“Tasya kamu tidak perlu menari lagi”
“Tasya kamu tidak perlu menari lagi”
“Tasya kamu tidak perlu menari lagi”
Kalimat itu terus berputar di
kepalaku. Sejak kecil aku tergabung dalam sebuah sanggar tari di kota tempat
tinggalku, dan sekarang aku kuliah di jurusan seni tari dan tergabung dalam
sebuah grup penari yang selalu mengadakan live show. Hanya saja kejadian dua
hari lalu benar-benar tidak menguntungkan bagiku.
Peristiwa itu berputar lagi di kepalaku.
Tepat saat kami mengadakan gladi bersih. Reihan kekasihku meraih tangan
kananku. Menuntunku menari di atas panggung , kami menari dan menari di iringi
alunan biola dan piano dan di temani cahaya lampu sorot. Selama dalam satu tim
dan selama kami menjadi pasangan kekasih ini adalah pertama kalinya aku menari
di atas panggung yang sama dengannya. Ini kesempatan duet kami yang pertama
kalinya.
Kaki ku berada dalam posisi
point, dan kedua tangan Reihan memutar pingganggku, 24 putaran sempurna, lalu
Reihan menganggkat tubuhku, namun tiba-tiba keseimbangan kami hilang. Dan aku
terjatuh dalam posisi point. Rasa sakit menusuk di kaki kananku. Aku menangis. Sementara
Reyhan terjatuh dengan posisi kepala terbentur, dia tidak sadarkan diri.
***
“Tasya kamu
tidak perlu menari lagi” kata-kata mama membawaku kembali dari lamunanku.
“ma.. gimana
keadaan Reyhan?” tanyaku akhirnya.
“Kita semua
tidak tahu sayang, Reyhan sudah di transfer kerumah sakit lain di Kanada oleh
keluarganya.”
Apa? Reyhan
pergi? Reyhan ke Kanada?
“Ma, aku harus
menari lagi ma. Aku berjanji akan lebih hati-hati. Aku akan istirahat sampai
kondisiku pulih Ma. Aku harus menari lagi.” Ucapku pirih.
Aku tidak
ingin terlambat. Aku harus terus menari sampai tarian ini membawaku melihat
Reyhan lagi. Aku harus menari dan bertemu Reyhan. Aku harus bertemu Reyhan dan
memastikan keadaannya. Aku tidak ingin menangis di sini, aku harus berdiri,
sebab aku harus menari lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar