Blue

Blue

Kamis, 31 Juli 2014

Rasa



Rasa
Ribka berlari menusuri setapak jalan di taman kampus, tanpa menoleh kebelakang lagi. Hatinya remuk. Hatinya hancur. Lebih-lebih lagi hatinya sangat malu. Bagaimana mungkin lelaki itu bisa membaca buku hariannya?  Ribka terus berlari kini benar-benar tidak menghiraukan sesak dalam dadanya bahkan membiarkan setiap tetes air mata mengalir membasahi pipinya.
***
                Rangga terpaku membisu menyaksikan pemandangan di hadapannya.  Gadis berponi selamat datang dengan lesung pipi yang selalu saja menghias senyumnya. Gadis dengan mata berbinar dalam setiap tawanya. Gadis yang baru saja berdiri di sisinya, tiba-tiba berlalu begitu saja. Pergi dalam buaian air mata. Rangga di bakar amarah. Dia terdiam memandang sekali lagi pemandangan dihadapannya. Gadis itu masih juga berlari. Rangga di bakar amarah. Rangga berlari mengejar bayangan gadis itu.
“Ternyata Aku jatuh cinta kepadanya. Kepada Rangga.”  
Rangga membaca tulisan yang tertera di atas buku harian itu sekali lagi.
                Rangga berhasil meraihnya. Meraih tangan gadis itu kembali.
“Gadis bodoh!” ucapnya kemudian.
Ribka hanya terdiam dan menunduk malu.
“Untuk apa semua tulisan dalam buku harian itu?”
Ribka tetap membisu.
“Untuk apa kamu menuliskan perasaanmu di atas kertas-kertas itu Ribka?”
Ribka semakin menunduk, dia benar-benar malu.
“Kamu berniat mempermainakan aku ya?”
“...” hening dalam buayan angin.
“Ribka, apa maksud ucapan kamu tadi?”
“Maaf”
“Maaf, iya Ribka, Maafkan aku yang lancang membaca buku harianmu.”
“Aku hanya merasa sangat malu”
“Ribka, kamu tidak harus malu karena memiliki perasaan.”
“Maafin aku Rangga”
“Hari ini kamu harus tahu, Aku sayang,dan selalu menyayangi kamu. Jangan pergi berlari lagi, terimakasih karena menuliskan perasaanmu di dalam buku ini.” Ucapnya.
Ribka masih tertunduk malu, namun kini dia mulai tersenyum lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar