Blue

Blue

Kamis, 14 Agustus 2014

Untuk Hatiku




 di Blog ini semuanya masih cerita fiksi

kecuali tulisan "untuk hatiku"

ini adalah sebuah catatan hati

catatan hati tentang cinta

cinta yang sangat sederhana

cinta dari hatiku

cinta untuk hatiku

aku cinta....

            Gaun hitam, kemeja hitam, dasi orange, high heels bewarna senada dan make-up panggung, nada-nada yang indah masih mengalun, memenuhi ruangan ini. Sebuah Gereja yang merupakan tempat konser satu paduan suara. Aku ingin menangis. Ingin bediri disana. Di atas panggung dengan mereka. Tapi aku malah duduk di sini, menjadi operator untuk slide yang menampilkan siapa-siapa saja yang bernyanyi di depan sana.
           
Namun aku masih mencoba tersenyum. Senyuman yang menyiratkan banyak makna. Senyum untukku sendiri. Untuk hatiku. Aaahh... andai aku memiliki sedikit saja uang tambahan dari uang yang kumiliki akhir-akhir ini, tentunya aku akan berdiri disana dengan mereka. Teman-teman satu tim di sebuah paduan suara.
           
Beberapa bulan yang lalu, secara tiba-tiba aku tidak pernah datang latihan. Aku benar-benar tidak memiliki uang untuk ongkos ke tempat latihan. Andai aku ikut latihan maka aku harus meyediakan uang minimal Rp 10.000,00 untuk biaya transportasi. Saat itu aku benar-benar sangat tertekan untuk memutuskan haruskah aku latihan atau aku berhenti saja. Untuk meminta uang bulanan tambahan kepada orang tuaku rasanya tidak mungkin. Dengan kondisi kesehatanku yang mudah drop bila kelelahan mengakibatkan kedua orang tuaku tidak mengijinkan aku untuk mengikuti organisasi selama aku masih kuliah.
           
Namun tanpa sepengetahuan mereka aku bergabung di beberapa organisasi mahasiswa di Kampus. Salah satunya adalah paduan suara. Semuanya tanpa izin dari kedua orang tuaku. Suatu kali aku mulai bercerita kepada Mama dan Papa mengenai semua organisasi yang aku ikuti. Mereka benar-benar melarangku untuk melanjutkan kegiatan di organisasi. Bukan karena apa-apa hanya saja mereka tidak ingin aku sakit karena kelelahan. Namun aku yang sangat keras kepala berkata kepada orang tuaku bahwa aku akan baik-baik saja. Dan aku juga meminta mereka agar tidak perlu menambah uang belanja ku perbulan hanya karena berpikiran aku sibuk berorganisasi. Biarlah hanya aku yang mengatasi dan mengontrol keuanganku.
           
Akhirnya kedua orang tuaku tidak lagi melarangku mengikuti organisasi mahasiswa. Meski sebenarnya tidak jarang aku jatuh sakit karena kelelahan namun aku sangat jarang memberiahu kepada mereka tentang kondisi kesehatanku. Bersama teman-teman sepelayananku aku bahagia. Sangat bahagia. Walau sedang pusing, ngantuk, muntah-muntah juga pernah kemarin sehabis G-R untuk Festival paduan suara Fakultas MIPA di kampusku. Tapi aku masih sanggup untuk tertawa bahagia, dan bernyanyi bersama.
           
Selain paduan suara ini organisasi lain yang ku ikuti adalah Youth-Gen-Ex salah satu organisasi pemuda/remaja di sebuah gereja, dan aku juga tergabung sebagai penari tamborine di tempat ini.
           
Namun hal yang tak pernah kupikirkan sebelumnya terjadi begitu saja. Tiba-tiba uang kirimanku berkurang bebeapa persen dari biasanya. Aku kebingungan untuk mengatasi pengeluaranku untuk latihan kesana-kemari. Walau bingung aku sama sekali tidak berkomentar kepada orang tua ku. Aku masih sangat bersyukur sekalipun uang kiriman mendadak berkurang. Aku mencoba untuk memahami. Bagaimana-pun aku dan adikku sudah memakan banyak biaya hidup setiap bulannya. Aku benar-benar mengerti. Alih-alih memilih tidak berkomentar kepada orang tuaku, aku-pun mulai jarang latihan dengan paduan suara. Sering. Sangat sering sekali aku ingin datang kesana. Setiap jam-jam latihan yang seperti biasa aku akan mulai memikirkan mereka. Aku sedih. Beruntungnya aku masih memilki kesibukan dengan pelayananku di Tamborine, dan berhubung ini moment-moment paskah di kampus ku tepatnya Fakultas FMIPA mengadakan celebretion untuk hari paskah dan kebetulan aku seksi acara.
           
Aku mencoba menghibur diri sendiri setiap saat. Membuka berulang kali foto-foto bersama anak paduan suara. Foto saat latihan, reat-reat, festival. Lalu aku teringat satu hal, setiap aku pulang kerumah di hari libur aku akan menunjukkan foto-foto paduan suara ini kepada adik bungsuku. Dan aku selalu berkata “mereka adalah keluargaku di sana.”
            
 
Festival



Setelah festival dapat juara 1 Lhooo... :)

Kesibukanku dengan paskah FMIPA dan pemain tamborine tidak pernah membuatku lupa kepada keinginan hatiku untuk bernyanyi dengan mereka. Namun terkadang kita harus mengalah pada keadaan. Yah... mengalah, bukan menyerah. Tepat tanggal 25 April 2014 aku mengalami kecelakaan saat prepare untuk paskah FMIPA.
           
Setelah kecelakaan sedikitpun tidak terbersit dalam pikiranku untuk berobat entah kemana. Aku hanya berfokus pada acara besok. Besok perayaan paskah FMIPA dan aku melayani, selain sebagai seksi acara aku dan teman-temanku juga menari dan memainkan tamborine di acara ini. bertepatan acaranya diadakan pada hari sabtu. Jadi kecelakaan terjadi pada hari Jum’at. Saat itu tangan kananku terasa mati rasa. Namun aku masih mengikuti G-R sampe pukul 23.00 WIB dan Sabtunya aku menari sementara hari Minggunya juga aku melayani di Gereja. Yahhh... aku menggunakan tangan kananku yang terasa dingin dan tidak merasakan apa-apa untuk menggenggam tamborine.
           
Minggu malam aku benar-benar tidak dapat tertidur. Tangan kanaku terasa nyeri. Namun aku bepikir. “aaah... ini hanya nyeri biasa, tidak parah. Aku baik-baik saja.”
Di hari Senin pagi aku benar-benar terkejut. Saat aku bangun pagi rasanya badanku tidak dapat bangkit dari tempat tidur. Namun aku berusaha, dan akhinya aku bangun dan bisa kuliah hari ini. Melihat kondisi kesehatanku teman-teman menyarankanku untuk pulang. Namun aku menolak, aku tidak ingin terlihat parah dan tidak ingin orang tuaku khawatir. Dan sudah 3 hari aku belum menceritakan perihal kecelakaan kepada orang tuaku. Akhirnya setelah seminggu kondisiku tidak membaik, namun aku masih menghadiri perkuliahan dan aku menyerah untuk menyembunyikan kejadian kecelakaan dari orang tuaku. Aku-pun mengirim pesan singkat kepada mama-ku perihal kecelakaan itu dengan catatan, aku tidak apa-apa, mungkin hanya sedikit keseleo.
           
Dengan kondisi kesehatanku akhirnya aku memilih untuk tidak menari sampai tanganku sembuh. Karena pada kenyataannya jangankan menggenggam tamborine untuk menulis saja sangatlah susah. Akhirnya aku berhenti. 100% berhenti dari organisasi pelayanan mahasiswa.
           
Aku yang cengeng. Berhari-hari aku menangis dan menyendiri. Dan jika tidak ke kampus aku memilih berdiam diri di kamar. Berfikir dan berfikir. Merenung dan merenung. Biasanya jika aku sedang sedih begini aku akan memutar lagu-lagu rohani, menari kemudian berdoa dan membaca firman. Tapi sayangnya kali ini aku malah akan menangis setiap mendengar lagu rohani. Aku sangat ingin menari namun tidak bisa lagi. Badanku sangat sakit. Semuanya. Bahkan aku mulai absen di kampus.
           
Aku tidak ingin berhenti latihan dengan paduan suara, juga tidak ingin berhenti menari. Hanya saja keadaan benar-benar memintaku untuk mengalah. Mengalahkah aku? Atau inikah yang disebut menyerah?
           
Untuk masalah sebagai penari tamborine akhirnya aku berhenti. Dan itu semua bukan 100% karena kondisi kesehatanku, namun juga karena ada beberapa hal yang membuatku harus memilih berhenti.
           
           
            Dan akhirnya hingga hari ini tanganku belum sembuh. Kecelakaan yang menurutku biasa saja tenyata lebih dari itu. Kalau bukan karena semangat sebenanya aku sudah tidak memiliki kemampuan untuk berdiri jika dilihat dari kondisi tubuhku pasca kecelakaan, itu komentar mereka yang membantu pengobatanku. Sampai hari ini untuk menulis-pun rasanya sangat susah. Tangan ini tidak akan kembali 100% seperti dulu, namun masih lebih baik daipada lumpuh sama sekali. Aku benar-benar beruntung masih memiliki tangan kananku ini.

Akhirnya di bulan paskah tahun 2014 Tuhan mengajari banyak hal padaku yang berlanjut sampai pada hari ini. 14 Agustus 2014. Hari ini konser ESC paduan suara yang selalu kusayangi. Seminggu lalu saat aku tahu akan diadakan konser, aku menawarkan diri untuk ikut membantu di balik panggung. Yah, apa lagi? Apa lagi yang bisa kulakukan? Hanya ini. hanya sebuah kegiatan kecil yang dapat kuberikan, untuk mereka yang selalu kusebut sebagai keluarga kepada adik kecilku.
           
Selain menawarkan diri untuk bantu-bantu, aku juga mencoba menawarkan tiket kepada teman-temanku. Walau jawaban mereka selalu sama, katanya “Lho.. kau kan nggak ikut nyanyi wy, siapalah yang kulihat nanti di sana? Gak ada yang ku kenal dipanggung.”
Aku hanya menjawab “Anggaplah mereka semua adalah aku.”  Dan ternyata trik ini tidak selamanya berhasil. Namun masih ada juga sahabat yang bebaik hati mau membeli tiket daiku. Makasih yah buat yang udah beli tiket lewat aku. Bahagia rasanya bisa melakukan sesuatu.
           
Akhirnya malam ini konser ESC benar-benar luar biasa. Selama ini aku belum pernah mendjadi pendengar untuk penampilan live ESC, karena biasanya ikut bernyanyi besama. Namun malam ini aku duduk manis di balik monitor dan mendengar mereka bernyanyi, rasanya campus aduk. Disatu sisi aku sedih tidak dapat bernyanyi dengan mereka. Di sisi lain aku bahagia. Sangat bahagia menyadari betapa indah talenta yang dimilik keluargaku ini dan dipakai untuk memuliakan Tuhan. Aku benar-benar merasa bercampur aduk.
           
Aku benar-benar bahagia bisa berada di sini malam ini. walaupun hanya melakukan hal kecil namun aku sangat bahagia bisa melakukan ini. Ya Tuhan bagaimana mungkin ada rasa sedih disaat yang bersamaan dengan perasaan bahagia. Ini bukan ilusiku. Ini nyata. Aku merasakannya. Aku mencoba tersenyum lagi. Tersenyum untuk hatiku.
           
Setelah acara selesai, akhirnya sesi foto-foto. Aku ikutan dong. namun belum sampai 15 menit aku permisi pulang. Dan salah satu anggota paduan suara berkata “Kak Tiwy, Makasih banyak ya.”
Aku memandangnya “Jangan ucapkan kata terimakasih untuk kakak dek.”

Yah, jangan ucapkan kata terimakasih untukku. Karena cinta tidak butuh ungkapan terimakasih bukan? Cinta yang kumiliki untuk ESC tidak butuh ucapan terimakasih. Walau aku tidak ikut bernyanyi dengan kalian malam ini, bukan berarti aku tidak mencintai kalian.

Ada hati yang tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Hati milik orang-orang yang mencintai kita.

Semua kejadian ini membuatku menemukan setitik kekuatan untuk hatiku. Terimakasih Tuhan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar