Blue

Blue

Sabtu, 03 Oktober 2015

Sepucuk Surat Untuk Tokoh Pemeran Utama dalam Kenangan Tokoh Yang Memiliki Karakter Sangat Egois

 Teruntuk kamu orang yang memiliki kisah bersama seseorang yang dalam penilaianmu bersifat sangat egois.

Dimanapun kamu berada aku (sebagai penulis) dan dia si egois itu berharap kamu sempat membaca tulisan ini, kapanpun itu. Jika kamu membaca tulisan ini, tolong jangan berhenti sampai tiba dikalimat terakhir. Tolong jangan mengumpat maupun mencaci.

Si egois yang belum dewasa itu juga seorang manusia yang punya perasaan.
Dia bisa terluka sama hal seperti dia bisa jatuh hati.

Si egois yang belum dewasa itu akhirnya jatuh cinta, dan karena perasaannya sangat dalam di mata orang yang belum memahaminya dia terlihat semakin egois.

Padahal dia hanya sangat menyayangi orang yang akhirnya membuatnya jatuh cinta, sayangnya sikap tidak dewasa diantara keduanya membuat mereka gagal untuk saling memahami.

Sosok yang telah membuat si egois jatuh hati memilih untuk menyerah. Entah dia sadar bahwa keputusan yang dia pilih tidak hanya sekedar membuat si egois hancur hatinya dan terluka, tapi juga kehilangan banyak hal dari dirinya.
Dimulai dari kehilangan kepercaaan diri yang membuatnya semakin menutup diri hingga orang menilainya sombong.
Lalu kehilangan konsentrasi, dan kehilangan keberanian untuk jatuh hati lagi.

Entah dia yang masih terlalu naif, atau cinta yang tengah mempermainkannya. Tapi pada kenyataan kehilangan orang yang dicintainya membuat hari-hari siegois hanya berteman air mata.

Sudah pernah ada titik dimana si egois juga sadar, bahwa dia butuh hidup untuk dirinya sendiri, hingga suatu hari dia menemukan suatu kegiatan yang bisa membuatnya konsentrasi lagi. Kegiatan itu tidak lain adalah menari.

Si egois yang sudah memiliki usia hampir kepala 2 itu pun memulai melibatkan dirinya dengan tarian. Dia menari, menari dan menari. Karena menari benar-benar membuatnya tidak dapat membagi konsentrasinya untuk memikirkan cinta.

Semakin sering dia habiskan waktu untuk menari, membuat waktu yang terbagi untuk memikirkan sosok yang membuatnya patah hati semakin berkurang.

Mengapresiasikan banyak emosi dalam gerakan tarian membuat si egois dapat merasakan banyak emosi lagi. Bukan hanya rasa tersakiti, namun dalam tarian ditemukannya juga raca cinta. Rasa cinta yang mengalir tanpa henti dari Sang Penciptanya.

Perlahan-lahan rasa cinta itu membuatnya kembali hidup, mengubah caranya dalam menilai segala sesuatu hanya saja belum sepenuhnya mengubah kenyataan bahwa sebagian besar kepercayaan dirinya sudah hilang. Mungkin hanya butuh waktu untuk mengembalikannya.

Walau dia kehilangan kepercayaan dirinya, entah bagaimana si egois masih dapat berdiri tegak dihadapan orang banyak, menari di hadapan banyak mata yang melihatnya, dan terus tersenyum hingga menurut orang yang mengetahuinya namun tidak mengenalnya dia sangat bahagia, dan menurut orang yang mengetahuinya hanya sekedar saja dia terlihat begitu sombong dan angkuh.

Di lain pihak ada teman yang sangat mengenalnya, teman yang tahu betapa egoisnya dia, betapa kerasnya dia berusaha untuk terus bediri sambil berbenah diri, bahkan tahu betapa rapuh dan terlukanya dia. Dia memang egois, dia memang angkuh, bicaranya terkadang songong, dia juga menebar banyak canda tawa di tempat-tempat tertentu, tapi dia masih terluka.

Lukanya kali ini tidak hanya sekedar berbekas, namun juga belum sembuh bahkan hingga lebih seribu hari. Bukan berarti dia tidak berusaha mengobatinya. Berkali-kali dia mencoba membuka hati, namun saat dia membuka hati, apa yang dia dapati hanyalah kenangan dari masa lalu yang terus mengusiknya.

Berkali-kali dia membuka hati, dan mengabaikan perasaannya yang sesungguhnya. Menutup mata saat berpapasan dengan pemeran utama dalam ingatanya, dan menulikan telinga setiap mendengarnya berbicara. Hingga dia berhasil mengabaikan sosok itu, namun tidak juga berhasil menghapus perasaannya.

Namun ternyata ada titik dimana perasaannya berontak terhadap semua usahanya. Ada titik dimana perasaannya ingin meledak keluar. Setelah lebih seribu hari akhirna dia mengakui lagi, betapa dia merindukan sang pemeran utama kenangannya. Dia mengaku, bahwa dia masih gagal untuk berhenti menunggu.

Dan kini si egois berada pada puncak kebingungannya. Mengakui bahwa dia masih sangat mencintai sosok yang telah membuatnya jatuh hati malah memicu seluruh sarafnya untuk sadar betapa dia sudah kehilangan.

Kesadarannya tentang kehilangan membuatnya seperti kejang saraf. Pikirannya kembali tidak fokus, air mata satu persatu berlomba keluar. Berulang kali dia memaki diri sendiri mengatakan, "betapa bodohnya kamu, menunggu orang yang sudah mengatakan dengan pasti pada semua orang bahwa mustahil baginya untuk kembali. Memang pernyataan mustahil dia kembali tidak disampaikannya padamu, tapi pada sahabat-sahabatmu dan sahabat-sahabatnya."

Terus membodoh-bodohkan dirinya juga tidak mengubah kenyataan bahwa si egois itu masih tetap mecintai sang pemeran utama.

Kali ini yang ingin dilakukan oleh si egois itu hanya satu hal. Dia sangat ingin menghilang. Andai dia hilang mungkin ingatan tentang perasaannya juga akan hilang.

Andai sang pemeran utama tahu, bahwa luka yang banyak itu belum berhasil membuatnya berhenti jatuh cinta.

Pemeran utama, jika memang mustahil bagimu untuk kembali maka beritahulah padanya. Karena hanya itu satu-satunya cara untuk membuatnya benar-benar terluka lebih dalam. Mungkin dengan terluka lagi dia akan mendapatkan kesadarannya. Itu saja.

Bagaimana menurutmu pemeran utama? Apakah sisi yang kamu kenal darinya hanya keegosian dan ketidakdewasaannya selama ini? Toh bukankah kalian sama-sama tidak dewasa?

Apakah tulisan ini membuatmu sedikit lebih mengenalnya? Hal terpenting untuk kamu ingat, bahwa rasa sayangnya padamu lebih besar dari sikap egoisnya. Dia mencoba memahamimu, bahkan mencoba memahami alasanmu untuk melukainya. Hanya saja kamu terlalu naif dalam menilai dan meragukan perasaannya. Memang dia juga terlalu naif dengan cintanya, tapi cinta manakah yang tidak naif?

Sudahlah, terlalu banyak yang ingin kusampaikan padamu tentang si egois itu, tapi aku sadar tidak ada gunanya bagiku menceritakan semuanya di sini jika kamu sendiri tidak tertarik untuk memahami apapun tentang dia.

Mungkin kita biarkan saja hati si egois itu terus terluka hingga waktu yang memilih untuk tidak mempertemukanmu dan dia. Sama seperti kalimat yang selalu diucapkannya "andai saat ini salah satu dari kami dikirim ke timur, dan satunya lagi dikirim kebarat, mungkin jarak yang sangat jauh akan membuatku putus asa untuk mencintainya."

Hanya itu solusi yang terlintas dibenaknya, walau aku tahu bahwa dia pun ragu apakah dia sanggup untuk benar-benar tidak melihatmu lagi.

Sudahlah, lebih baik kuakhiri saja tulisan ini sampai di sini. Aku berharap tulisan ini dapat membantu.
Salam dariku,

Sang penulis surat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar