di Blog ini semuanya masih cerita fiksi
kecuali tulisan "untuk hatiku"
ini adalah sebuah catatan hati
catatan hati tentang cinta
cinta yang sangat sederhana
cinta dari hatiku
cinta untuk hatiku
aku cinta....
Gaun hitam, kemeja hitam, dasi orange,
high heels bewarna senada dan make-up panggung, nada-nada yang indah masih
mengalun, memenuhi ruangan ini. Sebuah Gereja yang merupakan tempat konser satu
paduan suara. Aku ingin menangis. Ingin bediri disana. Di atas panggung dengan
mereka. Tapi aku malah duduk di sini, menjadi operator untuk slide yang
menampilkan siapa-siapa saja yang bernyanyi di depan sana.
Namun aku masih mencoba tersenyum. Senyuman yang
menyiratkan banyak makna. Senyum untukku sendiri. Untuk hatiku. Aaahh... andai
aku memiliki sedikit saja uang tambahan dari uang yang kumiliki akhir-akhir
ini, tentunya aku akan berdiri disana dengan mereka. Teman-teman satu tim di
sebuah paduan suara.
Beberapa bulan yang lalu, secara tiba-tiba aku tidak
pernah datang latihan. Aku benar-benar tidak memiliki uang untuk ongkos ke
tempat latihan. Andai aku ikut latihan maka aku harus meyediakan uang minimal
Rp 10.000,00 untuk biaya transportasi. Saat itu aku benar-benar sangat tertekan
untuk memutuskan haruskah aku latihan atau aku berhenti saja. Untuk meminta
uang bulanan tambahan kepada orang tuaku rasanya tidak mungkin. Dengan kondisi
kesehatanku yang mudah drop bila kelelahan mengakibatkan kedua orang tuaku
tidak mengijinkan aku untuk mengikuti organisasi selama aku masih kuliah.
Namun tanpa sepengetahuan mereka aku bergabung di
beberapa organisasi mahasiswa di Kampus. Salah satunya adalah paduan suara. Semuanya
tanpa izin dari kedua orang tuaku. Suatu kali aku mulai bercerita kepada Mama
dan Papa mengenai semua organisasi yang aku ikuti. Mereka benar-benar
melarangku untuk melanjutkan kegiatan di organisasi. Bukan karena apa-apa hanya
saja mereka tidak ingin aku sakit karena kelelahan. Namun aku yang sangat keras
kepala berkata kepada orang tuaku bahwa aku akan baik-baik saja. Dan aku juga
meminta mereka agar tidak perlu menambah uang belanja ku perbulan hanya karena
berpikiran aku sibuk berorganisasi. Biarlah hanya aku yang mengatasi dan
mengontrol keuanganku.
Akhirnya kedua orang tuaku tidak lagi melarangku
mengikuti organisasi mahasiswa. Meski sebenarnya tidak jarang aku jatuh sakit
karena kelelahan namun aku sangat jarang memberiahu kepada mereka tentang
kondisi kesehatanku. Bersama teman-teman sepelayananku aku bahagia. Sangat bahagia.
Walau sedang pusing, ngantuk, muntah-muntah juga pernah kemarin sehabis G-R
untuk Festival paduan suara Fakultas MIPA di kampusku. Tapi aku masih sanggup
untuk tertawa bahagia, dan bernyanyi bersama.
Selain paduan suara ini organisasi lain yang ku
ikuti adalah Youth-Gen-Ex salah satu organisasi pemuda/remaja di sebuah gereja,
dan aku juga tergabung sebagai penari tamborine di tempat ini.
Namun hal yang tak pernah kupikirkan sebelumnya
terjadi begitu saja. Tiba-tiba uang kirimanku berkurang bebeapa persen dari
biasanya. Aku kebingungan untuk mengatasi pengeluaranku untuk latihan
kesana-kemari. Walau bingung aku sama sekali tidak berkomentar kepada orang tua
ku. Aku masih sangat bersyukur sekalipun uang kiriman mendadak berkurang. Aku
mencoba untuk memahami. Bagaimana-pun aku dan adikku sudah memakan banyak biaya
hidup setiap bulannya. Aku benar-benar mengerti. Alih-alih memilih tidak
berkomentar kepada orang tuaku, aku-pun mulai jarang latihan dengan paduan
suara. Sering. Sangat sering sekali aku ingin datang kesana. Setiap jam-jam
latihan yang seperti biasa aku akan mulai memikirkan mereka. Aku sedih. Beruntungnya
aku masih memilki kesibukan dengan pelayananku di Tamborine, dan berhubung ini
moment-moment paskah di kampus ku tepatnya Fakultas FMIPA mengadakan
celebretion untuk hari paskah dan kebetulan aku seksi acara.
Aku mencoba menghibur diri sendiri setiap saat. Membuka
berulang kali foto-foto bersama anak paduan suara. Foto saat latihan,
reat-reat, festival. Lalu aku teringat satu hal, setiap aku pulang kerumah di
hari libur aku akan menunjukkan foto-foto paduan suara ini kepada adik
bungsuku. Dan aku selalu berkata “mereka adalah keluargaku di sana.”
Festival
Setelah festival dapat juara 1 Lhooo... :)
Kesibukanku dengan paskah FMIPA dan pemain tamborine
tidak pernah membuatku lupa kepada keinginan hatiku untuk bernyanyi dengan
mereka. Namun terkadang kita harus mengalah pada keadaan. Yah... mengalah,
bukan menyerah. Tepat tanggal 25 April 2014 aku mengalami kecelakaan saat
prepare untuk paskah FMIPA.
Setelah kecelakaan sedikitpun tidak terbersit dalam
pikiranku untuk berobat entah kemana. Aku hanya berfokus pada acara besok. Besok
perayaan paskah FMIPA dan aku melayani, selain sebagai seksi acara aku dan teman-temanku
juga menari dan memainkan tamborine di acara ini. bertepatan acaranya diadakan
pada hari sabtu. Jadi kecelakaan terjadi pada hari Jum’at. Saat itu tangan
kananku terasa mati rasa. Namun aku masih mengikuti G-R sampe pukul 23.00 WIB
dan Sabtunya aku menari sementara hari Minggunya juga aku melayani di Gereja. Yahhh...
aku menggunakan tangan kananku yang terasa dingin dan tidak merasakan apa-apa
untuk menggenggam tamborine.
Minggu malam aku benar-benar tidak dapat tertidur. Tangan
kanaku terasa nyeri. Namun aku bepikir. “aaah... ini hanya nyeri biasa, tidak
parah. Aku baik-baik saja.”
Di
hari Senin pagi aku benar-benar terkejut. Saat aku bangun pagi rasanya badanku
tidak dapat bangkit dari tempat tidur. Namun aku berusaha, dan akhinya aku
bangun dan bisa kuliah hari ini. Melihat kondisi kesehatanku teman-teman
menyarankanku untuk pulang. Namun aku menolak, aku tidak ingin terlihat parah
dan tidak ingin orang tuaku khawatir. Dan sudah 3 hari aku belum menceritakan
perihal kecelakaan kepada orang tuaku. Akhirnya setelah seminggu kondisiku
tidak membaik, namun aku masih menghadiri perkuliahan dan aku menyerah untuk
menyembunyikan kejadian kecelakaan dari orang tuaku. Aku-pun mengirim pesan
singkat kepada mama-ku perihal kecelakaan itu dengan catatan, aku tidak
apa-apa, mungkin hanya sedikit keseleo.
Dengan kondisi kesehatanku akhirnya aku memilih
untuk tidak menari sampai tanganku sembuh. Karena pada kenyataannya jangankan
menggenggam tamborine untuk menulis saja sangatlah susah. Akhirnya aku
berhenti. 100% berhenti dari organisasi pelayanan mahasiswa.
Aku yang cengeng. Berhari-hari aku menangis dan
menyendiri. Dan jika tidak ke kampus aku memilih berdiam diri di kamar. Berfikir
dan berfikir. Merenung dan merenung. Biasanya jika aku sedang sedih begini aku
akan memutar lagu-lagu rohani, menari kemudian berdoa dan membaca firman. Tapi
sayangnya kali ini aku malah akan menangis setiap mendengar lagu rohani. Aku sangat
ingin menari namun tidak bisa lagi. Badanku sangat sakit. Semuanya. Bahkan aku
mulai absen di kampus.
Aku tidak ingin berhenti latihan dengan paduan
suara, juga tidak ingin berhenti menari. Hanya saja keadaan benar-benar
memintaku untuk mengalah. Mengalahkah aku? Atau inikah yang disebut menyerah?
Untuk masalah sebagai penari tamborine akhirnya aku
berhenti. Dan itu semua bukan 100% karena kondisi kesehatanku, namun juga karena
ada beberapa hal yang membuatku harus memilih berhenti.
Dan akhirnya hingga hari ini
tanganku belum sembuh. Kecelakaan yang menurutku biasa saja tenyata lebih dari
itu. Kalau bukan karena semangat sebenanya aku sudah tidak memiliki kemampuan
untuk berdiri jika dilihat dari kondisi tubuhku pasca kecelakaan, itu komentar
mereka yang membantu pengobatanku. Sampai hari ini untuk menulis-pun rasanya
sangat susah. Tangan ini tidak akan kembali 100% seperti dulu, namun masih
lebih baik daipada lumpuh sama sekali. Aku benar-benar beruntung masih memiliki
tangan kananku ini.
Akhirnya di bulan paskah tahun 2014 Tuhan mengajari
banyak hal padaku yang berlanjut sampai pada hari ini. 14 Agustus 2014. Hari
ini konser ESC paduan suara yang selalu kusayangi. Seminggu lalu saat aku tahu
akan diadakan konser, aku menawarkan diri untuk ikut membantu di balik
panggung. Yah, apa lagi? Apa lagi yang bisa kulakukan? Hanya ini. hanya sebuah
kegiatan kecil yang dapat kuberikan, untuk mereka yang selalu kusebut sebagai keluarga
kepada adik kecilku.
Selain menawarkan diri untuk bantu-bantu, aku juga
mencoba menawarkan tiket kepada teman-temanku. Walau jawaban mereka selalu
sama, katanya “Lho.. kau kan nggak ikut nyanyi wy, siapalah yang kulihat nanti
di sana? Gak ada yang ku kenal dipanggung.”
Aku
hanya menjawab “Anggaplah mereka semua adalah aku.” Dan ternyata trik ini tidak selamanya
berhasil. Namun masih ada juga sahabat yang bebaik hati mau membeli tiket
daiku. Makasih yah buat yang udah beli tiket lewat aku. Bahagia rasanya bisa
melakukan sesuatu.
Akhirnya malam ini konser ESC benar-benar luar
biasa. Selama ini aku belum pernah mendjadi pendengar untuk penampilan live
ESC, karena biasanya ikut bernyanyi besama. Namun malam ini aku duduk manis di balik
monitor dan mendengar mereka bernyanyi, rasanya campus aduk. Disatu sisi aku
sedih tidak dapat bernyanyi dengan mereka. Di sisi lain aku bahagia. Sangat bahagia
menyadari betapa indah talenta yang dimilik keluargaku ini dan dipakai untuk
memuliakan Tuhan. Aku benar-benar merasa bercampur aduk.
Aku benar-benar bahagia bisa berada di sini malam
ini. walaupun hanya melakukan hal kecil namun aku sangat bahagia bisa melakukan
ini. Ya Tuhan bagaimana mungkin ada rasa sedih disaat yang bersamaan dengan
perasaan bahagia. Ini bukan ilusiku. Ini nyata. Aku merasakannya. Aku mencoba
tersenyum lagi. Tersenyum untuk hatiku.
Setelah acara selesai, akhirnya sesi foto-foto. Aku ikutan
dong. namun belum sampai 15 menit aku permisi pulang. Dan salah satu anggota
paduan suara berkata “Kak Tiwy, Makasih banyak ya.”
Aku
memandangnya “Jangan ucapkan kata terimakasih untuk kakak dek.”
Yah,
jangan ucapkan kata terimakasih untukku. Karena cinta tidak butuh ungkapan
terimakasih bukan? Cinta yang kumiliki untuk ESC tidak butuh ucapan
terimakasih. Walau aku tidak ikut bernyanyi dengan kalian malam ini, bukan
berarti aku tidak mencintai kalian.
Ada
hati yang tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Hati milik orang-orang
yang mencintai kita.
Semua
kejadian ini membuatku menemukan setitik kekuatan untuk hatiku. Terimakasih
Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar