Rara mendesah perlahan sambil tetap memandang layar notebooknya. memandangi wajah familiar yang terpampang menjadi background layar notebooknya. Foto lelaki yang selalu mengusik hatinya.
"Dasar gadis bodoh" umpatnya seketika. Lalu menghempaskan tubuh mungilnya ke atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar, dan perlahan-lahan memejamkan matanya. Tidak. Rara tidak tertidur. Dia belum tertidur. Sayup-sayup dia mendengar percakapan itu, semakin lama semakin jelas. Terdengar semakin dekat dan sangat dekat. Dia mendengarnya.
"Ahhh Hati.. tidak perduli seberapa banyak kau telah menangis karena cinta tetap saja kau harus mencintai. Tanpa menghitung seberapa lama kau terdiam dalam sepi, tetap saja masih kau cintai. Apakah memiliki perasaan cinta adalah salah satu hal terbodoh yang pernah kau alami?"
sekali lagi Kau menjawab "Cinta adalah hal terbaik yang dimiliki oleh hidup."
untuk kesekian kalinya aku tertegun, lalu mengumpat dalam pikiran. "haruskah aku mengakui kebenaran perkataanmu?"
"Suatu saat akan kau temui kebenarannya" katamu lagi.
"hati, tidakkah engkau lelah?"
"Logika, akukah yang lelah menanti dan mencari cinta? bukankah kau yang telah lelah?" Tanyamu lagi.
"Aku hanya tidak mengerti jalanmu" jawabku sedikit menyerah.
"hai Logika, terkadang kau bahkan tidak perlu mengerti jalan hatimu. sekali-sekali coba ikuti saja. meskipun tidak harus selamanya kau mengikuti. tidak bisakah sekali atau dua kali?"
"Sekali dua kali menuju kehancuranmu yang berarti kekacauan bagiku? Tidakkah kau ingat dua tahun lalu?"
"Hahahaha" tawamu meledak seketika.
"Untuk apa?" tanyaku, "Untuk apa kau tertawa hati?"
"Kau bahkan berkata bahwa kehancuranku adalah kekacauan bagimu. tidakkah kau sadari bahwa kau mencintaiku?"
"......"aku terdiam seketika.
"Logika, terkadang cinta hanyalah satu hal yang bahkan terlambat kau sadari. bahkan untuk kau sadari saja. Kau tidak perlu mengerti."
"Ahhh Hati.. tidak perduli seberapa banyak kau telah menangis karena cinta tetap saja kau harus mencintai. Tanpa menghitung seberapa lama kau terdiam dalam sepi, tetap saja masih kau cintai. Apakah memiliki perasaan cinta adalah salah satu hal terbodoh yang pernah kau alami?"
sekali lagi Kau menjawab "Cinta adalah hal terbaik yang dimiliki oleh hidup."
untuk kesekian kalinya aku tertegun, lalu mengumpat dalam pikiran. "haruskah aku mengakui kebenaran perkataanmu?"
"Suatu saat akan kau temui kebenarannya" katamu lagi.
"hati, tidakkah engkau lelah?"
"Logika, akukah yang lelah menanti dan mencari cinta? bukankah kau yang telah lelah?" Tanyamu lagi.
"Aku hanya tidak mengerti jalanmu" jawabku sedikit menyerah.
"hai Logika, terkadang kau bahkan tidak perlu mengerti jalan hatimu. sekali-sekali coba ikuti saja. meskipun tidak harus selamanya kau mengikuti. tidak bisakah sekali atau dua kali?"
"Sekali dua kali menuju kehancuranmu yang berarti kekacauan bagiku? Tidakkah kau ingat dua tahun lalu?"
"Hahahaha" tawamu meledak seketika.
"Untuk apa?" tanyaku, "Untuk apa kau tertawa hati?"
"Kau bahkan berkata bahwa kehancuranku adalah kekacauan bagimu. tidakkah kau sadari bahwa kau mencintaiku?"
"......"aku terdiam seketika.
"Logika, terkadang cinta hanyalah satu hal yang bahkan terlambat kau sadari. bahkan untuk kau sadari saja. Kau tidak perlu mengerti."
"Berhentilah berbicara. Tidakkah kau rasakan bahwa dia mendengar kita?"
"Dia hanya membutuhkan jawaban Logika."
"Dia hanya membutuhkan jawaban Logika."
"Bagaimana dia akan mendapatkannya jika kau tetap keras kepala?"
"Bukan aku, tapi kau dan aku."
"Hati, sedikit saja kurangi kecintaanmu terhadap cinta itu, mungkin dengan begitu dia bisa melupakan lelaki yang selalu membuatnya menunggu."
"Logika, tahukah kau bahwa dia memang sudah sepantasnya menunggu?"
"Berhentilah hati. Ku mohon. Aku lelah begini. Lelah untuk menggenggam apa yang tidak kumiliki" Ucap Rara seketika.
"Tidakkah kau mendengarnya?"tanya Logika kepada Hati.
"Bukankah kau yang mengatakan hal itu padanya?"
"Dia sendiri yang mengucapkannya." Bantah logika.
"Kau yang mengontrolnya"
"Jadi, apa yang akan terjadi jika terus begini?" Tanya Logika.
"Sudah kukatakan padamu, dia akan tetap menanti cinta. Tidak peduli seberapa banyak kau berbicara padanya dan berusaha mengontrolnya."
"Apakah hati lebih kuat daripada Pikiran? Apakah hati lebih kuat daripada Logika?" Tanyaku akhirnya.
"Cinta, mungkin cintalah yang lebih kuat. Bukan hati, dan bukan Logika" Jawab hati akhirnya.
"Itulah sebabnya dia masih akan tetap menunggu cinta, sampai dia merasa benar-benar cukup kuat bersama cinta itu, maka dia akan berhenti." Hati menyambung kalimatnya.
"Arrrgh... Benar-benar. Sekali dua kali mengalah padamu, dan terjebak dalam rasa adalah fakta sekali dua kali menuju kehancuranmu yang berarti kekacauan bagiku" Ucap Logika lemah.
"Kau bahkan tetap mengakui bahwa kehancuranku adalah kekacauan bagimu.kau benar-benar belum sadar bahwa kau juga memiliki cinta untukku, bahkan kau sangat terlambat menyadarinya" Ucap hati.
"Tidakkah kau mengingat kejadian dua tahun lalu?" Tanya Logika akhirnya.
"Apakah kau takut terulang lagi?"
"Jika terulang lagi, kau akan menangis dalam kehancuran dan aku menjadi kacau. Masihkah kau ingin kejadian itu terluang lagi?"
"Bukan aku, tapi kau dan aku."
"Hati, sedikit saja kurangi kecintaanmu terhadap cinta itu, mungkin dengan begitu dia bisa melupakan lelaki yang selalu membuatnya menunggu."
"Logika, tahukah kau bahwa dia memang sudah sepantasnya menunggu?"
"Berhentilah hati. Ku mohon. Aku lelah begini. Lelah untuk menggenggam apa yang tidak kumiliki" Ucap Rara seketika.
"Tidakkah kau mendengarnya?"tanya Logika kepada Hati.
"Bukankah kau yang mengatakan hal itu padanya?"
"Dia sendiri yang mengucapkannya." Bantah logika.
"Kau yang mengontrolnya"
"Jadi, apa yang akan terjadi jika terus begini?" Tanya Logika.
"Sudah kukatakan padamu, dia akan tetap menanti cinta. Tidak peduli seberapa banyak kau berbicara padanya dan berusaha mengontrolnya."
"Apakah hati lebih kuat daripada Pikiran? Apakah hati lebih kuat daripada Logika?" Tanyaku akhirnya.
"Cinta, mungkin cintalah yang lebih kuat. Bukan hati, dan bukan Logika" Jawab hati akhirnya.
"Itulah sebabnya dia masih akan tetap menunggu cinta, sampai dia merasa benar-benar cukup kuat bersama cinta itu, maka dia akan berhenti." Hati menyambung kalimatnya.
"Arrrgh... Benar-benar. Sekali dua kali mengalah padamu, dan terjebak dalam rasa adalah fakta sekali dua kali menuju kehancuranmu yang berarti kekacauan bagiku" Ucap Logika lemah.
"Kau bahkan tetap mengakui bahwa kehancuranku adalah kekacauan bagimu.kau benar-benar belum sadar bahwa kau juga memiliki cinta untukku, bahkan kau sangat terlambat menyadarinya" Ucap hati.
"Tidakkah kau mengingat kejadian dua tahun lalu?" Tanya Logika akhirnya.
"Apakah kau takut terulang lagi?"
"Jika terulang lagi, kau akan menangis dalam kehancuran dan aku menjadi kacau. Masihkah kau ingin kejadian itu terluang lagi?"
"Logika, terkadang cinta hanyalah satu hal yang bahkan terlambat kau
sadari. bahkan untuk kau sadari saja. Kau tidak perlu mengerti tentang
cinta. Tetaplah kuat. Hanya mencoba kuat tanpa kau mengerti, dengan
begitu kau tidak akan kacau disaat aku hancur."
***
Rara membuka matanya. lalu percakapan itu hilang dibawa angin. Namun membekas dalam ingatan. Dia duduk, kemudian memandang kembali kelayar notebooknya dan mengganti backgraund di layar notebook itu. bukan hanya itu, dia juga menghapus foto lelaki itu dari folder di notebooknya.
"Arrrgh kali ini kau bukan terlambat menyadari bahwa kau mencintainya. Kau hanya sedang membohongi dirimu dan perasaanmu. Tapi mungkin juga bukan seperti itu. Kau hanya belajar mencintai dengan segenap kekuatan yang kau miliki untuk memendam cintamu di dalam sana Ra." Ucapnya lirih.
"Arrrgh kali ini kau bukan terlambat menyadari bahwa kau mencintainya. Kau hanya sedang membohongi dirimu dan perasaanmu. Tapi mungkin juga bukan seperti itu. Kau hanya belajar mencintai dengan segenap kekuatan yang kau miliki untuk memendam cintamu di dalam sana Ra." Ucapnya lirih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar