Rasa
Ribka berlari
menusuri setapak jalan di taman kampus, tanpa menoleh kebelakang lagi. Hatinya remuk.
Hatinya hancur. Lebih-lebih lagi hatinya sangat malu. Bagaimana mungkin lelaki
itu bisa membaca buku hariannya? Ribka terus
berlari kini benar-benar tidak menghiraukan sesak dalam dadanya bahkan
membiarkan setiap tetes air mata mengalir membasahi pipinya.
***
Rangga
terpaku membisu menyaksikan pemandangan di hadapannya. Gadis berponi selamat datang dengan lesung
pipi yang selalu saja menghias senyumnya. Gadis dengan mata berbinar dalam
setiap tawanya. Gadis yang baru saja berdiri di sisinya, tiba-tiba berlalu
begitu saja. Pergi dalam buaian air mata. Rangga di bakar amarah. Dia terdiam
memandang sekali lagi pemandangan dihadapannya. Gadis itu masih juga berlari. Rangga
di bakar amarah. Rangga berlari mengejar bayangan gadis itu.
“Ternyata Aku jatuh cinta kepadanya. Kepada Rangga.”
Rangga membaca tulisan yang
tertera di atas buku harian itu sekali lagi.
Rangga
berhasil meraihnya. Meraih tangan gadis itu kembali.
“Gadis bodoh!” ucapnya kemudian.
Ribka hanya terdiam dan menunduk
malu.
“Untuk apa semua tulisan dalam
buku harian itu?”
Ribka tetap membisu.
“Untuk apa kamu menuliskan
perasaanmu di atas kertas-kertas itu Ribka?”
Ribka semakin menunduk, dia benar-benar
malu.
“Kamu berniat mempermainakan aku
ya?”
“...” hening dalam buayan angin.
“Ribka, apa maksud ucapan kamu
tadi?”
“Maaf”
“Maaf, iya Ribka, Maafkan aku
yang lancang membaca buku harianmu.”
“Aku hanya merasa sangat malu”
“Ribka, kamu tidak harus malu
karena memiliki perasaan.”
“Maafin aku Rangga”
“Hari ini kamu harus tahu, Aku
sayang,dan selalu menyayangi kamu. Jangan pergi berlari lagi, terimakasih
karena menuliskan perasaanmu di dalam buku ini.” Ucapnya.
Ribka masih tertunduk malu, namun
kini dia mulai tersenyum lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar