ada warna putih lembut, merah jingga, namun kali ini tanpa warna kelabu juga. Mendung belum datang kala itu.
Walau ada bias-bias warna lain, namun aku masih sama, bersama teman-temanku.
Mereka sebut itu cinta, dan aku hanya bisa mengikuti apa perkataan mereka. Rutinitas masih sam, masih laporan, freetest, tugas, ujian, lembur, dan pacar.
Dan hadiah terindahku IPS 3,96.  Kenapa bukan 4,00???

Tapi ternyata sekalipun Awan berjanji untuk menemani langit biru itu hujan tidak akan pernah diam. Dan sayangnya, walaupun awan berjanji pernahkah awan mencintai langit seperti awan mencintai hujan? Mungkin awan mencintai langit kerena keindahannya tidak setimpal dengan bagaimana awan mencintai hujan, awan akan memilih untuk jatuh kepada dan menjadi hujan-hujan itu. Saat itu setiap goresan-goresan putih lembut dilangit biru berubah menjadi semakin tebal, lalu menjadi kelabu hingga tiada lagi rona jingga menghias langitku. Lalu hujan turun.. sang awan meninggalkan langitku..
Langit yang digagahi warna biru akhirnya mulai berubah, egoku tidak lagi membara, hujan terlalu lebat dan memadamkan bara-bara itu. Hujan yang panjang, lama. Mengapa harus hujan?? mengapa awan-awan dilangit sana harus jatuh dan menjadi hujan??
kata adikku.. "agar tanah tidak kering, bara menjadi padam, karena panas dapat menghanguskan, namun jika hujan turun setidaknya ada kesejukan"

Aku merenungkan kata demi kata yang tidak beraturan itu, Ego yang terlalu membara itu akhirnya hilang, bukan karena aku sudah menyadarinya, namun karena hujan telah memadamkannya. Tubuhku-pun mulai ikut berontak tidak ada lagi lembur, aku sakit dan akhirnya IP ku menurun drastis... semester 3.. aku tidak menangis melihat nilaiku yang anjlok, walau masih cumlaude, tapi untuk pertama kalinya aku merasa kalah.
Dan aku memperbaikinya selama 2 semester terakhir.

Hidupku berubah 180 derajat. Walau prinsipku tetap sama namun aku belajar menempatkannya dengan mengurangi keegoisanku.
Apa yang dilihat oleh sibuta? banyak hal yang dapat mereka lihat. apa yang dapat didengar si tuli?? banyak nada yang dapat mereka dengar. Melihat itu tidak selalu harus karena apa yang dapat ditangkap retina mata, tidak harus warna-warni konkret melihat itu yah sekedar memahami apa yang ada di sekitarku. Mendengar itu bukan selamanya karena bunyi-bunyi yang bisa ditanggkap gendang telingaku, tapi juga apa yang dapat didengar oleh hatiku... Akhirnya aku belajar, akulah sibuta, akulah situli saat aku tidak mau berubah menjadi berkat untuk sekelilingku..

Untung hujan membawa pergi sang awan, walau langit terlihat menangis saat itu namun masih ada pelangi setelahnya... Dulu aku pernah menangisi kesedihanku, dan akhirnya aku berfikir, siapa bilang langit tidak pernah berubah? andai langit tanpa awan, tanpa mendung, tanpa hujan, tanpa bintang, tanpa bulan, tanpa apa-apa, langit biru, langit kosong, langit sepi... aku tidak ingin melihatnya kosong...

"Lirik jendela kamar :) masih ada bulan dan bintang dilangit yang nampak hitam dimalam ini" itu yang dapat kulihat. sekarang aku bukan si buta, aku bukan si tuli... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar