Blue

Blue

Rabu, 04 Desember 2013

Lembaran Biru #Cuplikan




“Coba lihat ke atas sana…” bisikku perlahan.
Aku mengangkat kepala dan memandang hamparan biru di atas ku, luas tanpa batas. Aku tersenyum dan mengangkat tangan kanan ku yang perlahan menari diantara birunya langit, dan kutuliskan namaku “Rhena” .
sejenak aku tersenyum.
Senin, 30 September 2013, 16.00 WIB @Taman kampus
Aku duduk tepat dibawah pohon rindang. Masih sendiri, seperti biasanya. Aku sangat menikmati saat-saat aku bisa menyendiri seperti ini, untuk merasakan bagaimana angin menyentuh kulitku, melihat bagaimana daun-daun bergoyang, bahkan untuk sekedar menikmati daun-daun kering  yang berguguran diterpa angin. Dalam diam aku menangkap sosok yang berjalan 3 meter dari tempat dudukku. Lelaki itu. aku menundukkan kepalaku. Enggan untuk berbicara dengannya. Karena aku takut, takut terjebak dalam hatiku. Dia berlalu, dan sama sekali tidak menyapaku.
                “Lelaki itu…” .
Aku tidak pernah berfikir untuk memikirkan dia sebelumnya, yah sebelum dia menjebak aku dalam bola matanya. Sekarang? Sekarang aku benar-benar terjebak dalam pandangannya dan aku berusaha untuk berhenti memikirkan tentang dia.
***
Rabu, 04 Desember 2013
“Coba lihat ke atas sana...” bisikku.
Aku melihat langit itu...
birunya tertutup awan membentuk pola yang beragam berirama... layaknya sebuah seni... begitulah hidup... gak selamanya sebiru langit itu... tapi akan indah nantinya... walau sekarang benar2 belum ada arahnya namun akan bermuara juga nanti... walau telah membuatku bingung, benar2 bingung... aku masih ingin terus tersenyum... walau langit tidak biru hari ini... aku tersenyum, dan dengan sisa kekuatan ini kulukis mimpi di langit biru...

Lebih dari 2 bulan. Aku terjebak dalam bola matanya hingga aku benar-benar menghindari pandangannya. Aku tidak ingin terjebak lebih dalam lagi dihatiku. Aku menutup telingaku untuk semua tentang dia, aku menutup mataku dan tidak ingin melihatnya. Sampai pada hari ini, aku menemukan arahku. Dan aku ingin mengalir menuju muara lewat arah yang kutemukan ini. Benar aku takut untuk terjebak di hatiku, namun aku ingin berlabuh di dermaga yang tepat. Aku lelah jika harus terus berlayar dan terus mencari arah. Bagaimana dengan lelaki pemilik sepasang mata itu? harus kah aku terkurung dalam bola matanya? Dan dia dalam hatiku? Pertanyaan itu, telah kutemukan arahnya. Jalan ini akan kutelusuri dengan caraku, dengan topangan kaki lemahku, dan tangan-Nya yang kokoh kuyakini akan menuntunku.
Sendirian, ya seperti biasanya aku melangkah perlahan menuju kelasku, dan masih saja tanpa salah satu temanku.
“Coba lihat ke atas sana…” bisikku lagi..

Lembaran biru diatasku benar-benar dipermainkan oleh awan-awan itu, namun akhirnya telah ku menemukan arah itu... mungkin akan segera tiba dimuara... mengalir perlahan... terimakasih Tuhan... aku percaya semua indah pada waktu-Mu..
saat ini, inilah yang aku rasakan “orang yang mampu membuat kita tersenyum adalah orang yg juga memiliki potensi utk membuat kita menangis...” terimakasih telah membuatku merasakannya.

Terimasih sudah membaca tulisan saya. ini hanya gambaran dari cerita yang rencananya akan saya kembangkan menjadi sebuah cerita utuh. Kritik dan saran yang membangun sangat diterima :)

sumber gambar https://www.google.com/search?newwindow=1&biw=1024&bih=480&tbm=isch&sa=1&q=langit+mendung&oq=langit+mendung&gs_l=img.12...0.0.0.261050.0.0.0.0.0.0.0.0..0.0....0...1c..32.img..0.0.0.jzZJ_uNWdn8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar