Blue

Blue

Sabtu, 25 Juni 2016

Waktu

Hampir setahun gak nulis, untung kemarin ditelpon sama Bu Guru cantik...
Frau Dewi guru bhs. Jermanku waktu SMA..
Trus, ditanyain "apa kabar puisi-puisimu wy?"
Akhirnya aku pengen nulis lagi :)

***

Jika  itu tentang waktu, 
Kita selalu belajar untuk menggunakannnya.
Ketika itu juga berbicara waktu
Masih selalu ada yang gagal untuk menepatinya
Karena itu tentang waktu, jika berlalu maka tidak akan kembali.
Seperti bunga yang layu lalu mengering tidak akan segar kembali.

***
Seorang dosen yang mengajar di kelasku pernah berkata, "hidupmu adalah apa yang ada dihadapnmu saat ini, selain daripada itu hanya imajinasi."
Kisah fiksi ini munkgin terinsfirasi dari kalimat itu :)

***
Awal

 
 Studio ballet terlihat legang, hanya saja ada seorang gadis yang masih asik menari disana. Melompat, berjinjit, berputar, memadukan beberapa gerakan yang indah. Akhirnya setelah Poruette, dia melakukan perpaduan Arabeschques.

"Key... kurasa itu Arabeschques terindah yang pernah kulihat." Seorang gadis berambut ikat menjerit kegirangan membelakangi di pintu masuk studio.

"Kay selalu memberi komentar seperti itu setiap melihat Key latihan." Ujar gadis lainnya. Mereka benar-benar mirip, wajar saja mereka saudari kembar.

"Kali ini Key mendapatkan peran Gissele itu kan?"

"Iya Kay, kamu juga mendapatkan peran sebagai pengiring musiknya kan?"

"Yes, dan ada seseorang yang kurasa bermain piano dengan sangat bagus juga."

"oh, Ya? aku jadi penasaran sebagus apa dia." 

"Key akan segera tahu, dia juga menjadi pengiring latihan kalian, banyak kabar angin beredar bahwa dia itu anak Madam Chatrine, namun sangat tidak menyukai Ballet."

Lalu kedua kakak beradik itu berkemas, dan meninggalkan studio. Berakhirlah sudah latihan untuk hari ini.

***


Ruangan itu cukup temaram, wajar saja, sudah hampir pukul 10 malam, sementara listrik padam hanya sebatang lilin kecil diatas meja di pojokan berteman nyala api yang menari-narilah sumber penerang disana. Calvin, ya pria yang duduk di sudut ruangan itu, tepat di bawah meja singgasana sang lilin, melempar jauh pandangan kosongnya, menatap malam yang temaram di hadapannya. Sedang, telepon genggamnya mengalunkan Gissele gugahan Lovenskjold sang komposer Clasiccal Ballet. Tatapannya kian dingin. 

"Aku hanya tidak ingin melakukan itu." Gumanya, kemudian menghentikan alunan musik dari hanphone digenggamannya.

"Aku tidak ingin selamanya menjadi pianis pengiring sebuah pementasan ballet, aku ingin kembali ke panggung. Seorang pianis tanpa panggung bukan pianis." ujarnya meyakinkan dirinya sendiri.

Lalu dia berdiri, dan seketika ruangan itu menjadi gelap, sebab pria itu telah meniup nyala api yang memahkotai sang lilin. Kini yang tersisa hanyalah gelap dan hening yang menyelimuti ruangan berukuran 5x4 meter itu.

***

"Tap..tap..tap..tap" ketukan manual terdengar begitu nyaring dikumandangkan pelatih, Key dan rekan bergerak kian kemari. Ini plot "Pase de Deux" dari tarian mereka. Sementara waktu latihan sudah berlalu selama 30 menit, hanya saja mereka tidak menggunakan musik pengiring. Calvin, ya pria itu, entah angin apa yang membuatnya bisa terlambat hadir hari ini. Sementara ini latihan Pra Gladi dan besok mereka sudah harus tampil. 

"Kita break sebentar." Ujar Madam Chatrina.

Lalu wanita paruh baya itu mengeluarkan telepon genggamnya dan berusaha menghubungi Calvin. Nada di Telepon genggam menunjukkan bahwa ada sambungan namun tidak ada jawaban. Sekali lagi wanita itu mencoba menghubungi.

"Hallo..." Seseorang menjawab dari seberang.

"Calvin, kamu dimana?"

"Ma, berapa kali sih harus Calvin jelasin? Calvin nggak mau jadi pengiring pementasan ballet. Calvin mau Mama buat konser tunggal untuk Calvin."

"Calvin, ini perintah, segera kemari atau kamu saya pecat."

"Ya sudah Pecat saja Ma, masih ada siapa itu? Kay atau Key lah namanya. Dia saja yang bermain."

"Klik.." Lalu telepon dimatikan dari seberang.

"Calvin... Calvin..."

"Madam Chatrina, its everything right now?" Kay mendekatinya.

"Kita tidak mungkin melakukan pementasan ini tanpa Calvin... sekalipun kamu punya kenalan lain yang bisa menggantikan posisinya,, tidak propesional mengganti pengiring musik disaat pementasan sudah dalam hitungan jam sayang."

Mereka sama-sama terdiam.

***
Sementara itu dibalik pintu teater Calvin berdiri merenung, masih merenung seperti tadi, sebelum dia menerima telepon dari Madam Chatrine. 

"Untuk apa Mama, membiarkanku les piano sejak kecil jika akhirnya aku hanya jadi seorang pengiring ballet? kenapa tidak sekalian diajarin menari saja?"

Hening sejenak. Akhirnya dia memilih bersandar ke daun pintu.

"Sampai kapan Mama berniat menjadikanku bonekanya?" 

"AUGH..." Calvin menjerit setengah terkejut karena tiba-tiba saja pintu terbuka dan tubuhnya jatuh kebelakang.

"Calvin? Maaf..." Ujar wanita dibalik pintu.

"Madam Cathrine, Calvin disini."

"Kay... berisik lu, bisa diam gak sih."

"Kalau Madam tahu elo disini, dia gak bakal cemas lagi Calvin."

"Lo masuk aja yok." Kay menarik tangan Calvin, hingga ke panggung teater.

"Madam, He's here now..." Kay berteriak.

Seketika kegiatan dipanggung terhenti.

"Calvin, kamu ini apa-apan. Seenaknya saja datang terlambat, dari mana kamu?" 

"Ma, sampai kapan  Mama lebih peduli dengan pementasan Mama dibanding aku Ma?"

Semua pemeran jadi salah tingkah, saling memandang satu sama lain dan merasa canggung berada ditengah pertikaian Ibu-Anak itu.

"Mama, hanya peduli dengan murid-murid mama, gerakan mama, pementasan mama. Aku benci semua yang bernuansa Ballet Ma. Aku benci, karena Mama lebih mencintai Ballet daripada aku."

"Jadi itu alasan kamu benci bergabung di tim ini?" celetuk Kay. Seketika itu juga mata Key bereda melotot pada adiknya Kay. Hanya saja yang dipelototi tidak sadar

"Lo tau gak Vin, Madam menari buat orang-orang yang dia cintai, termasuk lo. Kalau Madam gak peduli sama Lo, bisa aja Madam ninggalin lo dari dulu. Elunya aja kali Vin, yang terlalu ambisi pengen manggung sendiri, makanya lo ngerasa rendah kan kalau menjadi pengiring?"

"Kay...!!" bentak Key akhirnya.

"Tenang aja Vin, jangan stres gitu dong. Hadapi aja apa yang bisa Lo hadapin hari ini, ntar juga ada waktunya kok buat lo ngejar mimpi-mimpimu itu."

"Apaan sih lo? siapa juga nyuruh lo nasihatin gue?"

"Vin, maaf" Akhirnya madam Chatrine angkat bicara.

"Maaf kalau Mama membuatmu merasa tertekan dan kecewa, mama tidak berniat seperti itu. Hanya saja sejauh ini hanya ini yang bisa mama lakukan untukmu. Kedepan mama akan berjuang lebih lagi."

"Ia tuh Vin... Maaf juga ye, gue cerewet kayak bebek dari tadi. Cuman kan gue juga gak setuju kalau lo marah-marah sama madam, apalagi sampai nyimpan dendam, famali Vin."

"Iya nak, Kay benar. Kamu tidak perlu terlalu khawatir memikirkan kariermu besok atau lusa. Kamu juga tidak perlu terlalu menyesali masa-masa yang telah berlalu, dan merasa gagal untuk itu. Hadapi saja hari ini dengan maksimal. Berkarya saja hari ini." Lalu madam Chatrine memeluk putra semata wayangnya.

Akhir
***
Pementasannnya sukses. Calvin dan Kay memang pemusik yang handal, dan kini mereka bergabung di sebuah tim orkestra pengiring Ballet. Calvin tidak lagi membenci musik Ballet, tidak lagi mengejar-ngejar hari esok dalam pikirannya, tidak lagi mendendami masa lalu dalam hatinya. Dia hanya belajar hidup dengan baik, dalam setiap waktu yang dia miliki.

***

Lagi
Seorang dosen yang mengajar di kelasku pernah berkata, "hidupmu adalah apa yang ada dihadapanmu saat ini, selain daripada itu hanya imajinasi."
Aku sering menggunakan kalimat itu untuk mengatur pikiranku. Kamu tahu teman? kita manusia sering menjadi aneh, sibuk mengenang masa lalu dan menghawatirkan masa depan sementara kita lupa mengerjakan apa yang harus kita hadapi saat ini. Mungkin begitulah akhirnya, kita banyak membuang waktu untuk memikirkan hal yang belum tentu penting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar