Blue

Blue

Senin, 09 Maret 2015

Ingin Jatuh ke Langit

"Aku ingan jatuh kelangit" isakku perlahan sambil memandang tanah merah dihadapanku, tanah merah yang kini menjadi tempat beristirahat orang-orang yang kusayangi.  Mama ku akhirnya menyusul Papa, mereka meninggalkanku sendiri, sebatangkara kini.
Ya, aku ingin jatuh kelangit tempat dimana mungkin aku akan menemukan seorang Ayah dan Ibu.

"Yang kuat ya Clara" sebuah tangan meremas pundakku. Tangan yang sangat kukenal. Tangan miliknya yang telah berhasil menyakiti hatiku. Aku tak bergeming. Untuk apa? Untuk apa dia menghiburku? setelah berhasil mencampakkanku begitu saja? Aku tidak butuh belas kasihan darinya.
"Kamu pasti bisa melalui semua ini" ujar perempuan itu. Suaranya berhasil membuatku bergeming, dan menoleh kepadanya. "ARRRGH, Gadis ini" erangku dalam hati.

Dia tersenyum "Semangat Clara". 

Lagi dan lagi. Dia tahu betapa aku terluka. Dia mengerti aku sakit atas hubunganya dengan lelaki itu, tapi kenapa dia bersikap begitu? mendorongku agar semangat lagi. Tuluskah ucapanya? palsukah senyuman itu?

Perlahan gerimis turun, membasahi area pekuburan, dan berhasil memboyongku bangkit berdiri dan turut pulang. 

"Ahhh, langit kau selalu saja mengerti kesedihanku" batinku.

***

Happy birthday to you...

Happy birthday to you...

Happy birthday... Happy birthday...

Happy birthday Clara...

10 Maret 2015, pukul 00.05 mereka menyerbu kamarku dan berhasil membuatku terbangun. Teman-teman satu kostku. Aku tersenyum mengingat usiaku sudah 21 tahun dan hidup ku tanpa orang tua. Ingin rasanya seperti mereka, mendapatan pelukan dan kecupan manis dari orangtuanya dihari kelahiran.

Aku memandang temanku satu persatu, Silvi yang centil dengan rambut kepang duanya, Dhea si gembul, dan Kayla si feminim yang pendiam. Aku menghabur kedalam pelukan mereka, tanpa peduli pada lilin yang bercokol diatas kue tart.

"Yaa ampun Cla, tiup lilinya dulu dong" omel Silvi.

"Oke, oke..." ucapku datar.

"Wait, make a wish dulu" teriak Silvi sekali lagi.

"Arrrgh, ribet banget lu Sil" ucapku.

"Cla, make a wish dulu ya" ucap Dhea  menimpali.

"Tuhan, aku ingin jatuh kelangit" Ucapku kemuadian meniup lilin sambil tersenyum licik.

"Cla???" ucap Kayla sambil melongo bego.

"Loh? La... muka lo asli bego banget" ucapku sambil tertawa lepas.

Akhirnya tradisi suap-suapan kue tart pun usai, dan mereka kembali ke kamar masing-masing. Aku berjalan kearah jendela, lalu memandang Langit.

3 tahun sudah mama tiada, bahkan Papa, aku tidak sempat mengenalnya. Clara terseret kembali dalam kenangan itu.

"Ma, apa papa nggak sayang sama Clara?"

"Papa sayang, sangat sayang sama Clara, dan Papa sayang mama nak."

"Lalu, kenapa Papa pergi meninggalkan kita Ma?"

"Karena Papa sangat mencintai Clara."

Aku tidak pernah mengerti bagaimana cinta Ayahku kepadaku, tidak karena aku belum sempat mengenalnya. Terlalu dini dia pergi meninggalkanku. aku tidak mengerti perasaanya. Tidak, sampai akhirnya Mamaku menderita penyakit itu 4 tahun lalu. Penyakit yang akhirnya memisahkanku dengannya.

"Dok, mama saya kenapa?" 

"Ibu anda menderita leukimia, saya sudah pernah mengingatkannya sebelumnya."

"Mengingatkan sebelumnya? maksud anda apa Dok?"

"Sekarang usia kamu berapa Clara?"

"17 Tahun Dok."

"Ternyata sudah 17 tahun, artinya sudah 15 tahun berlalu."

"Maksud anda apa Dok?"

"15 tahun yang lalu, saya merawat seorang anak perempuan yang menderita penyakit yang sama dengan Ibu kamu."

"Maksud dokter Leukimia? apa yang terjadi pada anak itu Dok? kemudian apa hubunganya dengan Mama saya dok?

"Anak itu baik-baik saja sekarang. Karena dia mendapatkan donor sum-sum tulang belakang dari ayahnya, maka dia dapat diselamatkan."

"Jika begitu lakukan hal yang sama dengan mama saya Dok, tolong berikan sum-sum tulang belakang saya untuk mama Dok." aku mulai terisak.

"Clara, gadis kecil yang saya ceritakan itu kamu nak, ayahmu pergi setelah mendonorkan sum-sum tulang belakang yang dimilikinya kepadamu."

Seketika hening. hening. aku tidak mendengar apapun. aku mengerti kini. aku sangat mengerti. Mengerti cinta Papa dan mamaku.

Lalu aku berlari keruang perawwatan mamaku, pergi tanpa menghiraukan dokter itu. 

"Ma...."

"Iya sayang."

"Aku sangat bahagia karena memiliki Mama dan Papa yang sangat mencintaiku." ucapku sambil memeluknya dan menahan tangisku.

"Apakah kamu sangat bahagia?"

"Iya ma, sangat bahagia hingga aku ingin jatuh kelangit."

"Kenapa harus kelangit sayang?"

"Karena langit selalu terlihat sama ma. walaupun sebenarnya tidak selalu sama hanya saja setiap hari langit itu hanya berteman awan, bintang, nbulan dan matahari. Merekia selalu bersama, pasti langit tidak pernah kesepian kan ma?"

"Apa kamu merasa kesepian?"

"Tidak, karena selalu ada mama di sini dan Papa disini" ucapku seraya menunjuk kedalam kepala dan dadaku.

Lalu mama tersenyum.

"Mama dan papa selalu dalam ingatan dan hatiku selamanya."

mama memelukku, lebih erat lagi.


Namun akhirnya aku kehilangannya. Kehilangan mamaku setelah satu tahun kemudian. Hanya saja aku mulai belajar itu hanya masalah waktu. Tidak perduli kapan waktunya, suatu saat kami memang harus berpisah, tanpa peduli siapa yang lebih dahulu.

***

Aku masih memandang langit malam yang berselimut mendung. Gelap dan hitam tanpa bintang. Terlihat kosong. Hanya saja, siapa bilang langit kosong, siapa bilang langit kesepian? begitulah hatiku. aku memang terlihat sendirian. namun dihatiku aku mencintai mereka, Mama Papa dan sahabat-sahabatku. Itulah kenapa aku selalu ingin jatuh kelangit. karena aku sangat bahagia.


2 komentar:

} } } return entry.content.$t; } var parse = function(data) { cursor = null; var comments = []; if (data && data.feed && data.feed.entry) { for (var i = 0, entry; entry = data.feed.entry[i]; i++) { var comment = {}; // comment ID, parsed out of the original id format var id = /blog-(\d+).post-(\d+)/.exec(entry.id.$t); comment.id = id ? id[2] : null; comment.body = bodyFromEntry(entry); comment.timestamp = Date.parse(entry.published.$t) + ''; if (entry.author && entry.author.constructor === Array) { var auth = entry.author[0]; if (auth) { comment.author = { name: (auth.name ? auth.name.$t : undefined), profileUrl: (auth.uri ? auth.uri.$t : undefined), avatarUrl: (auth.gd$image ? auth.gd$image.src : undefined) }; } } if (entry.link) { if (entry.link[2]) { comment.link = comment.permalink = entry.link[2].href; } if (entry.link[3]) { var pid = /.*comments\/default\/(\d+)\?.*/.exec(entry.link[3].href); if (pid && pid[1]) { comment.parentId = pid[1]; } } } comment.deleteclass = 'item-control blog-admin'; if (entry.gd$extendedProperty) { for (var k in entry.gd$extendedProperty) { if (entry.gd$extendedProperty[k].name == 'blogger.itemClass') { comment.deleteclass += ' ' + entry.gd$extendedProperty[k].value; } else if (entry.gd$extendedProperty[k].name == 'blogger.displayTime') { comment.displayTime = entry.gd$extendedProperty[k].value; } } } comments.push(comment); } } return comments; }; var paginator = function(callback) { if (hasMore()) { var url = config.feed + '?alt=json&v=2&orderby=published&reverse=false&max-results=50'; if (cursor) { url += '&published-min=' + new Date(cursor).toISOString(); } window.bloggercomments = function(data) { var parsed = parse(data); cursor = parsed.length < 50 ? null : parseInt(parsed[parsed.length - 1].timestamp) + 1 callback(parsed); window.bloggercomments = null; } url += '&callback=bloggercomments'; var script = document.createElement('script'); script.type = 'text/javascript'; script.src = url; document.getElementsByTagName('head')[0].appendChild(script); } }; var hasMore = function() { return !!cursor; }; var getMeta = function(key, comment) { if ('iswriter' == key) { var matches = !!comment.author && comment.author.name == config.authorName && comment.author.profileUrl == config.authorUrl; return matches ? 'true' : ''; } else if ('deletelink' == key) { return config.baseUri + '/delete-comment.g?blogID=' + config.blogId + '&postID=' + comment.id; } else if ('deleteclass' == key) { return comment.deleteclass; } return ''; }; var replybox = null; var replyUrlParts = null; var replyParent = undefined; var onReply = function(commentId, domId) { if (replybox == null) { // lazily cache replybox, and adjust to suit this style: replybox = document.getElementById('comment-editor'); if (replybox != null) { replybox.height = '250px'; replybox.style.display = 'block'; replyUrlParts = replybox.src.split('#'); } } if (replybox && (commentId !== replyParent)) { document.getElementById(domId).insertBefore(replybox, null); replybox.src = replyUrlParts[0] + (commentId ? '&parentID=' + commentId : '') + '#' + replyUrlParts[1]; replyParent = commentId; } }; var hash = (window.location.hash || '#').substring(1); var startThread, targetComment; if (/^comment-form_/.test(hash)) { startThread = hash.substring('comment-form_'.length); } else if (/^c[0-9]+$/.test(hash)) { targetComment = hash.substring(1); } // Configure commenting API: var configJso = { 'maxDepth': config.maxThreadDepth }; var provider = { 'id': config.postId, 'data': items, 'loadNext': paginator, 'hasMore': hasMore, 'getMeta': getMeta, 'onReply': onReply, 'rendered': true, 'initComment': targetComment, 'initReplyThread': startThread, 'config': configJso, 'messages': msgs }; var render = function() { if (window.goog && window.goog.comments) { var holder = document.getElementById('comment-holder'); window.goog.comments.render(holder, provider); } }; // render now, or queue to render when library loads: if (window.goog && window.goog.comments) { render(); } else { window.goog = window.goog || {}; window.goog.comments = window.goog.comments || {}; window.goog.comments.loadQueue = window.goog.comments.loadQueue || []; window.goog.comments.loadQueue.push(render); } })(); // ]]>