Blue

Blue

Kamis, 10 Juli 2014

Abu-Abu

Tulisan ini tadinya di buat karena mau ikut lomba menulis maraton. tapi sayang telat beberapa menit dari waktu yang ditentukan. jadinya aku posting disini az deh.
tema cerita "Cinta dan Benci" selamat membaca yah..




“Rara... selamat ulang tahun” Grace menjabat tanganku.
“....” aku hanya terdiam membisu.

“Ra... ? kok gak enak gitu ekspresinya? Gak senang ya dapat ucapan selamat ulang tahun dariku?” dia bertanya penuh penyesalan.

Aku masih membisu menatap gadis yang berdiri dihadapanku. Lalu aku tersenyum kepada gadis berjilbab biru itu seraya berujar, “Terimakasih Grace”.

Aku mengalihkan pandanganku, meneliti setiap sudut taman kampus. Mencari-cari sosok yang sebenarnya tidak ada dalam pikiranku. Rasanya kosong. Sepi.  Bahkan di tempat ini, yang sesungguhnya dipenuhi oleh mahasiswa yang baru selesai ujian bersama Mata Kuliah Umum aku merasa sepi. Apa yang sedang kurasakan? Mungkinkah?

***

Antoni berdiri terpaku memikirkan pemandangan  yang disaksikannya tepat saat berjalan melewati taman kampus beberapa menit berlalu.

“Aku ingat Ra. Hari ini,,, selamat ulang tahun.” ucapnya lebih kepada diri sendiri.

Disalah satu sisi kampus tepatnya di sisi yang berada di balik punggung Rara dia berdiri. Memandangi gadis itu.

“Andai aku tidak pernah meninggalkanmu dulu. Andai aku tidak bersikap egois, mungkin sekarang aku akan menemanimu melewati hari ini, hari paling bahagia dalam hidupmu. Tapi aku harus.... aku harus meninggalkanmu Ra.” Sekali lagi Antoni hanya sekedar berbicara kepada dirinya sendiri.

Perlahan namun pasti Antoni bergerak melangkah semakin dan semakin dekat. Akhirnya dia dapati dirinya tepat berdiri di balik punggung gadis itu. Tanpa sadar kata-kata itu terucap begitu saja.
“Selamat ulang tahun Rara.”

“Plakk...!” tiba-tiba tamparan itu mendarat begitu saja di pipinya. Sepasang mataku masih memandangnya dengan sorotan tajam. Lalu perlahan aku merasa tetesan bening itu jatuh mengalir di sana.

 “Aku membencimu. Aku benci sangat benci.”
Lalu aku berlari dalam isakan. Berlari meninggalkannya.

“Maafkan aku Antoni, tapi aku tidak bisa memaafkanmu. Sakitnya masih terasa di sini di dalam hatiku. Ku mohon jangan pernah datang lagi kedalam hidupku. Karena aku tidak sanggup kehilanganmu lagi.” Aku terisak. Dadaku terasa sakit, aku sudah tidak ingin dia tahu betapa aku mencintainya, dia sudah terlanjur menyakiti perasaanku, sampai kapanpun sakitnya masih sama. Setiap kali saat aku mengingat bagaimana dia mencampakkanku aku benci. Aku benci jika harus terus mengingat betapa aku mencintainya. Dia jahat. Dia menyia-nyiakan aku.

***
Sementara di sisi lain, lelaki itu tersenyum. “Antoni, kamu berhasil. Kamu berhasil membuatnya membenci dirimu.” Ucapnya dalam hati.  Namun seketika wajahnya berubah murung. “Dengan begini kamu tidak perlu menangis untuk kondisi yang sekarat. Hanya dengan cara ini kamu tidak akan menangisi kepergianku nanti Rara. Selamat tinggal.” Ucapnya. Lalu melangkah pergi meninggalkan taman itu, ditemani oleh tetsan air mata yang membasahi pipinya.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar