Blue

Blue

Kamis, 31 Juli 2014

Untuknya



“Tasya kamu tidak perlu menari lagi”

“Tasya kamu tidak perlu menari lagi”

“Tasya kamu tidak perlu menari lagi”
Kalimat itu terus berputar di kepalaku. Sejak kecil aku tergabung dalam sebuah sanggar tari di kota tempat tinggalku, dan sekarang aku kuliah di jurusan seni tari dan tergabung dalam sebuah grup penari yang selalu mengadakan live show. Hanya saja kejadian dua hari lalu benar-benar tidak menguntungkan bagiku.

Peristiwa itu berputar lagi di kepalaku. Tepat saat kami mengadakan gladi bersih. Reihan kekasihku meraih tangan kananku. Menuntunku menari di atas panggung , kami menari dan menari di iringi alunan biola dan piano dan di temani cahaya lampu sorot. Selama dalam satu tim dan selama kami menjadi pasangan kekasih ini adalah pertama kalinya aku menari di atas panggung yang sama dengannya. Ini kesempatan duet kami yang pertama kalinya.

Kaki ku berada dalam posisi point, dan kedua tangan Reihan memutar pingganggku, 24 putaran sempurna, lalu Reihan menganggkat tubuhku, namun tiba-tiba keseimbangan kami hilang. Dan aku terjatuh dalam posisi point. Rasa sakit menusuk di kaki kananku. Aku menangis. Sementara Reyhan terjatuh dengan posisi kepala terbentur, dia tidak sadarkan diri.
***
“Tasya kamu tidak perlu menari lagi” kata-kata mama membawaku kembali dari lamunanku.

“ma.. gimana keadaan Reyhan?” tanyaku akhirnya.

“Kita semua tidak tahu sayang, Reyhan sudah di transfer kerumah sakit lain di Kanada oleh keluarganya.”

Apa? Reyhan pergi? Reyhan ke Kanada?
“Ma, aku harus menari lagi ma. Aku berjanji akan lebih hati-hati. Aku akan istirahat sampai kondisiku pulih Ma. Aku harus menari lagi.” Ucapku pirih.

Aku tidak ingin terlambat. Aku harus terus menari sampai tarian ini membawaku melihat Reyhan lagi. Aku harus menari dan bertemu Reyhan. Aku harus bertemu Reyhan dan memastikan keadaannya. Aku tidak ingin menangis di sini, aku harus berdiri, sebab aku harus menari lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar