Memecah rindu di ujung ragu
Berharap sosok tempat mengadu
Memang hening dalam suara namum tidak dalam kata.
Kau tahu?
Bahkan amukan badai ditengah laut tidaklah lebih besar dari senandung rindu.
Bukan alay, tapi kenyataan.
Tanyakan saja pada mereka yang merindu, pasti mereka tahu.
Bahwa rindu bisa begitu merdu, juga begitu tabu.
Bahkan nyanyiannya bisa memecah telingamu.
Mengapa kau tersenyum begitu?
Apakah kau dustai hatimu?
Berkata di sana tidak ada rindu.
Ahhh... yang benar saja tidak ada rindu.
Lalu, apa yang kau tata itu?
Ketika fajar meninggalkan gelap. dan malam melepas senja,
kau masih saja sibuk.
Ada rindu bertahta di hatimu, maka kau terus begitu.
Setidaknya kau merindukan besok.
bahwa besok akan menepis hari berganti.
hari menjadi lebih baik lagi.
walau dihari itu belum tentu ada aku.
Tapi tetap saja kau rindukan hari itu.
Jika memang tidak ada rindu,
maka untuk apa semua lelahmu?
Masihkah kau ingkari kata-kataku?
Mengakulah saja pada hatimu,
bahwa engkau adalah manusia yang sangat merindu akan masa depanmu..
Kuberitahu kenyataan ini padamu, karena aku-pun begitu rindu..
Merindu akan masa depanku..
Mimpi-mimpi yang selalu kukisahkan kepada Sang Penciptaku sepanjang waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar